Makna Gerakan Dalam Salat

Tanya:

Saya bekerja di lingkungan yang didominasi non-muslim. Waktu istirahat terkadang kami berdiskusi tentang banyak hal, sampai pada masalah agama masing-masing. Mereka sering menanyakan tentang agama Islam kepada saya. Dan saya menjawabnya dengan sebaik-baiknya menurut kemampuan saya. Tetapi ada satu pertanyaan dari mereka yang membuat saya kaget sekaligus bingung memikirkan jawaban yang harus saya berikan. Pertanyaannya begini, "Ita, setiap hari saya melihat kamu melakukan salat. Dalam salat tersebut kamu melakukan gerakan-gerakan. Apa maksud atau makna dari gerakan kamu tadi? Apakah gerakan itu tidak akan menganggu kekhusyukan kamu dalam menghadap Tuhanmu?" Mereka mengatakan bahwa mereka cukup duduk diam sambil mengepalkan tangan dan berdoa dengan khusuk.

Saya hanya mengatakan bahwa saya tidak pernah merasa tidak khusuk karena gerakan tersebut. Tapi mengenai arti atau makna gerakan dalam salat, saya kurang tahu. Sebab dari kecil saya diajarkan bahwa cara salat itu adalah begitu. Terus terang dalam hati saya merasa malu, karena telah sekian puluh tahun melaksanakannya namun sampai sekarang saya tidak mengetahui arti gerakan yang saya lakukan.

Demikianlah pertanyaan saya, mohon penjelasannya. Terima kasih.

Ita – Jakarta Selatan

Jawab:

Sdri. Ita,

Jawaban anda kepada teman anda sudah betul, paparan berikut ini bisa dijadikan dasar atau pengetahuan tambahan anda sebagai jawaban atas pertanyaan di atas. Orang non-muslim sering menganggap bahwa gerakan-gerakan dalam ibadah itu tentu ada artinya. Tak ubahnya seperti kalau kita melakukan senam. Akan tetapi, jika mereka mau mencoba mengartikan gerakan-gerakan ritual dalam agama yang mereka peluk, mereka pun pasti akan kesullitan.

Sementara itu, dalam Islam memang tidak pernah ada tafsir tentang gerakan-gerakan ritual. Sebab yang menjadi dasar kita melakukan gerakan salat misalnya, adalah hadis Nabi "Shalluu kamaa ro'aytumuuni ushalli". Artinya, "Salatlah kamu sekalian sebagaimana kamu melihat saya (Nabi) salat". Jadi Nabi tidak mengajarkan kenapa harus ruku' atau sujud, dan lain-lain. Adapun jika ada sementara kalangan yang mencoba menafsirkan gerakan-gerakan salat yang dikaitkan dengan olahraga atau ilmu anatomi, penafsiran tersebut tidak berdasarkan atau bersumber dari ayat maupun hadis.

Contoh lain adalah ibadah haji. Nabi saw. tidak mengajarkan rasionalisasi gerakan-gerakannya. Beliau bersabda, "Khudzuu 'annii manaasikakum". Artinya "Ambillah (tirulah) dariku cara-cara kamu melaksanakan ibadah haji".

Tentang kekhusyukan, anda dapat memberikan penjelasan, misalnya, ketika melakukan ruku' dengan membungkuk, kita membaca "Subhana rabbiyal adzimi wabihamdihi" (Maha suci Tuhanku yang Maha Agung dan Maha Terpuji). Jika kita benar-benar bisa meresapi doa ini, tentu akan menambah kekhusyukan. Demikian juga ketika sujud kita membaca "Subhana rabbiyal A'la wabihamdihi" (Maha suci Tuhanku yang Maha Tinggi dan Maha Terpuji). Kesimpulannya, dari segi kekhusukan gerakan-gerakan tersebut justru dapat menambah kekhusyukan dalam ibadah (salat).

Demikian, semoga bermanfaat.

Bukhori SA