Martabat, Makrifat, dan Asma Allah

Tanya:

Yang terhormat Bapak Ustadz:
Saya ingin menanyakan dalil kedudukan tasawuf dalam Islam, karena teman saya sering berbicara tentang isi ajaran tersebut. Di antara yang ingin saya tanyakan:

  1. Apa pengertian Martabat 7 ?
  2. Selain 99 Asma Allah SWT apakah ada nama yang "dirahasiakan"?
  3. Konon dlm tasawwuf orang yg telah mencapai "maqam" ini boleh meninggalkan salat, apakah benar?
  4. Terlepas dari itu semua, bagaimana cara ma'rifat kepada Allah SWT?

Idrus S. – Balikpapan

Jawab:

Tasawuf ialah bentuk kebajikan spiritual dalam Islam yang dikemas dengan filsafat, pemikiran, ilmu pengetahuan dan disiplin kerohanian tertentu berdasarkan syariat Islam. Jalan-jalan kerohanian dalam ilmu tasawuf dikembangkan dengan tujuan membawa seorang sufi menuju pencerahan batin atau persatuan rahasia dengan Yang Satu. Jadi tasawuf sebenarnya adalah metode yang dianut dan diyakini oleh kelompok yang bernama "Sufi" dalam memahami, menjalankan dan penelusuran rohani dari agama Islam. Maka, tasawuf pada hakekatnya bukanlah suatu ibadah atau hukum yang mempunyai dalil dalam struktur agama Islam. Tasawuf lebih merupakan cara memahami dan menghayati agama, sebagaimana cara dan metode yang dilakukan oleh kelompok lain dalam Islam.

  1. Pengertian Martabat 7?
    Martabat berarti tingkatan. Dalam ajaran tasawuf seorang yang ingin mencari Tuhannya, harus melalui tingkatan-tingkatan, inilah yang disebut Martabat. Tingkatan-tingkatan ini tidak selalu berjumlah tujuh. Tergantung kepada aliran taswuf itu sendiri. Ada yang 7 ada yang lebih dari 7. Tujuh martabat yang harus dilalui oleh seorang sufi adalah : lembah pencarian (talab), cinta ('isyq), makrifat (ma'rifah), kepuasan hati (istighna'), keesaan (tawhid), ketakjuban (hayrat), kefakiran (faqr) dan inklusif (fana').
  2. Selain 99 Asma Allah SWT apakah ada nama yang "dirahasiakan"?
    "Seorang muslim sebaiknya berkeyakinan dan berakidah bahwa termasuk komponen iman kepada Allah adalah iman dengan nama-nama Allah. Yakni iman dengan nama-nama (Allah) yang diajarkan dan diberitahukan kepada kita, baik melalui al-Qur'an maupun melalui petunjuk NabiNya. Jadi nama-nama Allah itu tercantum dalam al-Qur'an maupun hadis shahih. Jumlahnya kita tidak tahu secara pasti, hanya Allah SWT yang tahu. Perspektif yang mengatakan bahwa nama Allah adalah 99 merupakan hasil ijtihad manusia dalam mengumpulkan nama-nama Allah yang tercantum dalam al-Qur'an dan hadis shahih. Dengan demikian kita ikuti saja hasil ijtihad yang ada itu, karena memang tak ada dalil yang menyatakan adanya nama yang dirahasiakan.
  3. Konon dlm tasawwuf orang yg telah mencapai "maqam " boleh meninggalkan salat. Apa benar?
    Ada kelompok-kelompok tasawwuf yang fanatik dan berlebih-lebihan. Seperti dalam menggambarkan martabat atau maqam "fana'", yang berarti inklusi antara makhluk dan Tuhannya, "manunggaling kawulo gusti" seperti yang terjadi pada kisah klasik Syeh Siti Jenar. Pada taraf demikian, seorang sufi berkeyakinan bahwa sudah tidak ada jarak lagi antara dia dan Tuhannya, karena Tuhan telah menjelma dalam dirinya, dan dirinya telah menyatu dengan Tuhan. Di sini lalu ia melihat, kalau ia sudah menyatu dengan Tuhan, lantas apa artinya ibadah yang adalah proses dan jalan mencari Tuhan.

    Namun aliran tasawwuf yang benar, pastilah yang tidak mengantarkan kepada hal-hal yang negatif, karena ajaran tasawwuf tidak lain adalah proses untuk mendekatkan diri kepada Allah, atau jalan untuk bisa lebih mengenal Allah. Seorang ulama Sufi mengatakan "Mereka yang belajar tasawwuf dan tidak melalui syariat maka ia telah mendekati kekafiran".

  4. Terlepas dari itu semua, bagaimana cara ma'rifat kepada Allah SWT?
    Ma'rifat artinya mengetahui dan mengenal Allah. Panutan kita mengenal Allah adalah Nabi Muhammad saw. Beliau telah mengajarkan semuanya kepada kita cara mengenal Allah. Bagaimana caranya? Tidak lain adalah dengan amal sholeh, memperbanyak ibadah, baik yang fardhu dan yang sunnah, dan menjunjung tinggi etika dan nilai-nilai keagamaan serta merenungi ciptan-ciptaaNya. Dengan itu semua kita akan dekat kepada Allah, dan dengan begitu kita akan mengenalNya. Allah senantiasa dekat dengan manusia, hanya manusia yang terkadang enggan untuk dekat atau mendekatkan diri kepadaNya.

Wallahu A'lam

Muhammad Niam