Lupa Hitungan Puasa yang ditinggalkan

Assalamualaikum wr. Wb

Saya ingin menanyakan masalah :

1. Dulu saya bernazar untuk berpuasa selama seminggu jika saya berhasil masuk sekolah negeri, dan alhamdulilah saya berhasil, yg ingin saya tanyakan apakah saya boleh menyicilnya atau harus seminggu full?

2. Saya dulu sering lupa untuk membayar puasa ramadhan, baru 2 tahun ini saja saya membayarnya, lalu bagaimana dgn puasa-puasa saya sebelumnya yang belum sempat saya qadho, masalahnya saya sudah tidak ingat berapa jumlah puasa yg belum saya bayar, menurut anda bagaimana sebaiknya yg harus saya lakukan ? Atas perhatiannya saya ucapkan terima kasih, semoga kebaikan anda diterima disisi Allah SWT, amien.

Wasalamualaikum wr. Wb

Eti Purwitasari Sdr. Eti,

Assalamu’alaikum war. Wab.

1. Nadzar adalah menyanggupkan diri untuk melakukan amal ibadah atau suatu kebaikan yang pada mestinya tidak wajib ia lakukan. Dari keterangan ini, bisa disimpulkan bahwa nadzar melakukan kewajiban hukumnya tidak sah, seperti nadzar melaksanakan salat lima waktu, atau nadzar melaksanakan puasa Ramadhan. Kemungkinan lain yang minoritas, seperti dikutip oleh Ibnu Quddamah, menyatakan berpengaruhnya nadzar melakukan kewajiban terhadap keharusan membayar kaffarah apabila ditinggalkan. Namun pendapat pertamalah yang lazim dipegang dalam fikih-fikih yang ada, yakni tidak sahnya nadzar melaksanakan ibadah atau amal wajib.

2. Bentuk ucapan nadzar terbagi dalam dua kategori. Pertama mutlak dan kedua muqayad [disandarkan pada syarat tertentu]. Contoh mutlak: Saya bernadzar melaksanakan puasa pada esok hari, dan contoh muqayyad: Jika saya lulus ujian maka saya akan melaksanakan puasa.tujuh hari berturut-turut. Pada bentuk yang pertama, kewajiban melaksanakan sesuatu yang ia sanggupi [yang ia nadzarkan] terhitung sejak diucapkannya lafadz nadzar, dan itu harus dilaksanakan sesuai dengan petunjuk lafadz yang ia ucapkan. Dalam contoh di atas, ia harus melaksanakan puasa esok hari itu juga, sebagaimana bunyi nadzarnya. Dan jika tidak ada petunjuk waktu pelaksanaannya, seperti nadzar melaksanakan puasa [tanpa penentuan waktunya dan tanpa menyebutkan apakah berurutan atau tidaj], maka ia bebas melaksanakannya kapan saja, dan tidak wajib melaksanakannya pada saat itu juga. Akan tetapi, yang lebih baik adalah melaksanakan sesegera mungkin. Adapun bentuk kedua [muqayyad], kewajiban melaksanakan nadzar terhitung sejak terwujudnya syarat. Dan mengenai waktu pelaksanaannya sekaligus tatacaranya, maka hal itu sesuai dengan petunjuk lafadz nadzarnya.
Dalam contoh di atas, kewajiban puasa terhitung sejak kelulusannya dan berturut-turut karena kedua ketentuan tersebut diucapkan dalam nadzar. Dan mengenai kapan pelaksanaannya diserahkan kepada orang tersebut, selama dalam lafadznya tidak ada keterangan mengenai waktunya. Akan tetapi, sebagaimana bentuk pertama, sebaiknya ia melaksanakannya sesegera mungkin. Begitu juga mengenai tatacaranya, disesuaikan dengan ungkapan nadzar yang dikatakan. 2. Wajib mendqadla puasa yang telah ditinggalkan, sebanyak hari yang diingatnya sambil disertai taubat dan melaksanakannya sesuai kemampuan. Bila puasa yang ditinggalkan belum juga diqadla hingga datang Ramadhan berikutnya, maka wajib baginya qadla plus fidyah yaitu puasa plus menambahi tiap hari puasa dengan memberi makan fakir miskin sebanyak kurang lebih 0,7 kg (1 mud) bahan makanan pokok. Bila tidak tau jumlah hari yang ditinggalkan, sebaiknya dikira-kira hingga yakin. Demikian, semoga membantu. Wassalam Abdul Ghofur Maimoen Muhammad Niam

BAGIKAN
Berita sebelumyaFALSAFAH PUASA
Berita berikutnyaPribadi yang bersih