Kapan dimulainya Imsak ?

Dr. Abdul Ghofur Maimoen*
Kapan dimulainya imsak? yaitu waktu dimana seorang yang berpuasa mulai menghindari makan dan minum serta hal-hal yang dilarang dilakukan saat berpuasa.

Firman Allah:
“Dihalalkan bagi kamu pada malam hari puasa mengumpuli isteri-isteri
kamu, mereka itu adalah pakaian, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka.
Allah mengetahui bahwasannya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu
Allah mengampuni kamu dan memberi maaf kepadamu. Maka sekarang campurilah
mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan
minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar.
Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai malam, (tetapi) janganlah kamu
campuri mereka itu, sedang kamu beri’tikaf dalam mesjid. Itulah larangan
Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan
ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertaqwa”. (QS. 2:187).
HR. Bukhari:

Dari Sahl bin Sa’d, ia mengatakan: “diturunkan oleh Allah ayat ” .. dan
makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam” dan belum
diturunkan kalimat “yaitu fajar [minal fajr]”, maka masyarakat kalau ingin
melaksanakan puasa, salah satu diantara mereka mengaitkan benang putih dan
benang hitam, dan mereka meneruskan makan hingga terang bagi mereka
keduanya. Lalu Allah menurunkan kalimat “minal fajr, yaitu fajar”, maka
mereka tahu, bahwa yang dimaksud adalah malam dan siang.

HR. Turmudzi:

Dari Samurah bin Jundub ra, ia mengatakan: RasululLah SAW mengatakan:
Janganlah adzan Bilal menghentikan sahur kalian, dan juga fajar yang memanjang,
akan tetapi [yang menghentikan adalah] fajar yang menyebar di ufuk.

HR. Bukhari:

Dari Abdullah bin Mas’ud, dari Nabi SAW, ia mengatakan: Janganlah adzan
Bilal mencegah salah satu di antara kalian dari makan sahurnya , karena ia
mengumandangkan adzan di tengah malam, untuk mengingatkan di antara kalian
yang bangun dan untuk membangunkan di antara kalian yang tidur.

HR. Bukhari:

Dari ‘Aisyah ra, dari Nabi SAW, ia mengatakan: “Sesungguhnya Bilal
mengumandangkan adzan di malam hari, maka makan dan minumlah, hingga Ibn
Ummi Maktum mengumandangkan adzan.
Dari nash-nash di atas, ada beberapa kesimpulan sebagai berikut:

[1] Waktu berakhirnya sahur [mulai berpuasa] adalah terbitnya fajar yang
menyebar di ufuk, yang dalam fikih disebut sebagai “fajar shadiq”, bukan
fajar yang memanjang vertikal, yang dalam fikih dinamai “fajar kadzib”.

Fajar kadzib adalah terangnya ufuk secara vertikal, yang beberapa menit
kemudian diikuti oleh kegelapan kembali. Sementara fajar shadiq adalah fajar
yang semakin lama semakin terang hingga matahari terbit.

[2] Sebelum turun kalimat “minal fajr, [yaitu fajar]”, sebagian sahabat ada
yang mengira, bahwa yang dimaksud dari ayat di muka adalah terangnya pagi
hingga tampak jelas perbedaan antara benang putih dan benang hitam. Baru
setelah turunnya kalimat tsb, mereka mengerti bahwa yang dimaksud adalah
terbitnya fajar. Jadi sejak terbitnya fajar, puasa telah dimulai.

[3] Pada masa Nabi SAW, ada dua adzan yang dikumandangkan di pagi buta.
Pertama adzannya Bilal ra. sebelum terbit fajar, untuk membangunkan mereka
yang tidur, dan untuk mengingatkan mereka yang telah bangun akan dekatnya
fajar. Karena itu, Nabi memberitahukan kepada para sahabat, bahwa adzan
Bilal tidak untuk mengumandangkan datangnya subuh atau terbitnya fajar, dus,
tidak merupakan peringatan mulainya berpuasa. “Janganlah adzan Bilal menghentikan sahur kalian”.

Adzan kedua adalah adzannya Ibnu Ummi Maktum, yang dikumandangkan saat
terbitnya fajar. Dan ini adalah saat dimulainya berpuasa.

[4] Fajar kadzib dan fajar shadiq adalah fenomena alam seperti halnya
terbitnya mega merah di ufuk barat [pertanda waktu Maghrib], condongnya
matahari ke barat [pertanda waktu Dzuhur], dan gejala-gejala alam lainnya.
Gejala-gejala alam ini, sejak lama sekali telah dapat diketahui melalui ilmu
falak [astronomi], sehingga untuk mengetahuinya tidak perlu melalui
pengamatan alam secara langsung. Fajar misalnya, untuk mengetahuinya tidak
perlu kita keluar ke alam bebas, kemudian mengamatinya dengan mata
telanjang, akan tetapi cukup dengan memanfaatkan kemajuan di bidang
astronomi.

Karena itu, penentuan waktu salat kita, dan juga waktu imsak puasa kita,
selama ini secara keseluruhan memakai standar ilmu falak, bukan melalui
pengamatan alam secara langsung. Dan pada kenyataannya, penentuan ini lebih
akurat dan lebih bisa dipertanggungjawabkan ketimbang pengamatan secara
langsung tsb.

[5] Ilmu Falak yang banyak berkembang di bidang penanggalan kita masih bersifat
“taqdiry”, atau bersifat perkiraan, belum mampu menetapkan waktu dengan
keakuratan 100 %. Masih terdapat keragu-raguan sekitar satu hingga dua
menitan dari waku faktualnya. Karena itu, dalam penanggalan yang banyak
berkembang di negara kita, terdapat waktu “ihtiyath”, waktu preventif atau
jaga-jaga. Misalnya, waktu dzuhur: sesuai dengan ketentuan ilmu falak yang
ada, adalah pukul 12:00. Akan tetapi karena keakuratannya belum mampu mancapai 100 %, maka dalam penanggalan ditambahi lima menit. Jadi yang tercatat dalam penanggalan adalah 12:05, dengan asumsi ada waktu preventif 5 menit. Begitu pula waktu-waktu salat lainnya, ada penambahan antara tiga hingga lima menit dalam catatan di penanggalan.
[6] Dengan asumsi waktu preventif 5 menit, maka waktu subuh [terbitnya
fajar] yang mestinya jatuh pada pukul 4:30 [misalnya], menjadi jatuh pada pukul
4:35 dalam pencatatan di penanggalan. Waktu yang sama, yakni terbitnya
fajar, jika digunakan untuk menentukan mulainya berpuasa, maka akan terjadi
pengajuan pukul, dari pukul 4:30 menjadi 4:20, dengan asumsi waktu preventif
imsak 10 menit. Kalau waktu preventifnya adalah lima menit, maka waktu imsak
sebagaimana dalam penanggalan adalah 4:25.

Dengan menghitung dua waktu preventif sekaligus, yakni preventif subuh dan
preventif imsak, maka bisa dimengerti kalau jarak antara waktu imsak dan
adzan subuh adalah 10 hingga 15 menit. Secara teoritik, mestinya waktu subuh
dan waktu imsak adalah sama, yakni terbitnya fajar shadiq, akan tetapi dalam
kenyataan yang tertulis dalam penanggalan bisa terpaut antara 10 hingga 15
menit.

Dengan melihat keterangan-keteranan ini, sebaiknya dalam berimsak mengikuti
penanggalan yang ada. Akan tetapi jika terpaksa, bisa saja meneruskan makan
dan minum hingga mendekati adzan subuh sekitar 5 menit.

Demikian, semoga membantu.