Keabsahan Hadis, Bahasa Arab dan Arah Kiblat

Tanya:

Syukur alhamdulilah, saya dapat menemukan tempat untuk bertanya mengenai agama yang saya anut "secara warisan" dari orang tua saya, yang tepat dan dapat dipertanggung jawabkan, apalagi para Ustadz dalam menjawab memberikan suasana hati yang "adem" sehingga para penanya memperoleh kepuasan hati sepenuhnya.

Secara statistik, dalam KTP saya beragama Islam, dan saya mencoba meningkatkan iman saya ini, dengan membaca buku-buku rohani, publikasi Muslim, internet dan mengamati perilaku orang lain yang beragama Islam dan lainnya. Mungkin disebabkan oleh lingkungan dan pendidikan saya serta cara pikir saya, maka saya juga mengadakan evaluasi tersendiri terhadap agama:

Agama yang baik, ditentukan oleh : (1) Nabinya (2) Kitab Sucinya (3) Perilaku umatnya.

Dalam evaluasi ini, timbul pertanyaan-pertanyaan yang akan saya sampaikan kepada pak Ustadz, secara bertahap, jadi mohon Bapak tidak menjadi bosan dan tidak menjadi kapok atas pertanyaan saya yang mungkin "naif", atau bisa juga "terlalu kritis"

Kali ini saya mengajukan 3 pertanyaan, (lain kali akan saya sambung dengan pertanyaan yang lain), sebagai berikut :

  1. Mengapa sebagai umat Muslim, memegang al-Qur'an (AQ) dan hadisd Nabi saw (HN)sebagai pegangan hidup. Kalau AQ saya dapat menerimanya, karena diterima oleh Rasullulah saw langsung didiktekan oleh Jibril, atau dari Allah swt sendiri. Tetapi HN adalah sikap, perilaku, dan ucapan Rasul yang tidak tercatat langsung sehingga bisa timbul hadis shahih dan hadis palsu. Apalagi Rasullulah SAW adalah manusia juga, oleh karena itu bisa saja salah. Mengapa?
  2. Mengapa sebagai umat Muslim, saya harus mendirikan sholat dalam bahasa Arab. Sedangkan Rasullulah saw, bukan untuk orang Arab saja, tetapi untuk semua bangsa, termasuk milik saya juga. Berdoa dalam bahasa yang bukan bahasa ibu, menimbulkan perasaan "hafalan" saja, karena walaupun diucapkan, tetap tidak bisa dimengerti sepenuhnya, jadi tidak bisa "khusuk".

    Apakah Allah swt hanya menerima doa dalam bahasa Arab? Apakah perintah Rasullulah SAW mengenai hal ini shahih? Apakah tidak ada latar belakang politis/ekonomi/ budaya, mengingat Rasullulah saw itu bukan hanya Nabi saja, tetapi juga "raja negara Islam" (dalam website dari Malaysia, sering disebut "baginda")

  3. Mengapa sebagai umat Muslim, kalau sholat harus menghadap Ka'bah di Mekkah? Misalnya pada tahun 2500, manusia sudah mendarat di bulan atau planet lain dan bertempat tinggal di sana (tidak berstatus musafir lagi), sebagai seorang Muslim, harus berkiblat kemana?

Sementara sekian dulu pertanyaan, untuk menambah keimanan saya ini.

Terima kasih banyak.

H. Supeno

Jawab:

Bpk. H. Supeno.

  1. Sumber hukum agama Islam adalah al-Qur'an, hadist Nabi saw, Konsensus Ulama Islam (ijma'), dan Analogi Hukum dan Kemaslahatan (qiyaas). Hadist didefinisikan sebagai semua perkataan dan perbuatan Nabi. Mengapa hadist juga menjadi rujukan hukum, karena al-Qur'an memerintahkan demikian.

    Di antara ayat-ayat al-Qur'an yang memerintahkan umat Islam mengikuti perbuatan Nabi, dan mengambil suri tauladan dari Nabi adalah, ayat ke-7 surat al-Hasyr. "Apa-apa yang dibawa kepadamu oleh Rasul, maka ambillah dan apa-apa yang dilarang olehnya, maka tinggalkanlah".

    Maka jelas mengapa umat Muslim berpegang pada Hadist, adalah karena memang diperintahkan oleh al-Qur'an.

    Dalam sejarahnya, umat Islam (generasi setelah Nabi), kerepotan untuk mengumpulkan petuah, perkataan dan perbuatan Nabi, karena tidak semua orang pada masa itu, hidup bersama Nabi secara terus menerus. Maka timbullah gagasan untuk mengkodifikasi perkataan dan perbuatan Nabi tersebut, yang kemudian diistilahkan sebagai hadist Nabi.

    Proses kodifikasi hadist bukanlah pekerjaan mudah, karena harus mengumpulkannya dari berbagai sumber, sementara karena pergolakan politik dan ideologi masa paska Nabi dan Khalifah, banyak memunculkan hadist-hadist yang dipalsukan, demi mendukung kepentingan golongan tertentu pada saat itu. Namun para ulama Islam masa itu tidak putus asa berusaha mengumpulkan hadist-hadist yang memang benar berasal dari Nabi, yaitu dengan meneliti secara ketat sumber-sumber yang membawanya, dan dari sini, terciptalah klasifikasi hadist shahih, hasan, dan dla'if (atau lemah) dan bahkan maudlu' (palsu).

    Pada tahap berikutnya, hadist-hadist yang berhasil dikumpulkan, dikodifikasi dalam kitab-kitab hadist, yang selanjutnya oleh ulama dijadikan pijakan paten dalam pengambilan hukum. kitab-kitab tersebut adalah, (1) Bukhari (2) Muslim (3) Abu Dawud (4) Turmudzi (5) Ibnu Majah (6) Ibnu Hibban (7) Musnad Imam Ahmad (8) Muwatta' Imam Malik
    ***

    Kemanusiaan Nabi memang tidak tidak bisa dipungkiri, tapi kenabian Muhammad telah membedakannya dari kemanusiaan yang lain. Seperti dalam masalah perkataan dan perbuatan Nabi, belum tentu semuanya bersumber dari aspek kemanusiaannya, namun terkadang juga bersumber dari wahyu. Seperti ditegaskan ayat ke 2-5, surah an-Najm. "Kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak keliru." (QS. 53:2) "Dan tiadalah yang diucapkannya itu (al-Qur'an) menurut kemauan hawa nafsunya." (QS. 53:3) Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)." (QS. 53:4) "Yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat. (QS.53:5)

    Karena kenabian Muhammad juga lah yang menyebabkannya selalu diluruskan oleh wahyu manakala membuat kesalahan. Dan yang lebih penting lagi, jika kita mempermasalahkan kemungkinan Nabi salah, bagaimana dengan kemungkinan Beliau menyampaikan atau membacakan al-Qur'an dengan salah, tentu kedua kemungkinan tersebut sama. Disinilah harus dikembalikan kepada keimanan dan kepercayaan kita.

  2. Salat adalah Ibadah/ritual murni dalam Islam. Konsep ibadah murni dalam Islam adalah doktrinal, artinya harus mengikuti petunjuk dalil. Tidak boleh kita menciptakan Ibadah murni dengan cara kita sendiri, namun harus mengikuti ajaran dan aturan yang diberikan Allah. Nabi Muhammad pernah bersabda dalam sebuah hadist "Salatlah sebagaimana sholatku". Berarti di sinilah kita harus mengikuti tatacara sholat Nabi.

    Namun demikian, yang diwajibkan berbahasa Arab, khususnya, adalah bacaan al-Fatihah dan surah al-Qur'an dalam salat, karena tidaklah sama secara hukum, membaca al-Qur'an dan membaca terjemahannya.

    Adapun bacaan-bacaan lain, mayoritas ulama juga mengatakan wajib menggunakan bahasa Arab, kecuali kalau tidak mampu atau tidak hafal. Hanya Imam Hanafi mengatakan, sah saja shalat orang yang tidak menggunakan bahasa Arab.

    Mengenai do'a dengan bahasa Arab. Ada do'a-do'a yang memang diajarkan langsung oleh Nabi, seperti do'a yang dibaca antara Rukun Yamani dan Hajar Aswad ketika sedang Thawaf. Do'a-do'a yang pernah diajarkan Nabi, atau pernah dilakukan Nabi, disebut "Do'a Ma'tsur". Do'a ini akan lebih afdhol mengucapkannya sesuai redaksi Nabi, karena ini setingkat dengan zikir-zikir yang diajarkan Nabi, seperti membaca "Laailaaha illallah" dsb. Namun do'a yang tidak diajarkan Nabi, seperti do'a-do'a personal yang berisi permintaan kita kepada Allah, tentu ini tidak harus berbahasa Arab.

  3. Menghadap kiblat sewaktu shalat adalah perintah al-Qur'an. Seperti ditegaskan ayat ke-144 surah al-Baqarah. Tidak sah shalat seseorang yang dengan sengaja dan sadar tidak menghadap kiblat, kecuali kalau ia dalam keadaan berkendaraan atau karena uzur. Seandainya manusia sampai ke bulan, cara menghadap kiblatnya ya semampunya. Nabi pernah bersabda "Apabila kamu sekalian diperintah dengan suatu ajaran, maka laksanakanlah semampumu, namun apabila kamu dilarang dari suatu perbuatan, maka tinggalkanlah ia sepenuhnya".

    Namun yang lebih penting kita yakini, bahwa Allah swt tidak berada di arah kiblat, hanya shalat kita yang harus menghadap kiblat. Dimanapun kita berada, Allah swt senantiasa menyertai kita.

Wallahu A'lam

Muhammad Niam