Masalah Keummatan : Problem Akhlaqi, Bukan Fikri

Suatu hari sepotong kapak jatuh di antara pepohonan lalu pohon-pohon takut dengan musuhnya ini, mereka dimasuki kekhawatiran yang sangat. Akan tetapi, pohon yang besar, yang telah berumur tua, berkata “Kalian tidak perlu takut. Kalau saja sepotong besi ini jatuh di antara kalian seratus tahun, dia tidak akan menyakiti kalian, kecuali kalau salah satu di antara kalian memberikan dirinya untuk dijadikan pegangan dari kapak ini".

Mungkin sebagian pembaca menganggap aneh mengenai judul ini. Mereka mengira kita mengajak pada suatu akhlak yang sunyi dari “baju akal dan pikiran�. Sebetulnya, permasalahan bukan seperti yang banyak disangka orang. Permasalahan ini tidak lain sebagaimana perkataan kita kepada orang yang pintar dalam permasalahan ekonomi tetapi dia tidak punya uang, "Problem Anda adalah kebutuhan Anda pada modal pokok perdagangan, bukan kepintaran ekonomi sebagaimana yang kamu bincangkan".

Semua orang yang berakal pasti mengetahui bahwasanya spesialisasi atau kepandaian khusus, bagaimanapun, sangat dibutuhkan. Seseorang tidak mungkin menghasilkan sesuatu yang diharapkan dengan sendirinya, namun ia pasti membutuhkan kekuatan untuk melaksanakannya. Kalau kekuatan ini tidak ada, berarti permasalahannya terdapat pada tiada kekuatan itu, bukan problem kepintaran dan ilmu, dan begitu juga sebaliknya. Berbeda jauh jika “kekurangan dalam pengetahuan“ kita katakan “bencana dalam pengetahuan�. Kekurangan itu pasti ada, dan kita tidak akan sampai pada kesempurnaan dalam pengetahuan dan pikiran.

Problem yang ada (di dalam komunitas Islam) sekarang, bukanlah problem pemikiran. Dengan pengertian bahwasanya bencana-bencana yang menimpa mereka sekarang bukan akibat adanya kekurangan dalam cakrawala pemikiran. Karangan–karangan dan selebaran yang mengurusi permasalahan ilmu keislaman di banyak negara Islam (sekarang ini) itu lebih banyak dan lebih kuat dibandingkan waktu yang lampau. Setiap pemuda muslim sekarang yang mengakui akan keislamannya dia pasti mempunyai seperangkat ilmu keislaman yang cukup. Beberapa buku menerangkan dengan detail sakit parahnya badan "dunia Islam", lalu menerangkan obatnya, menerangkan jalan untuk menggunakannya. Kitab-kitab ini telah memenuhi pasaran kita, mengalahkan kitab fikri yang lain. Masyarakat saling memburunya sehingga mengakibatkan para pedagang buku mengkhususkan dagangannya pada kitab-kitab Islami saja, lepas apa akidah dan madzhab pribadinya.

Walaupun demikian, kenyataan telah mengatakan bahwa sepak terjang kita mengarah pada arah sebaliknya, dari pengetahuan Islam kita yang sangat menanjak. Ini suatu kenyatan yang kasat mata, semua orang mengetahuinya. Kita bisa lihat perkembangan-perkembangan pengetahuan Islami dalam masyarakat Islam, akan tetapi kita juga melihat "perkembangan-perkembangan" yang lepas jauh dari budi pekerti. Kita bisa meraba matangnya kepintaran dalam menyibak “perang intelektual� dan teori-teori permusuhan, untuk mengalahkannya, tapi kita juga bisa meraba kelemahan dan hinanya moral-moral yang menakutkan ini. Kita juga bisa mengetahui kecanggihan dalam ilmu-ilmu Islam baik yang berhubungan dengan akidah atau furuiyyah, tapi kita sering dikejutkan dengan kerancuan-kerancuan pikiran dan keanehan-keanehan hukum fikih, melenceng dan mengganti dalam syariah Islamiyyah.

Semuanya ini adalah problematika, tapi kita harus tahu bahwasanya problem ini adalah problem akhlak atau moral, bukan kekurangan ilmu dan kepintaran belaka. Yang di maksud dengan akhlak di sini adalah terbangunannya makna "Pengawasan Allah swt" (Murأ¢qabatullأ¢h) dalam hati setiap muslim. Semua ilmu dunia tidak akan memberikan manfaat apapun pada si pemiliknya, jika hatinya tidak memiliki perasaan tentang adanya “pengawasan Tuhanâ€? yang mengatur langit dan bumi. Semua ilmu yang kita pelajari dengan tanpa dasar akhlak itu, laksana kunci pintu yang tertutup, dan tidak ada yang menggunakannya. Jadi pintu akan tetap tertutup, sedangkan kunci hanyalah alat mainan

***

Andaikata manusia menemukan dirinya tergiring untuk mengikuti jalan Tuhan yang benar hanya dengan mengetahui rambu-rambu jalan ini belaka, tentu mereka tidak akan berselisih setelah tahu, tidak akan sombong setelah paham. Allah swt telah berfirman “…..maka mereka tidak berselisih kecuali setelah mereka didatangi oleh pengetahuan karena kesombongan diantara merekaâ€?. Diantara kehendak manusia dan moralnya, ada banyak halangan yang tidak mudah dilaluinya. Halangan ini berpangkal pada, istilah al-Qur'an, "condong ke bumi", yakni nafsu untuk menikmati dunia. Halangan ini bercabang-cabang yang banyak seperti senang tahta kedudukan, condong pada golongan, rindu akan kesenangan seksual, syuhأ»rah (popularitas), dorongan hasut dan dengki, yang semuanya itu adalah mata pelajaran yang diujikan oleh Tuhan di dunia ini.

Perlu saya contohkan, ada seorang yang bekerja di salah satu majalah, ketika dia ditanya akan kebiasaannya memasang gambar-gambar telanjang, dia beranggapan bahwa itu adalah untuk mengeruk keuntungan laba, jadi cuma keinginan hati dalam persaingan dagang dia menjadikannya sebagai teori ilmiah yang cukup untuk memperbolehkan keculasannya ini. Lalu apa harga suatu podium yang dipasang untuk menyebarluaskan ilmu, mengajak manusia pada perilaku yang bagus, kalau dia dijalankan oleh kesenangan-kesenangan nafsu yang tidak ada hubungannya sama sekali antara kesenangan ini dan teori-teori ilmiah? Kebodohan bukanlah bahaya yang besar dalam kehidupan manusia sebagai mana dipahami oleh sebagian besar orang.

Bahaya yang besar adalah teracuninya “tumbuh-tumbuhan ilmu dan pengetahuanâ€? oleh “racun kesenangan dan nafsuâ€? yang bermacam-macam. Sehingga pekerjaan yang suci untuk mempelajari suatu kebenaran menjadi lebih rendah dari pada apa yang dikatakan titik temu antara manusia dan hewan-hewan yang lain, yakni akal. Akal adalah cahaya yang ditiupkan oleh Tuhan dalam perasaan manusia. Sehingga terterangilah jalan kebenaran. Suatu kejahatan manakah yang lebih bahaya dalam kehidupan manusia dari pada menjadikan "cahaya ilahi" yang suci ini menjadi suatu pijakan yang rendah untuk menjadi korban (nafsu) kehewanannya dan kemauan–kemauan yang lepas kontrol? Ilmu, sejatinya, adalah sesuci-sucinya kebenaran dalam hidup, akan tetapi dia akan kehilangan kesuciannya, lalu menjadi bencana bagi pemiliknya –juga pada yang lainnya– ketika dia memikul keberatan-keberatan berupa kesenangan nafsu.

Allah swt berfirman, “Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi Al-Kitab), kemudian dia melepaskan diri dari pada ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleh syaitan (sampai dia tergoda), maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat�. (QS. 7:175) “Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing, jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir�. (QS. 7:176) Manusia seperti ini tidak cukup untuk mendiskusikan atau kita ajak untuk mengikuti suatu kebenaran, karena kebenaran itu dalam kehidupan mereka tidak lain seperti pisau yang tajam "di tangan kesenangan dan angan-angan� mereka.

Alangkah mudahnya orang pandai, ketika kesenangannya telah menguasainya untuk menjadikan ilmunya untuk mendukung kesenangannya, menjadikannya suatu saksi yang terpercaya atas kebenarannya. Yang demikian tadi karena teks-teks kaidah-kaidah hukum-hukum syara’, seperti teks-teks undang-undang; keduanya menerima untuk di-ta’wil-i dan diletakkan padanya syarat-syarat yang baru. Sebagimana pengacara; dia tidak akan kesulitan untuk mempermasalahkan teks-teks undang undang, men-ta’wil-kannya untuk kemaslahatan klien (hukumnya), karena dia ingin memperoleh harta darinya. Begitu juga orang yang ahli bidang fikih, tidak akan kesulitan sama sekali untuk men-ta’wil nash-nash syara’ sebagaimana kehendaknya dan membuntutinya dengan ikatan-ikatan dan syarat yang rancu, untuk memperoleh kesenangan dunia yang sedikit. Sebagaimana memperbolehkan kadar tertentu dari bunga riba, meleburkan banyak hukum syara’ dalam kaidah “hukum–hukum itu berganti sesuai dengan tuntuan waktu�. Problem ini tidak akan terpecahkan kecuali manusia membangkitkan perasaan pengawasan Allah swt dalam hatinya.

Ketika manusia telah beriman dengan Allah swt dan yakin bahwasanya Dia mengawasinya, mengetahui omongan hatinya, semuanya itu tertulis dalam buku catatan amalnya dan nanti akan diserahkan di hadapan-Nya, di hari kiamat, bersamaan dengan panggilan �inilah kitab kita, berbicara benar tentang kamu, Allah telah mencatat apa yang kalian perbuat�. Ketika orang mukmin tadi telah merasakan kenyataan ini, maka ilmu dan pengetahuannya akan terbebaskan dari belenggu nafsunya dan akal akan berjalan naik mencari kebenaran hidup, melewati satu persatu sampai di depan suatu kebenaran yang pokok dan rahasia alam semesta ini. Orang-orang tidak akan mungkin untuk berani menerjang, menyatroni Islam, karena Islam dalam hati mereka memberikan ketakutan pada mereka, sehingga menghalangi mereka untuk menyatroninya secara langsung, tapi sudah menjadi kebiasan, mereka mencari dalam orang-orang Islam sekumpulan manusia yang sifatnya berikut ini ; muslim tapi lupa akan keislamannya, mengetahui kebenaran akan tetapi dia tidak peduli untuk menggunakan ilmunya dalam jalan nafsunya. Orang-orang menjadikan manusia-manusia ini sebagai jembatan untuk menghancurkan umat Islam dan Islam itu sendiri. Suatu hari sepotong kapak jatuh di antara pepohonan lalu pohon-pohon takut dengan musuhnya ini, mereka dimasuki kekhawatiran yang sangat. Akan tetapi, pohon yang besar, yang telah berumur tua, berkata “Kalian tidak perlu takut. Kalau saja sepotong besi ini jatuh di antara kalian seratus tahun, dia tidak akan menyakiti kalian, kecuali kalau salah satu di antara kalian memberikan dirinya untuk dijadikan pegangan dari kapak ini".

Wallأ¢hu a’lam

 

*Penulis adalah mahasiswa Fakultas Syariah, Universitas Al-Azhar, Mesir

BAGIKAN
Berita sebelumyaDamai dengan Islam
Berita berikutnyaDENGKI DAN DENDAM