Makan Makanannya Ahli Kitab

Tanya:
Bagaiman hukumnya makan binatang yang fisiknya halal seperti ayam atau daging sapi tetapi disembelih tidak dengan nama Allah. Saya sekarang tinggal di AS, bagaimana anjuran ustadz bagi saya, apakah saya harus memotong sendiri binatang darat yang akan saya makan.

Jazakallah,
Wassalamu'alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh.
Regarsya

Jawab:

Membaca basmalah saat menyembelih hukumnya hanya sunnah saja. Jadi, bebas saja Anda memakan makanannya orang di sekitar Anda di AS. Pertanyaan Anda ini mirip dengan pertanyaan seorang muslim Belanda ke Mufti Mesir melalui email. Demikian di bawah ini saya terjemahkan fatwa tersebut yang dimuat di majalah mingguan 'Aqidati, Kairo, edisi 2 Maret 1999.
————–

Seorang muslim Belanda via email tanya ke mufti:
Apakah diperbolehkan bagi seorang muslim mengikuti upacara pemakaman orang nasrani? Dan bolehkah muslim kawin dengan perempuan nasrani? Dan apakah mungkin muslim bekerja di toko-toko yang menjual minuman keras, dan daging babi? Dan apa diperbolehkan bagi orang Islam mengawini orang perempuan nasrani dengan tujuan mendapatkan visa atau ijin tinggal?

Mufti Mesir, DR Nasr Farid Wasil, menjawab:
Allah berfirman: "wa to'aamul ladzina uutul kitaaba hillul lakum wato'amukum hillul lahum / makanannya ahli kitab halal bagi kalian dan makanan kalian halal bagi mereka." Ayat ini memperbolehkan orang-orang Islam memakan makanannya ahli kitab (yahudi dan nasrani). Bisa disamakan (analog/qiyas) dengan pengertian ini, orang Islam boleh mengikuti acara pemakaman mereka.**

Dan tidak ada dalil syara' yang melarang orang Islam mengawini ahli kitab. Nabi SAW sendiri telah mengawini Mariah Kibtiah dan menghasilkan anak, Ibrahim. Padahal Mariah tetap pada agamanya semula. Perkawinan dengan ahli kitab ini bisa didasarkan pada ayat di atas (wa to'amukum..) dengan cara menganalogkan. Dan secara ijma' hukum perkawinan seperti itu dianggap sah.**

Tidak diperbolehkan bagi orang Islam bekerja di tempat-tempat yang menjual minuman-minuman keras dan daging babi. Kecuali dalam keadaan darurat. Misalnya dia tidak menemukan pekerjaan lain kecuali pekerjaan seperti itu.**

Hukum asal perkawinan adalah mubah. Sehingga diperbolehkan bagi seorang muslim mengawini perempuan muslimah atau ahli kitab, baik dengan tujuan mendapatkan visa atau ijin tinggal, selama memenuhi rukun-rukun nikah dan syarat-syaratnya menurut syari'at. Misalnya dengan perkawinan itu disertai dengan maksud kawin untuk berumahtangga seterusnya.

Dewan Asaatidz Pesantren Virtual