Membidik Lailatul Qadar

Dalam bulan Ramadhan ini Allah Swt menurunkan suatu malam yang lebih baik daripada seribu bulan yaitu malam Nuzulul Quran. Mayoritas ulama sepakat bahwa saat diturunkannya wahyu pertama al-Quran yaitu terjadi pada bulan suci Ramadhan. Hal ini juga diperkuat dengan firman Allah swt dalam surat al-Qadr. Sekalipun mayoritas pandangan ulama tentang turunya al-Qur’an terjadi pada bulan suci Ramadhan, namun hal ini tidak menyampingkan adanya perbedaan pendapat seputar tanggal atau waktu turunnya al-Qur’an tersebut. Ada diantara sahabat yang meriwayatkan bahwa nuzulul quran terjadi pada tanggal 17 Ramadhan, ada pula yang mengatakan 21, dan ada pula yang mengatakan tanggal 23, 24 dan seterusnya. Kenapa terjadi perbedaan di antara para sahabat tentang persisnya tanggal nuzulul qur’an tersebut.

Hal ini dapat dijawab, bahwa memang tidak ada keterangan resmi yang datang dari baginda Rasulullah Saw mengenai kapan tepatnya tanggal diturunkannya al-Qur’an tersebut. Sehingga semua perkataan dan pendapat yang sempat ditulis oleh ulama adalah murni hasil ijtihad dan pendapat para sahabat saja.

Dalam sebuah riwayat, pernah dinyatakan bahwa baginda Rasulullah Saw hendak menyampaikan berita gembira tentang kapankah tepatnya malam nuzulul qur’an atau lailatul qadr tersebut. Namun ketika beliau hendak menyampaikan berita tadi, tiba-tiba terdapat dua orang sahabat yang tengah bertengkar sengit di dalam masjid, maka melihat kejadian tersebut Rasulullah enggan menyampaikan kabar berita tersebut.

Namun demikian, sesungguhnya dengan tidak jadinya Rasulullah mengabarkan berita tadi terdapat hikmah yang luar biasa bagi umat seluruhnya. Yaitu, agar kita senantiasa bersungguh-sungguh mencari kapan tepatnya malam tersebut tiba. Dengan tidak adanya kabar yang pasti tentang malam nuzulul qur’an ini, seharusnya membuat kita tidak bermalas-malas dalam mencari anugerah malam tersebut. Justru dikhawatirkan jika kita telah mengetahui pasti waktu malam nuzulul qur’an tersebut, lalu kita hanya mengandalkan hari itu untuk beribadah kepada Allah, sementara pada waktu-waktu lainnya kita tinggalkan tanpa nilai ibadah sedikitpun. Tentu hal ini amat sangat bertolak belakang dengan semangat Ramadhan yang merupakan bulan yang tidak hanya menuntut keimanan kita, namun juga keihlasan hati kita untuk beribadah selama satu bulan penuh ini, atau dalam bahasa agamanya biasa kita kenal dengan istilah “al-imân wa al-ihtisâb.”

Lalu bagaimana sejarahnya, kenapa kita dan khususnya masyarakat muslim Indonesia memperingati nuzulul qur’an ini pada tanggal 17 Ramadhan seperti saat sekarang.? Ternyata jika kita membaca sejarah bangsa kita, peringatan nuzulul al-Qur’an yang jatuh pada tanggal 17 Ramadhan ini tidak lepas dari gagasan H. Agus salim dan persetujuan Bung Karno (Presiden RI pertama). Seperti yang kita maklum bahwa bangsa kita mendeklarasikan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945 dan bertepatan dengan bulan Ramadhan hari Jum’at. Maka sebagai rasa syukur yang tiada terhingga atas nikmat kemerdekaan ini pula,perayaan nuzulul Qur’an disamakan tanggalnya yaitu sama-sama mengambil angka 17 bulan Ramadhan. Seakan-akan para fouding fathers kita hendak mengatakan bahwa, mensyukuri nikmat kemerdekaan, tidak kalah dengan mensyukuri nikmat turunnya al-Qur’an sebagai petunjuk dan pedoman umat Islam. Maka mulai saat itu -di zaman Bung Karno- sampai sekarang peringatan nuzulul Qur’an senantiasa diperingati di istana Negara pada tanggal 17 Ramadhan dan kerap diikuti oleh sebagian besar umat muslim di Indonesia.

Pada malam ini diterangkan dalam al-Qur’an surat al-Qadr, bahwa atas izin Allah Swt, Malaikat Jibril dan para Malaikat lainnya turun ke bumi menyampaikan salam dan mendengarkan apa yang diucapkan dalam doa-doa kita. Tidak benar menurut DR. Muhammad Sayyid Thanthawi (Syeikh al-Azhar), bahwa turunnya Lailatul Qadr ditandai dengan munculnya cahaya yang terang yang terlihat oleh orang yang tengah beribadah, keterangan dari ulama berupa tanda pada keesokan harinya, bahwa matahari terbit dengan cahaya yang terang namun tidak terik. Doa yang dianjurkan untuk dibaca pada malam ini adalah, berdasarkan hadits dari Aisyah RA:
اللهم انك عفو تحب العفو فاعف عني

artinya: ”Ya Allah, sesungguhnya Kau Maha penerima ampun, menyukai permohonan ampun, maka ampunilah dosa aku”.

Semoga dengan momentum Nuzulul Qur’an ini, kita dapat tergugah untuk meningkatkan kadar keimanan kita kepada Allah Swt, khususnya malam ini pula menyimpan misi wahyu pertama tentang perintah membaca (Iqra’). Dan tentunya bacaan yang senantiasa bisa mendekatkan diri kita kepada hidayah Allah swt. Sebab apa gunanya ilmu, jika ia hanya akan menjauhkan diri kita dari Allah swt.