Islam dan Masa Depan Perekonomian

Kondisi perekonomian dunia dewasa ini berada dalam ketidakseimbangan. Tercipta gap dan kesenjangan yang luar biasa diantara negara-negara yang ada, dimana muncul ketidakadilan dan ketidakseimbangan didalam penguasaan aset-aset ekonomi dan kekayaan. Jika kondisi ini terus bertahan, maka profil masa depan perekonomian dunia tidak akan pernah menampakkan secercah harapan perbaikan. Karena itu, dibutuhkan adanya suatu perubahan paradigma yang bersifat fundamental didalam membangun perekonomian. Kondisi perekonomian dunia dewasa ini berada dalam ketidakseimbangan. Tercipta gap dan kesenjangan yang luar biasa diantara negara-negara yang ada, dimana muncul ketidakadilan dan ketidakseimbangan didalam penguasaan aset-aset ekonomi dan kekayaan. Jika kondisi ini terus bertahan, maka profil masa depan perekonomian dunia tidak akan pernah menampakkan secercah harapan perbaikan. Karena itu, dibutuhkan adanya suatu perubahan paradigma yang bersifat fundamental didalam membangun perekonomian. Ide-ide neoklasikal ekonomi menunjukkan ketidakmampuannya didalam mengatasi berbagai gelombang problematika ekonomi yang sangat dahsyat. Hal ini disebabkan antara lain : pertama, ekonomi neoklasik sebagai sebuah disiplin, tidak mampu memainkan peran aktif didalam mengarahkan perilaku manusia dalam berbagai kejadian ekonomi. Kemudian yang kedua, beberapa postulat dasar dari teori ekonomi neo klasik seperti sifat egoisme individu, free enterprise yang tanpa aturan, kemerdekaan atau kebebasan konsumen, maupun kebebasan yang bersifat absolute didalam mencari, menyimpan, maupun menginvestasikan sumberdaya ekonomi yang ada, justru menjadi instrumen-instrumen yang menciptakan permasalahan ekonomi dunia saat ini. Karena itu dibutuhkan komprehensivitas penyelesaian problematika yang ada melalui pendekatan yang tepat. Disinilah peluang sistem ekonomi Islam untuk memainkan perannya didalam membangun masa depan perekonomian yang lebih baik. Untuk itu, penulis mencoba menawarkan beberapa gagasan penyelesaian beberapa permasalahan ekonomi kontemporer melalui pendekatan ekonomi Islam dalam diskusi singkat di bawah ini. Problematika Inflasi dan Unemployment Sejak tahun 1960-an, dunia menghadapi masalah “kembar� antara inflasi dan unemployment. Pada mulanya, dipercaya bahwa keduanya memiliki hubungan yang berlawanan. Jika inflasi bisa dikendalikan di satu sisi, maka di sisi lain pengangguran akan meningkat. Tetapi pengalaman menunjukkan kenyataan yang membingungkan para ekonom. Sejauh ini belum ada resep yang berhasil mengatasi masalah ini, termasuk kebijakan manajemen defisit fiskal, incomes policy, pengendalian supply uang, manipulasi nilai tukar, dll. Hal ini dikarenakan upaya-upaya penyelesaian tersebut belum menyentuh akar permasalahan yang sebenarnya, yaitu adanya bunga pada kapital yang memperlambat investasi, sehingga mempersempit kesempatan kerja yang berakibat pada munculnya pengangguran. Sehingga untuk meyelesaikan masalah tersebut dalam pandangan ajaran Islam adalah dengan mengeliminir bunga pada kapital dalam berbagai bentuk, dan mendorong investasi meningkat hingga mencapai level yang paling maksimum. Kemudian dari sudut pandang Islam, kebijakan defisit financing tidak akan muncul menjadi kebijakan yang diinginkan, melainkan kebijakan balanced budget yang lebih mendekati etos Islam. Sehingga hal ini akan mengarahkan pada pengembangan institusi yang mampu menyediakan pendanaan bebas bunga. Begitu pula halnya dengan inflasi, dimana ajaran Islam juga memiliki concern khusus terhadap masalah itu. Pertama, penyebab utama inflasi adalah bunga itu sendiri, yang telah menjadi bagian dari biaya produksi, sehingga akhirnya menjadi bagian dari harga produk yang dijual. Poin ini tidak akan terjadi jika asumsi perfect competition benar-benar terjadi. Tetapi pada kenyataannya struktur pasar yang terjadi tidaklah bersifat persaingan sempurna, sehingga produsen mampu mempengaruhi harga produk yang dijualnya, yang secara otomatis struktur harga tersebut dipengaruhi tingkat suku bunga dan menyebabkan terjadinya inflasi. Dengan demikian, penghapusan bunga akan menurunkan tingkat harga yang ada. Kemudian yang kedua, penurunan suku bunga hingga nol persen akan mendorong peningkatan investasi dan meningkatkan supply barang dan jasa. Hal ini pun menjadi elemen yang mampu mereduksi level harga. Ketiga, zakat sebagai sebuah institusi keuangan, dioptimalkan perannya didalam memberikan bantuan dan dukungan bagi masyarakat yang membutuhkan. Bagi pemerintah, pembiayaan bagi pemenuhan kebutuhan hidup melalui zakat ini lebih baik daripada melalui deficit financing. Yang keempat, Islam mengajarkan pola hidup sederhana yang berbeda dengan pola konsumerisme ala barat, sehingga pola ini dapat pula mendorong tetap terkendalikannya inflasi. Dan yang kelima, dalam konsep Islam, sektor produksi dalam perekonomian diorganisir berdasarkan basis profit-sharing atau bagi hasil. Sehingga tenaga kerja memiliki andil dan saham dalam suatu industri. Hasilnya, kemungkinan terjadinya wage-push inflation dapat diminimumkan. Problematika Pembangunan Ekonomi Hampir seluruh negara di dunia memiliki komitmen yang kuat untuk mencapai pembangunan ekonomi. Sementara model pembangunan yang dijadikan ukuran adalah model yang dikembangkan oleh negara-negara industri maju, yang menekankan pada peningkatan stok barang fisik dan jasa bagi masyarakat secara keseluruhan, sekaligus meningkatkan bagian saham per kapita atas keseluruhan barang dan jasa. Tetapi pengalaman selama lebih dari setengah abad pembangunan, ternyata perbedaan income antara negara-negara maju dan berkembang justru semakin tinggi. Pendekatan pembangunan ala barat yang cenderung materialistis telah mendorong eksploitasi sumberdaya alam tanpa kendali, sehingga menimbulkan kerusakan alam yang mengancam pada kelangsungan hidup di masa depan. Karena itu, ajaran Islam menekankan bahwa pendekatan pembangunan tidaklah bersifat material semata, tetapi juga mengandung nilai-nilai moral didalamnya. Kemudian Islam juga menekankan pentingnya prinsip keadilan dalam ekonomi, dimana tidak boleh ada penumpukan aset dan modal di tangan segelintir kelompok saja. Sehingga perlu adanya jaminan mengalirnya kekayaan dari kelompok kaya kepada kelompok miskin. Pembangunan pun harus memperhatikan sumberdaya lokal yang ada, termasuk budaya dan tradisi sosial. Kemudian masalah lain yang sering dihadapi, terutama bagi negara-negara berkembang, adalah masalah bantuan luar negeri. Bahkan porsi bantuan luar negeri dalam skema pembangunan negara perkembang sangat signifikan. Ini merupakan akibat propaganda para ekonom Barat berdasarkan pada teori yang kini dikenal sebagai vicious circle theory. Justru bantuan luar negeri ini tidak lebih dari perangkap negara-negara maju yang berperan sebagai rentenir kelas kakap dan bertujuan untuk memaksimalkan keuntungan mereka dari sumberdaya keuangan negara-negara berkembang. Mereka memberikan pinjaman dengan sejumlah bunga yang nantinya harus dibayarkan kembali oleh negara penerima. Indonesia adalah contoh nyata negara yang terkena perangkap utang luar negeri. Karena itu, segala upaya untuk melepaskan diri dari ketergantungan bantuan luar negeri harus mendapat dukungan dan sokongan penuh seluruh komponen bangsa. Tidak pernah ada sejarahnya suatu negara maju karena utang luar negeri. Indikator Pembangunan Dalam pembangunan dewasa ini, indikator-indikator yang digunakan terkait dengan saving, struktur permodalan, GNP, pendapatan per kapita, infrastruktur yang dibangun, barang-barang yang diimpor, dll. Tetapi ternyata keseluruhan indikator ini tidak memberikan perhatian yang utuh terhadap aspek manusianya. Dalam pandangan Islam, justru fokus utama pembangunan adalah berorientasi kepada manusianya, sehingga manusia menempati posisi yang sangat sentral. Karena itu, indikator utama keberhasilan pembangunan adalah pada sejauhmana tercukupinya segala kebutuhan manusianya dalam berbagai aspek, seperti kesehatan, makanan, pakaian, tempat tinggal, pendidikan, dll. Islam sangat menekankan pemerataan pendapatan dan keadilan ekonomi bagi masyarakat secara keseluruhan. Karena seringkali terjadi bias, seperti pernah terjadi di suatu daerah di Indonesia, yang secara statistik memiliki pendapatan per kapita yang tinggi, tetapi pada saat yang sama, jumlah desa miskinnya (desa IDT) termasuk paling banyak sehingga harus diberi subsidi pemerintah. Jadi tingginya pendapatan per kapita tidak akan berarti tanpa adanya jaminan keadilan dan pemerataan pendapatan. Wallahu`alam bi ash-shawab.