Membangun Kekuatan Ekonomi Mesjid

Aabila umat Islam memiliki komitmen yang kuat untuk memberdayakan mesjid sebagai pusat kegiatan perekonomian, maka berbagai permasalahan yang terkait dengan rendahnya tingkat kesejahteraan umat akan dapat diatasi. Bahkan bukan tidak mungkin, hal ini akan menjadi sumber inspirasi bagi kebangkitan umat Islam di seluruh bidang kehidupan. Sebagaimana telah diketahui bersama, mesjid adalah pusat ibadah umat Islam. Jika kita menilik pada shirah Rasulullah SAW, maka kita akan menemukan fakta bahwa mesjid memiliki peran yang sangat vital dan signifikan dalam pengembangan dakwah Islam. Rasulullah menjadikan mesjid sebagai sentra utama seluruh aktivitas keumatan, apakah itu dalam aspek tarbiyah (pembinaan) para sahabat, pembentukan karakter para sahabat sehingga mereka memiliki keimanan dan ketakwaan yang sangat kokoh kepada Allah SWT, maupun aspek-aspek lainnya termasuk politik, strategi perang, hingga pada bidang ekonomi, hukum, sosial dan budaya. Pendeknya, mesjid menjadi pusat utama ibadah umat Islam, dari mulai ibadah mahdlah yang bersifat ritual hingga ibadah muamalah yang bersifat sosial. Pada kesempatan ini, penulis bermaksud memfokuskan pada upaya membangun kekuatan ekonomi mesjid. Jika kita kembali kepada perjalanan dakwah Rasul bersama para sahabatnya, maka kita kita akan menemukan kenyataan bahwa kegiatan ekonomi mendapat perhatian tersendiri dari Rasulullah Muhammad SAW. Sebagai bukti kecil adalah dekatnya lokasi pasar dengan mesjid, sehingga tidaklah mengherankan jika di sekitar lokasi Masjidil Haram dan Mesjid Nabawi ditemukan pasar, yang hingga sekarang keberadaannya masih tetap terpelihara. Bahkan jemaah haji kita—pada musim haji—sangat dikenal dengan kebiasaannya, yaitu setelah melaksanakan thawaf mengelilingi Ka’bah, mereka melakukan “thawafâ€? di Pasar Seng (istilah bagi pasar di sekitar lokasi Masjidil Haram), untuk membeli berbagai macam cinderamata yang akan dibawa ke tanah air. Ini membuktikan bahwa ajaran Islam sangat memberikan perhatian pada upaya untuk mengembangkan perekonomian umat. Hal ini memberikan peluang kepada kita untuk memikirkan upaya untuk membangun kekuatan ekonomi umat dengan berbasis mesjid. Tentu saja yang penulis maksud disini adalah bukan untuk menjadikan mesjid sebagai “balai perdaganganâ€?, karena hal tersebut memang dilarang oleh Rasulullah SAW, sebagaimana dinyatakan dalam sabdanya : “Apabila kamu melihat orang menjual atau membeli di dalam mesjid, maka katakanlah kepadanya : Mudah-mudahan Allah tidak untungkan perdaganganmuâ€? (HR Imam Nasa’i dan Tirmidzi). Yang perlu kita pikirkan adalah bagaimana membangun kekuatan ekonomi yang memanfaatkan segala potensi yang dimiliki oleh mesjid, baik itu potensi jemaah, potensi lokasi mesjid, potensi ekonomi masyarakat sekitar mesjid, dan potensi-potensi lainnya. Bila kesemua potensi tersebut dapat dikelola dengan baik, maka penulis berkeyakinan bahwa problematika pengangguran dan kemiskinan, yang menjadi musuh utama umat Islam dewasa ini, akan dapat diminimalisasi. Langkah-langkah yang dapat dilakukan Ada beberapa langkah yang dapat dilakukan didalam membangun dan merealisasikan potensi kekuatan umat berbasis mesjid. Langkah-langkah tersebut antara lain : Mendata potensi jemaah mesjid Sudah saatnya pengurus mesjid memiliki data potensi jemaah yang dimilikinya. Jika kita cermati, maka jumlah mesjid yang memiliki data potensi jemaah masih terbilang sangat sedikit. Kalaupun ada, maka kualitas data yang dimiliki umumnya masih kurang memuaskan. Untuk itu, sebagai langkah awal didalam membangun kekuatan ekonomi mesjid, maka ketersediaan data potensi ini menjadi sebuah keharusan. Data ini, paling tidak, meliputi : – data jemaah yang terkategorikan mampu dan tidak mampu, dengan standar yang ditetapkan oleh pengurus mesjid, termasuk lokasi persebaran tempat tinggalnya – diversifikasi mata pencaharian masing-masing individu jemaah mesjid – latar belakang pendidikan para jemaah, termasuk data kependudukan lainnya yang bersifat standar, seperti usia dan jenis kelamin Pengurus mesjid hendaknya menganalisis pula tingkat partisipasi masing-masing jemaah dalam berbagai kegiatan yang diselenggarakan oleh pihak mesjid. Hal ini dapat dijadikan sebagai indikator komitmen yang bersangkutan didalam memakmurkan mesjid. Mendata potensi ekonomi lingkungan sekitar mesjid Langkah selanjutnya adalah mendata potensi ekonomi masyarakat yang tinggal di sekitar mesjid, termasuk menganalisis potensi strategis lokasi mesjid. Tentu saja mesjid yang berlokasi di daerah perumahan yang mayoritas penduduknya bekerja pada sektor jasa, akan memiliki potensi yang berbeda dengan mesjid yang berlokasi di wilayah yang didiami oleh mayoritas petani atau nelayan. Analisis yang tepat akan menggiring pada pemilihan aktivitas ekonomi yang tepat. Misalnya, untuk wilayah perumahan yang tidak memiliki toko yang menjual kebutuhan dasar rumah tangga, maka mesjid dapat membuka usaha toko untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Atau mesjid dapat membuka usaha pengadaan pupuk murah bagi petani, apabila mayoritas penduduk sekitar mesjid adalah petani, namun memiliki kesulitan didalam mendapatkan pupuk murah. Masih banyak contoh lainnya, akan tetapi yang terpenting adalah pihak pengelola mesjid harus mampu menangkap kebutuhan masyarakat sekitar, sehingga ini akan memberikan ruang dan peluang bagi pengembangan aktivitas ekonomi mesjid. Menggandeng mitra yang berasal dari Bank Syariah, BPRS Syariah, maupun lembaga keuangan syariah (LKS) non bank lainnya Pada langkah selanjutnya, pihak mesjid sebaiknya menggandeng mitra / partner yang berasal dari lembaga keuangan syariah, baik institusi perbankan seperti bank syariah dan BPRS syariah, maupun institusi non bank seperti BMT (Baytul Maal wa at-Tamwil). Hal ini sangat penting untuk dilakukan, disamping sebagai syiar dan dakwah, juga untuk menumbuhkan kesadaran berekonomi secara Islami bagi masyarakat umum. Pihak mesjid pun akan mendapatkan tambahan sumber pembiayaan bagi kegiatan operasionalnya. Bagi pihak bank syariah, hal ini merupakan peluang dan kesempatan untuk memperluas pasar, dengan menyerap segmen masyarakat sekitar mesjid secara lebih optimal. Bahkan pihak bank pun dapat membuka kantor cabang pembantu, atau kantor kas yang berlokasi di sekitar mesjid dengan tujuan untuk menjaring nasabah potensial. Memperkuat jaringan ekonomi dengan mesjid lainnya Didalam era global dewasa ini, salah satu sumber kekuatan bisnis adalah terletak pada kekuatan jaringan yang dimiliki. Semakin luas jaringan, semakin kuat pula bisnis yang dimiliki. Karena itulah, mesjid harus memanfaatkan secara optimal potensi jaringan yang dimilikinya. Jaringan merupakan salah satu sumber kekuatan umat yang harus dikelola dengan baik, sehingga akan memiliki manfaat yang bersifat luas. Sebagai contoh, dengan jaringan yang baik, maka Mesjid A yang memiliki usaha untuk menjual beras petani disekitarnya, akan dapat memasarkan produknya kepada Mesjid B yang membutuhkan pasokan beras bagi kebutuhan masyarakat sekitarnya yang bekerja, misalkan, pada sektor industri jasa. Dengan pola seperti ini, maka dapat dipastikan sektor riil akan bergerak, dan tingkat pengangguran pun dapat diminimalisir karena pihak mesjid dapat mempekerjakan anggota masyarakat yang tidak mendapatkan pekerjaan. Penutup Penulis berkeyakinan, apabila umat Islam memiliki komitmen yang kuat untuk memberdayakan mesjid sebagai pusat kegiatan perekonomian, maka berbagai permasalahan yang terkait dengan rendahnya tingkat kesejahteraan umat akan dapat diatasi. Bahkan bukan tidak mungkin, hal ini akan menjadi sumber inspirasi bagi kebangkitan umat Islam di seluruh bidang kehidupan. Semoga! Wallahu`alam. ——————————————————————————– [1] Penulis adalah Mahasiswa Pascasarjana Ekonomi Islam, International Islamic University Islamabad.