Logika Membaca Sholawat dalam Shalat

—– Tanya —– Assalamu'alaikum wr.wb Bagaimanakah bacaan sholawat pada sholat saat Rasulullah sedang melaksanakannya? Apakah sama dgn yang kita baca selama ini? Berarti beliau menyebut dirinya sendiri dalam sholat itu? Bagaimanakah logikanya? Dan bagaimanakah bacaan sholawat yang benar? Yang saya maksud disini adalah dalam sholat maupun bisa juga diluar sholat sebagai perbandingan. Demikian saya tunggu jawabannya, dan terima kasih. Wassalamu'alikum wr.wb. Sigit. —— Jawab: —— Wa'alaikumussalam wr. wb. "Dirikanlah salat [dengan cara] sebagaimana kalian melihat saya salat" [Hadits riwayat Bukhari] Para sahabat ra, seturut hadits ini, mendirikan salat meniru cara salatnya Rasul saw. Namun begitu, tidak semua sifat-sifat salat dapat ditiru oleh mereka, karena ada diantaranya yang bersifat khafiy [samar]. Diantaranya adalah bacaan tasyahhud [tahiyأ¢t] dan shalawأ¢t. Dua sifat salat ini tak bisa hanya dengan melihat salat Rasul, akan tetapi diperlukan pengajaran langsung. Diriwayatkan oleh Ka'b bin 'Ujrah, bahwa Nabi Muhammad saw. mendatangi kami, kemudian kami menanyakan kepadanya: "Wahai Rasulullah, kami telah mengetahui bagaimana menucapkan salam kepada Baginda, maka bagaimana kami mengucapkan salawat kepada Baginda?" Baliau menjawab: Katakanlah: "Allأ¢humma shalli 'alأ¢ Muhammad wa 'alأ¢ 'أ¢li Muhammad, kamأ¢ shallaita 'alأ¢ Ibrأ¢hأ®m wa 'alأ¢ 'أ¢li Ibrأ¢hأ®m, Innaka hamأ®dun majأ®d. Allأ¢humma bأ¢rik 'alأ¢ Muhammad wa 'alأ¢ أ¢li Muhammad kamأ¢ bأ¢rakta 'alأ¢ Ibrأ¢hأ®m wa 'alأ¢ أ¢li Ibrأ¢hأ®m. Innaka hamأ®dun majأ®d". [Muslim]. Hadits ini juga diriwayatkan oleh beberapa Imam Hadits dengan lafadz-lafadz yang mirip. Jadi, tidak ada riwayat yang menjelaskan apakah beliau membaca salawat dalam salat atau tidak, dan juga bagaimana bacaan beliau. Yang ada adalah perintah membaca salawat dalam salat kepada umatnya. Madzhab Hanabilah dan Syafi'iyah mewajibkan bacaan salawat, sementara Malikiyah dan Hanafiyah hanya menganggapnya sebagai kesunnatan. Pembicaraan mengenai salawat kepada Nabi juga terdapat dalam masalah khutbah Jumat. Sebagian madzhab mewajibkannya dan sebagian lainnya hanya mensunnahkannya. Yang menganggap wajib tidak berdasar kepada praktik yang pernah dilakukan Rasul, akan tetapi kepada perintah umum untuk menyertakan salawat kepada Nabi dengan puji luhur kepada Allah swt [hamdalah]. Sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Quddamah, Nabi dalam khutbah tidak membaca salawat kepada dirinya sendiri, akan tetapi mencukupkan dengan puji-pujian kepada Allah swt. Menganai bacaan yang diajarkan oleh Rasul, adalah seperti yang saya kutip di atas. Tak ada perbedaan antara di dalam salat maupun di luarnya. Abdul Ghofur Maimoen