Mahar Dari Uang Pinjaman

Tanya:

Dear Pesantren Virtual,
Saya mau tanya sedikit, begini, apakah benar kalau mahar/mas kawin pada saat ijab kabul harus berupa emas? Dan apakah benar mahar tersebut tidak boleh berasal dari hutang/uang pinjaman? Kalau ada dalilnya dan ada kesempatan dijawab, terima kasih sebelumnya.
Terimakasih.

Rulie Maulana Muchtar – Jakarta

Jawab:

Sdr. Rulie yang baik,
Mahar dalam istilah fiqih disebut juga shidaq. Dalam bahasa Indonesia sering disebut mas kawin. Mahar adalah benda atau harta yang harus diberikan oleh mempelai pria kepada mempelai wanita dalam akad nikah. Mahar merupakan salah satu syarat sahnya sebuah akad nikah. Dalam hal ini al-Qur'an memerintahkan kepada calon suami untuk membayar mahar : "Berikanlah mahar kepada wanita-wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian yang penuh kerelaan" (QS: 4:4).

Syariat Islam menganjurkan agar mahar merupakan sesuatu yang bersifat materi yang bernilai. Karena itu bagi orang yang belum berkemampuan memilikinya dianjurkan untuk menangguhkan pernikahan sampai ia memiliki materi yang cukup untuk mahar dan kebutuhan lainnya. Akan tetapi apabila kondisi memungkinkan atau kondisi mengharuskan ia segera menikah, padahal ia belum memiliki materi yang cukup, maka juga diperbolehkan menikah dengan mahar yang sederhana. Bahkan ibaratnya dengan cincin besi pun boleh. Seperti sabda Rasulullah kepada seorang pemuda yang ingin menikah namun tidak mempunyai apa-apa : "Carilah walau cincin dari besi".

Di sini perlu diketahui beberapa prinsip mahar:

  1. Semakin ringan mahar semakin baik. Seperti sebuah hadis yang diriwayatkan Abu Dawud dari Uqbah bin Amir : "Sebaik-baiknya mahar adalah paling ringan (nilainya)."
  2. Bila tak memiliki materi, boleh berupa jasa. Semisal jasa mengajarkan beberapa ayat al-Qur'an atau ilmu-ilmu agama lainnya. Dalam sebuah hadis Rasulullah berkata kepada seorang pemuda yang dinikahkannya : "Telah aku nikahkan engkau dengannya (wanita) dengan mahar apa yang engkau miliki dari Al-Quran" (H.R. Bukhari dan Muslim)

Mengenai mahar dari uang pinjaman itu boleh-boleh saja, tidak membatalkan pernikahan. Itu sama halnya kita menggunakan uang pinjaman untuk akad selain akad nikah, semisal akad jual beli dll. Penyerahan mahar juga tidak diharuskan seketika (cash), dalam arti dapat deserahkan menyusul setelah terselenggaranya akad nikah. Namun bila istri menuntut pembayaran mahar seketika setelah dilangsungkannya akad maka wajib bagi sang suami untuk menyerahkan mahar pada saat itu juga. Sedangkan penyebutan bentuk atau nilai mahar dan penyerahannya secara tunai pada saat akad (ijab qabul), hukumnya sunnah.

Wallahu A'lam bissawab.

M. Faridu Ashrih