Mencurigai Pemberian Orang Lain: Halal atau Haram?

Tanya:

Assalamualaikum Wr. Wb.

1. Bila kita menerima uang pemberian dari seseorang di mana kemungkinan besar uang itu berasal dari sesuatu yang haram, haramkah uang itu dan bila kita berikan pada orang lain apakah masih menjadi haram?

2. Bila sudah melaksanakan salat jum'at masihkah kita wajib salat dhuhur?

3. Bila kita dalam keadaan haid bolehkah kita berdzikir atau berdoa?
Sekian pertanyaan dari saya. Terimakasih.

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.
Tia – Solo

Jawab:

1. Dalam persoalan pemberian (atau apa saja yang kita dapat dengan cara halal), baik uang, makanan, pakaian, atau barang lainnya, yang kita tidak mengetahui asal-usul bagaimana barang itu didapat, maka kita hukumi saja sebagai halal.

Dalam kasus seperti ini, berlaku sebuah kaidah "maa ghaaba 'anna laa nas'alu 'anhu" (apa saja yang tidak kita ketahui detailnya, kita tak perlu mempertanyakaannya). Maksudnya, jika memang nampak bagi kita itu sesuatu yang baik/halal, ya halal hukumnya kita manfaatkan. Kita tak perlu ragu-ragu.

Kecuali jika sampai ke tingkat patut dicurigai. Kita mempunyai dugaan keras bahwa barang yang diberikan itu barang haram. Misalnya kita menerima pemberian dari orang yang suka berjudi. Maka kita perlu mencari tahu asal-usul barang yang diberikan tersebut. Selama kecurigaan kita belum hilang, sebaiknya kita jangan menggunakan (baik kita manfaatkan sendiri atau kita berikan kepada orang lain) pemberian tersebut. Atau kita tempuh jalan pintas: mengembalikan barang tersebut kepada si pemberi.

Itu hampir sama dengan sebuah pemberian yang lebih mendekati praktek suap. Karena kita mempunyai jabatan penting, misalnya. Sehingga kita perlu mencurigai si pemberi, jangan-jangan ada udang di balik batu. Maka kita harus mencari tahu, sampai kecurigaan kita hilang. Jika memang lebih mendekati kasus penyuapan, maka sebaiknya kita jangan menerima pemberian itu. Atau pilihan lain, melaporkannya kepada yang berwajib (polisi), jika sekiranya persoalan beri-memberi itu memasuki wilayah kriminalitas.

2. Salat Jum'at hanya diwajibkan atas orang mukalaf (sudah baligh dan berakal), merdeka, laki-laki, berdomisili (tidak seseorang yang dalam perjalanan jauh), sehat, tidak punya udzur. Selain orang-orang tersebut di atas, tidak wajib mengikuti jama'ah jum'at, tidak pula disunnatkan. Namun, jikalau atas kehendaknya sendiri mereka mengikut jum'atan, maka sah saja hukumnya dan kewajiban Zhuhur menjadi gugur.
Sama halnya dengan orang yang dalam perjalanan jauh (musafir), jika ia berpuasa juga dalam keadaan dia masih musafir maka sah puasanya, dan tidak wajib mengqadha' lagi.

3. Seseorang yang sedang haid tetap diperbolehkan melakukan dzikir dan berdoa. Yang tidak boleh adalah membaca al-Qur'an (menurut mayoritas ulama, selain Malikiyah). Menurut Malikiyah, perempuan haid boleh membaca al-Qur'an tanpa menyentuhnya. Lebih lengkapnya lihat "Tanya Jawab(20) Membaca Yasin dalam Masa Haid" di website.
Wallahua'lam bisshawaab.

Wassalamualaikum Wr. Wb.
Arif Hidayat