Membawa Batu Jumroh Keluar Tanah Haram

Pertanyaan:

Assalamu'alaikum wr. wb.

Pada tahun 1999, istri saya menunaikan ibadah haji, setibanya di rumah ternyata, istri saya membawa batu sisa untuk Jumroh kira-kira ada 20 buah. Pertanyaan saya apakah batu tersebut dapat kami simpan sebagai kenangan atau harus dikembalikan ke Mina dengan menggunakan jasa kerabat yang akan menunaikan ibadah haji saat ini. Karena ada pendapat bahwa batu dari Musdalifah & Mina tidak boleh keluar dari sana (kalau ada haditsnya dapat juga diinformasikan).

Mohon agar dapat ditanggapi, sebelumnya saya ucapkan terima kasih.

Wassalamu'alaikum wr. wb.
Rudy Nasrullah

Jawaban:

Assalamu'alaikum wr. wb.

Sdr. Rudi,

Termasuk keistimewaan tanah Haram adalah tidak boleh mengeluarkan batu dan debu dari tanah tersebut kelaur tanah haram. Arafah, Muzdalifah dan Mina termasuk wilayah tanah Haram sehingga batu ataupun debu dari wilayah tersebut tidak boleh dibawa keluar dengan sengaja. Ulama berbeda pendapat mengenai hukumnya, Nawawi mengatakan haram, sebagian ulama mengatakan makruh, riwayat dari imam Hanafi mengatakan boleh saja.

Landasan yang mengatakan haram atau makruh mengeluarkan batu atau debu tanah Haram adalah hadist riwayat Syafi'i dan Baihaqi dari Abdul A'la mengatakan "Suatu hari saya bersama ibuku datang ke Mekkah, lalu kami mendatangi Shofiyah binti Shaibah (seorang Sahabiyah) dan beliau menjamu kami, kemudian Shofiyah memberi kami pecahan batu (konon dari batu hajar aswad) kemudian kami membawa potongan tersebut ke luar tanah Haram hingga sampai di satu desa, namun seluruh rombongan kami terkena penyakit. Kamudian ibuku berkata "apa yang menimpa kita tidak lain adalah karena kita telah mengeluarkan batu ini dari tanah Haram" lalu beliau berkata "kembalikan ini (batu) kepada Shofiyah, katakan kepadanya "Allah telah meletakkan di tanah Haram sesuatu, maka tidak layak bagi kita untuk mengeluarkannya". Lalu saya pun berangkat mengembalikan batu tersebut ke tanah Haram. Ketika saya kembali kepada rombongan mereka berkata "Tiba-tiba kami semua sehat kembali saat engkau memasuki tanah Haram, seakan-akan kami bebas dari belenggu".

Imam Mawardi (ulama terkemuka mazhab Syafi'i) mengatakan barangsiapa membawa batu atau debu atau tanaman (yang tidak boleh dibawa atau dimakan) dari tanah haram maka ia harus mengembalikannya, karena Allah telah menjadikan tanah Haram lebih istimewa dari wilayah lainnya,maka tidak boleh bagi siapapun untuk menguranginya dengan membawanya ke luaer wilayah tersebut.

Adapun memasukkan batu atau barang lainnya ke tanah Haram para ulama memperbolehkannya.

Para ulama sepakat bahwa mengelaurkan air zamzam dari tanah haram untuk oleh-oleh atau untuk diambil berkahnya disunnahkan karena dilakukan oleh Rasulullah s.a.w. (H.R. Tirmizi, Baihaqi dll.)

Semoga membantu

Wassalamu'alaikum wr. wb.

Muhammad Niam