Jangan Lupa Puasa Syawal

 Setelah kita melaksanakan puasa di bulan Ramadhan dan berlebaran di bulan Syawal, niatkan dalam hati bahwa kita akan melaksanakan satu amalan sunah lagi yang merupakan pelengkap ibadah Ramadhan kita, yaitu puasa syawal sebanyak 6 hari. Puasa Syawal ini sangat dianjurkan oleh Nabi Muhammad Saw, melalui riwayat dari Abu Ayub al-Anshari, bahwa Rasulullah Saw pernah bersabda, ”barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan, lalu disusul  dengan melaksanakan puasa enam hari di bulan Syawal, seakan-akan ia telah berpuasa setahun penuh”. (HR. Muslim dan Tirmidzi).

Puasa Syawal ini dapat dilaksanakan secara berturut-turut atau terpisah-pisah harinya. Yang terpenting masih masuk dalam hitungan bulan Syawal dan bukan dimulai pada tanggal 1 Syawal yang merupakan hari idul fitri. Puasa Syawal ini baru boleh dilaksanakan setelah tanggal 1 Syawal dan seterusnya, sebab berpuasa pada hari idul fitri adalah termasuk yang diharamkan.

Hikmah yang terdapat dari adanya anjuran berpuasa di bulan Syawal ini, adalah agar umat Islam senantiasa terikat dengan kesucian diri melalui puasa yang selama ini baru saja mereka lalui selama satu bulan penuh. Maka enam hari selanjutnya ibarat penguat tali ikatan ketaatan manusia kepada Allah Swt agar terus terjaga. Jika dalam hadits di atas disebutkan ibarat orang yang berpuasa setahun penuh, sebagian ulama menafsirkan, bahwa puasa Ramadhan satu bulan adalah ibarat orang yang telah berpuasa selama sepuluh bulan, sementara enam hari Syawal ibarat orang yang berpuasa selama dua bulan, maka jumlahnya genap menjadi dua belas bulan (setahun).

Bagi kita di Indonesia, bulan Syawal biasanya digunakan sebagai ajang berlebaran dan bersilaturahmi ke rumah sanak famili atau ke kerabat lainnya yang jauh. Kondisi seperti ini tentu kurang pas sekiranya kita bertamu atau menerima tamu, sedangkan kita dalam keadaan berpuasa. Sudah menjadi tradisi bahwa lebaran idul fitri di Indonesia cukup panjang waktunya, bahkan bisanya sekolah dan perkantoran pun turut libur panjang. Berbeda dengan lebaran idul adha yang waktu perayaannya tidak begitu lama.

Pemandangan ini cukup kontras dengan saudara kita yang berada di negara muslim lainnya, khususnya di Arab dan di Asia Tengah, di mana proses perayaan idul fitri lebih sebentar di banding idul adha. Sebab menurut mereka, pada saat idul adha terdapat dua peristiwa yang sama-sama besar, yaitu perayaan haji dan penyembelihan hewan kurban. Menurut mereka momen ini mereka harus rayakan secara lebih meriah dan kurun waktu yang lebih lama, dari pada idul fitri yang hanya dimulai dengan puasa.

Maka melihat fenomena ini, dalam konteks puasa syawal bagi kita yang berada di Indonesia, seyogyanya dapat memulai puasa sunahnya berdasarkan perkiraan dimana kita sudah tidak terlalu disibukkan dengan jamuan makan bersama.  Sebab walau bagaimanapun, menghargai tamu yang datang atau tuan rumah yang menyediakan makanan adalah sebuah kewajiban. Sedangkan amalan puasa Syawal hanyalah sunah, sesuatu yang wajib tentunya harus diutamakan dari yang sunah.

Niat puasa syawal, seperti halnya puasa-puasa sunah lainnya dapat dilafalkan dalam hati dan dengan bahasa Indonesia. Namun waktu niat bisa dimulai pada siang hari (tidak seperti puasa Ramadhan di malam hari), asalkan sebelumya tidak ada makanan dan minuman yang masuk ke perutnya, atau belum berhubungan suami istri. Sebagaimana diterangkan bahwa Rasulullah Saw suatu ketika pernah datang di siang hari kepada Siti Aisyah RA, dan bertanya tentang persediaan makanan di dapur, namun ternyata sudah habis, maka pada saat itu Rasulullah Saw meniatkan diri untuk berpuasa.

Dan sementara bagi orang yang telah berniat puasa syawal, namun tiba-tiba di siang harinya mendapat undangan jamuan makanan, baginya tidak mengapa untuk membatalkan niat puasanya, dan datang ke undangan jamuan tersebut. Yang terpenting hitungan tanggal di bulan Syawal masih tersisa baginya untuk berpuasa sunah.

Insya Allah dengan mengamalkan puasa sunah yang diajarkan Rasulullah Saw, akan terlihat manfaat dan keutamaannya dalam diri kita. Mengingat beragamnya puasa sunah yang dianjurkan kepada kita, semua ini menggambarkan betapa di dalam puasa benar-benar terdapat manfaat baik di dunia dan akherat kelak. Sungguh tepat apa yang disabdakan oleh Rasulullah Saw, bahwa orang yang berpuasa akan mendapatkan kebahagiaan dua kali, pertama ketika ia berbuka, dan kedua ketika ia bertemu dengan Sang Khaliq di hari pembalasan kelak. Semoga kita termasuk orang-orang yang senang dan mendapatkan manfaat berpuasa tersebut.

BAGIKAN
Berita sebelumyaEtika Merayakan Iedul Fitri