Khulu'

Tanya:

Pengasuh Pesantren Virtual yang terhormat,
Kiranya pengasuh dapat memberikan penjelasan atas masalah yang saya alami saat ini.

Saya menikah dengan muslim warga negara Amerika (ia masuk Islam 6 tahun sebelum menikahi saya). Sebelumnya, saya mengenalnya hanya melalui internet dan telepon. Saat itu, dia mengaku sebagai muslim yang baik, sholat 5 waktu dan bertanggung jawab. Perbedaan negara dan jarak yang cukup jauh membuat kami baru bertemu muka pertama kali sehari sebelum akad nikah. Kami dinikahkan secara Islam oleh Imam Masjid di New York dan yang menjadi wali saya adalah kakak laki-laki tertua.

Permasalahannya, seminggu setelah menikah saya baru mengetahui jika suami mempunyai masalah secara psikologis, yakni panic desorder atau social anxiety dan selama delapan tahun di bawah pengobatan psikolog dan obat penenang. Karena penderitaannya itu dia tidak mampu bekerja dan hanya mendapatkan penghasilan dari welfare pemerintah yang sangat minim. Padahal sebelum menikah dia mengaku bekerja sebagai salesman di dealer mobil.

Ketidakstabilan emosional suami ini menjadi masalah tersendiri bagi saya. Sebab, pada saat-saat tertentu dia tidak bisa mengontrol emosinya dan berlaku kasar, seperti melempar barang, memukul bahkan menggunakan pisau. Selain itu, karena tidak bekerja, sehari-hari ia hanya on-line dan menjalin hubungan dengan wanita lain, bahkan melamarnya. Ketika saya menyatakan keberatan, dia menegaskan tidak akan menceraikan saya sebelum "pacarnya" siap dikawini.

Sebenarnya lebih dari sekali dia memberikan talak dalam keadaan marah (emosinya tidak stabil). Namun, ketika saya akan meninggalkan rumah, ia mengatakan talaknya tidak sah karena (ketika menyatakan talak) dia dalam kondisi marah dan tidak ada saksi. Sampai saat saya hamil dan bayi saya berusia dua bulan pun, ia masih sering bertindak kasar. Saya berusaha bersabar mengingat anak kami butuh orang tua. Bahkan ketika dia marah dan melempar pisau yang melukai lengan saya, saya masih berusaha bersabar.

Kejadian terakhir membuat saya menelepon polisi dan minta perlindungan keluar dari rumah untuk kembali ke rumah kakak saya. Saat ini perkaranya ditangani polisi. Pengadilan memutuskan bahwa dia tidak boleh menemui saya dan anak kami sampai waktu yang akan ditentukan kemudian.

Saat ini telah enam bulan lewat, dia tidak memberikan nafkah lahir maupun batin. Namun, ia tetap menolak menceraikan saya. Untuk ini, saya kebingungan bagaimana saya bisa dibebaskan dari perkawinan sah secara hukum Islam.
Mohon kiranya pengasuh memberikan penjelasan. Untuk itu, saya ucapkan beribu terima kasih.

Aminah – Jawa Barat

Jawab:

Pada prinsipnya, dalam agama Islam, pernikahan itu disyariatkan untuk menjaga kedamaian dan ketentraman, di samping juga untuk tujuan berketurunan. Oleh karena itu jika ternyata dengan perkawinan itu pasangan merasa terikat dan sengsara, dan sudah tak ditemukan cara lain yang lebih bijak kecuali berpisah, maka dalam keadaan demikian sudah sebaiknya pernikahan itu diakhiri. Termasuk keadaan yang menimpa Anda tersebut.

Kendati, sesuai ajaran Islam, hak cerai itu ada di tangan suami, dalam keadaan seperti itu Anda bisa mengajukan gugatan cerai juga. Gugatan cerai ini dalam hukum Islam dikenal dengan sebutan "khulu'". Khulu' adalah "penghapusan ikatan pernikahan" dengan adanya pengganti dari pihak istri. Yang dimaksud dengan pengganti (badal, 'iwadh) adalah harta, baik berupa uang atau benda-benda berharga. Harta itu dimaksudkan sebagai ganti rugi, karena nikah semacam akad jual-beli: suami Anda "membeli" Anda dengan mahar, maka ketika Anda minta khulu' Anda wajib memberikan ganti rugi, sesuai kesepakatan kedua belah pihak. Kalau sampai suami Anda masih sewenang-wenang dalam mencapai kesepakatan tentang ganti rugi tersebut, maka anda berhak melaporkan ke hakim agar memberikan putusan ganti rugi yang wajar. Namun demikian, bila hukum positif di New York menyatakan hakim tidak mewajibkan adanya ganti rugi, khulu' tetap sah dan jatuh (sesuai madzhab Malikiyah).

Khulu' disyariatkan, di antaranya, guna menghindari kesewenang-wenangan suami. Dalam keadaan yang Anda alami itu, Anda bisa menuntut khulu' kepada suami. Jika suami tak menyetujui, Anda bisa mengajukannya ke hakim. Kata putus ada di tangan hakim, tentu, setelah pihak hakim mengadakan penyelidikan atas tuntutan Anda.

Maka dari itu, kasus Anda ini harus diselesaikan di pengadilan di New York. Karena khulu' itu harus sepengetahuan pihak suami. Suami Anda di New York, kantor catatan sipil (semacam KUA) yang mencatat pernikahan Anda ada di New York, maka sidang perceraian ini harus diselesaikan di New York. Kecuali pihak berwenang (semacam KUA) di New York bersedia memindahkan kuasanya ke Indonesia. Tapi, barangkali ini sama sulitnya. Untuk urusan ini, Anda bisa mengutus wakil (tanpa harus Anda sendiri datang ke New York).

Demikian, semoga problem Anda cepat selesai dan lekas damai.

Arif Hidayat