Kajian Hadith: Senantiasa Menjaga Tawhid

أ?أ®أ?أ±أ®أ‹أ®أ¦أ®أ‡ أ¥أ¯أ?أ®أ¥أ±أ®أ?أ¯ أˆأ²أ¦أ¯ أ‘أ®أ‡أ،أ°أ™أ­ أ?أ®أ?أ±أ®أ‹أ®أ¦أ®أ‡ أƒأ®أˆأ¯أ¨ أ?أ®أ‡أ¨أ¯أ?أ® أ™أ®أ¦أ² أ¥أ¯أˆأ®أ‡أ‘أ®أ£أ° أˆأ²أ¦أ° أ،أ®أ–أ®أ‡أ¤أ®أ‰أ® أ™أ®أ¦أ² أ™أ¯أˆأ®أھأ²أ?أ° أ‡أ¤أ¤أ±أ®أ§أ° أˆأ²أ¦أ° أƒأ®أˆأ°أھ أˆأ®أ£أ²أ‘أ° أˆأ²أ¦أ° أƒأ®أ¦أ®أ“أ­ أ™أ®أ¦أ² أƒأ®أ¦أ®أ“أ­ أ™أ®أ¦أ² أ‡أ¤أ¦أ±أ®أˆأ°أھأ±أ° أ•أ®أ¤أ±أ®أ© أ‡أ¤أ¤أ±أ®أ§أ¯ أ™أ®أ¤أ®أھأ²أ§أ° أ¨أ®أ“أ®أ¤أ±أ®أ¥أ® أ¢أ®أ‡أ¤أ® :"… أھأ®أ¢أ¯أ¨أ¤أ¯ أ‡أ¤أ¤أ±أ®أ§أ¯ أƒأ®أژأ²أ‘أ°أŒأ¯أ¨أ‡ أ¥أ°أ¦أ² أ‡أ¤أ¦أ±أ®أ‡أ‘أ° أ¥أ®أ¦أ² أ?أ®أ£أ®أ‘أ®أ¦أ°أھ أھأ®أ¨أ²أ¥أ«أ‡ أƒأ®أ¨أ² أژأ®أ‡أ،أ®أ¦أ°أھ أ،أ°أھ أ¥أ®أ¢أ®أ‡أ¥أ­. . .". أ¢أ®أ‡أ¤أ® أ§أ®أ?أ®أ‡ أ?أ®أ?أ°أھأ‹أ¬ أ?أ®أ“أ®أ¦أ¬ أڑأ®أ‘أ°أھأˆأ¬

Senantiasa Menjaga Tawhأ®d
Oleh : M. Luthfi Thomafi

أ?أ®أ?أ±أ®أ‹أ®أ¦أ®أ‡ أ¥أ¯أ?أ®أ¥أ±أ®أ?أ¯ أˆأ²أ¦أ¯ أ‘أ®أ‡أ،أ°أ™أ­ أ?أ®أ?أ±أ®أ‹أ®أ¦أ®أ‡ أƒأ®أˆأ¯أ¨ أ?أ®أ‡أ¨أ¯أ?أ® أ™أ®أ¦أ² أ¥أ¯أˆأ®أ‡أ‘أ®أ£أ° أˆأ²أ¦أ° أ،أ®أ–أ®أ‡أ¤أ®أ‰أ® أ™أ®أ¦أ² أ™أ¯أˆأ®أھأ²أ?أ° أ‡أ¤أ¤أ±أ®أ§أ° أˆأ²أ¦أ° أƒأ®أˆأ°أھ أˆأ®أ£أ²أ‘أ° أˆأ²أ¦أ° أƒأ®أ¦أ®أ“أ­ أ™أ®أ¦أ² أƒأ®أ¦أ®أ“أ­ أ™أ®أ¦أ² أ‡أ¤أ¦أ±أ®أˆأ°أھأ±أ° أ•أ®أ¤أ±أ®أ© أ‡أ¤أ¤أ±أ®أ§أ¯ أ™أ®أ¤أ®أھأ²أ§أ° أ¨أ®أ“أ®أ¤أ±أ®أ¥أ® أ¢أ®أ‡أ¤أ® :"… أھأ®أ¢أ¯أ¨أ¤أ¯ أ‡أ¤أ¤أ±أ®أ§أ¯ أƒأ®أژأ²أ‘أ°أŒأ¯أ¨أ‡ أ¥أ°أ¦أ² أ‡أ¤أ¦أ±أ®أ‡أ‘أ° أ¥أ®أ¦أ² أ?أ®أ£أ®أ‘أ®أ¦أ°أھ أھأ®أ¨أ²أ¥أ«أ‡ أƒأ®أ¨أ² أژأ®أ‡أ،أ®أ¦أ°أھ أ،أ°أھ أ¥أ®أ¢أ®أ‡أ¥أ­. . .". أ¢أ®أ‡أ¤أ® أ§أ®أ?أ®أ‡ أ?أ®أ?أ°أھأ‹أ¬ أ?أ®أ“أ®أ¦أ¬ أڑأ®أ‘أ°أھأˆأ¬

Akhriju minan-nأ¢ri man dzakara-nأ® yawman aw khأ¢fa-nأ® fأ® maqأ¢min…â€?.
T e r j e m a h :
Diriwayatkan dari Muhammad ibn Rafi’, dari Abأ» Dأ¢wأ»d, dari Mubأ¢rok ibn Fadhأ¢lah, dari Ubaydillأ¢h ibn Abأ® Bakr ibn Anas, dari Anas, dari Nabi Muhammad saw, bersabda, “Allah berfirman : Keluarkanlah dari neraka, orang yang (pernah) mengingat-Ku (walaupun) sesaat, atau takut kepada-Ku pada satu momen (tertentu)â€?.
Hadits di atas diriwayatkan hanya oleh Imam At-Tirmidzi dalam kitab kumpulan Hadits beliau, Sunan At-Tirmidzi. Hadits tersebut masuk dalam kategori Hadits Qudsy, yaitu Hadits yang diriwayatkan oleh Nabi Muhammad saw dari Tuhan, tetapi status lafaz dan kalimatnya tidak sama dengan status al-Qur’an. Hadits Qudsy, biasanya, dicirikan dalam periwayatan Nabi saw dengan kata-kata “…Allah berfirman …�, atau yang semakna dengannya. Kebanyakan Hadits Qudsy berbicara tentang hal-hal spiritual dan tauhid (monotheis), serta hal-hal seputar Hari Akhir.
***
S a n a d
Sanad adalah transmisi orang-orang yang meriwayatkan sebuah Hadits. Sanad Hadits tersebut terdiri dari 5 generasi (thabaqأ¢t). Berikut ini penjelasan transmisi itu :
1. Anas. Yakni Anas ibn Mأ¢lik, salah satu sahabat Nabi saw. Sebutan beliau adalah Abأ» Hamzah, bermukim di Basrah. Wafat tahun 91 H.
2. Ubaydillأ¢h ibn Abأ® Bakr ibn Anas, alias cucunya Anas ibn Mأ¢lik. Termasuk generasi Tأ¢bi’أ®n, yaitu generasi setelah sahabat Nabi saw. Sebutan beliau adalah Abأ» Mu’أ¢dz, bermukim di Basrah.
3. Mubarok ibn Fadhأ¢lah. Adalah generasi Tabi’it-Tأ¢bi’أ®n, yakni generasi setelah Tأ¢bi’أ®n. Sebutan beliau adalah Abأ» Fadhأ¢lah, bermukim di Basrah.Wafat tahun 166 H.
4. Abأ» Dأ¢wأ»d. Nama aslinya adalah Sulaymأ¢n ibn Dأ¢wأ»d ibn Al-Jأ¢rأ»d. Wafat tahun 204 H, di Basrah. Menempati generasi Tأ¢bi’ul-Atbأ¢â€™, yakni generasi setelah Tabi’it-Tأ¢bi’أ®n.
5. Muhammad ibn Rأ´fi’, Syaikhul-Mushonnif atau guru pengumpul kitab Hadits, Imam At-Tirmidzi. Sebutan beliau adalah Abأ» Abdullأ¢h, wafat tahun 245 H.
Periwayatan yang ada dalam Hadits dilakukan dalam sistem berguru. Dengan demikian, urutan silsilah dari sisi perguruan adalah sebagai berikut : Imam At-Tirmidzi berguru kepada Muhammad ibn Rأ´fi’, Muhammad ibn Rأ´fi’ berguru kepada Abأ» Dأ¢wأ»d, Abأ» Dأ¢wأ»d berguru kepada Mubarok ibn Fadhأ¢lah, Mubarok ibn Fadhأ¢lah berguru kepada Ubaydillأ¢h ibn Abأ® Bakr ibn Anas, Ubaydillأ¢h ibn Abأ® Bakr ibn Anas berguru kepada Anas ibn Mأ¢lik, dan Anas ibn Mأ¢lik mendapatkan Hadits itu dari Kanjeng Nabi Muhammad saw. Tradisi berguru dan menghapalkan sebuah riwayat—tidak harus hadits Nabi saw—adalah satu-satunya tradisi di dunia yang hanya dimiliki oleh orang Arab. Maka, ketika Islam menjadi agama mayoritas orang Arab, Islam pun berkembang menjadi melalui tradisi-tradisi yang dimiliki oleh orang Arab itu.
Orang-orang yang ada dalam transmisi periwayatan Hadits di atas, dalam Mustholah Hadits—yakni kajian ilmu yang mendalami hal-hal berkenaan dengan Hadits Nabi saw, disebut sebagai Rأ¢wأ®. Rأ¢wأ® secara etimologis berarti orang yang meriwayatkan. Bentuk pluralnya adalah ruwأ¢t. Sebagaimana telah penulis terangkan di atas, ada klasifikasi-klasifikasi yang disebut dengan thabaqأ¢t ar-ruwأ¢t (generasi para rawi), yaitu sebagai berikut :
=> Nabi Muhammad saw
1. Sahabat
2. Tأ¢bi’أ®n
3. Tabi’it-Tأ¢bi’أ®n
4. Tأ¢bi’ul-Atbأ¢â€™
=> Syaikhul-Mushonnif
Jumlah generasi dari Syaikhul-Mushonnif sampai kepada Nabi saw tak mesti 4, melainkan melihat silsilah periwayatannya. Maka sebutannya pun bisa bertambah, dan yang demikian itu tidak masalah karena hal tersebut hanya persoalan istilah generasi saja.
***
M a t a n
Matan adalah substansi, yakni substansi atau materi Hadits. Kalimat yang penulis garis bawahi pada Hadits di atas, atau yang dicetak miring dalam terjemahannya, adalah matan Hadits.
Hadits di atas berbicara tentang urgensi memegang teguh keimanan–dalam hal ini tauhid atau monotheisme. Hadits tersebut mengingatkan betapa mengingat atau berzikir atas tauhid sedikit banyak akan membawa dan memiliki dampak yang positif bagi kehidupan manusia di Hari Akhir. Setidaknya ada empat tema yang bisa diringkas dari Hadits di atas, yaitu
(1) takut kepada Allah swt yang terimplementasikan ke dalam bentuk-bentuk adab atau moral yang positif. (2) Keutamaan berzikir kepada-Nya,
(3) Amalan-amalan yang dapat menyelamatkan kita dari api neraka, serta
(4) keluarnya seluruh kaum monotheis dari api neraka.
Namun, sudah tentu bahwa keimanan dalam bentuk sikap tauhid yang dimaksud atau dipersyaratkan tidak begitu saja disampaikan secara oral alias hanya keluar di mulut. Sebab, kalau hanya keluar dari mulut, maka orang-orang yang hari ini ingkar kepada eksistensi Tuhan pun bisa melakukannya. Maka dari itu, sudah barang tentu jika adanya keimanan tersebut mesti diwujudkan dari bentuk keikhlasan dan pengakuan kepasrahan yang keduanya timbul dari hati manusia. Hal ini sama persis dengan apa yang disabdakan oleh Nabi saw;
Man qأ¢la Lأ¢-ilأ¢ha illallأ¢h khأ´lishon min qalbihi dakhala al-Jannah. T e r j e m a h : Barang siapa mengucapkan Lأ¢-ilأ¢ha illallأ¢h secara ikhlas dari lubuk hatinya, maka dia masuk surga.
Muncul pertanyaan dalam benak kita, apakah hanya cukup dengan membaca Lأ¢-ilأ¢ha illallأ¢h seseorang bisa masuk sorga? Jawabnya adalah bahwa maksud Hadits tersebut tentu bukan seperti yang ada dalam pertanyaan tadi. Hadits tersebut hanya memberikan jaminan bahwa kalimat Lأ¢-ilأ¢ha illallأ¢h yang diucapkan melalui hati yang ikhlas dan dengan pemaknaan serta pemahaman yang tepat, maka ucapan-ucapan tersebut bisa menjadi pertimbangan penting bagi amaliah-amaliah manusia selama di dunia pada Hari Akhir nanti. Selain itu, yang juga perlu dipahami, seorang muslim pun tidak bisa memahami Hadits secara sepotong-potong. Misalnya, dari Hadits di atas memahami bahwa cukup dengan i-n-g-a-t maka seseorang telah mendapatkan tiket sorga, atau cukup dengan m-e-n-g-u-c-a-p-k-a-n kalimat Lأ¢-ilأ¢ha illallأ¢h, telah mendapatkan jatah tempat di Hari Akhir.
Pemahaman serupa bisa juga demikian : salah satu Hadits Nabi saw adalah sebagai berikut, barang siapa beriman kepada Hari Akhir, maka hendaknya memuliakan tetangganya. Tidak bisa kita memahami Hadits tersebut dengan prinsip : cukup dengan menghormati tetangga, maka kita telah termasuk sebagai orang yang beriman. Namun, pemahaman yang ideal adalah bahwa menghormati tetangga adalah bagian atau salah satu ciri orang yang beriman.
Pemahaman yang sepotong-potong tersebut dapat menimbulkan pemaknaan yang keluar dari maksud-maksud diturunkannya agama Islam. Dari sini kita semakin bisa menyadari bahwasanya dalam memahami nilai-nilai yang diberikan oleh Islam, kita mesti mempelajarinya secara menyeluruh.