Mendoakan Saudara tidak seiman

——-
Tanya
——-
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
ssalamu'alaikum Ibu saya orang asing dan saya punya adik perempuan. Orang tua kami bercerai ketika saya berumur 4, 5 tahun dan adik saya masih bayi. Ibu membawa adik kembali ke negaranya dan meninggalkan agama Islam. Adik saya praktis tidak pernah mengecam pendidikan Islam. 7 tahun yang lalu ayah meninggal dan sekarang umur saya 42 tahun, adik perempuan saya 40 tahun. Walaupun telah bercerai dengan ayah, hubungan saya dengan ibu dan adik tidak pernah terputus, ibu dan adikpun sering berkunjung ke Indonesia dan kalau datang selalu kemakam ayah. Yang ingin saya tanyakan adalah,

1. Adakah do'a yg boleh saya panjatkan untuk ibu saya itu, atau saya tidak boleh sama sekali berdo'a untuk ibu ?

2. Apakah saya memiliki kewajiban untuk menarik ibu agar menjadi mus- limah lagi ?

3. Demikian juga terhadap adik perempuan saya, usianya sudah 30 lebih, apakah saya juga wajib untuk menariknya menjadi muslimah ?

4. Sebagai seorang muslim, bagaimanakah sebaiknya saya bersikap terhadap ibu dan adik saya ? 5. Berdosakah ayah saya karena ibu keluar dari Islam? Atas jawabannya saya ucapkan banyak terima kasih Surya

——–
Jawab
———
Assalamu'alaikum wr. wb.
Dalam sebuah hadist riwayat Muslim dikatakan : ketika Abu Talib, paman Rasulullah dalam keadaan sekarat, Rasulullah mendatanginya saat itu disampingnya ada Abu Jahl dan Abdullah bin Abi Umayah, Rasulullah mengajaknya mengucapkan "laailaah illallaah", namun Abu Jahl dan Abdullah membujuknya agar tetap mengikuti agama Abdul Muttalib (paman tertua). Demikian hingga Abu Talib meninggal dunia tidak dalam keadaan beriman, lalu Rasulullah berkata "Demi Allah aku akan memintakan ampunan Allah selagi tidak dilarang, lalu turunlah ayat surah Taubah:113-114 "Tiadalah sepatutnya bagi Nabi Muhammad dan orang-orang yang beriman memintakan ampunan kepada Allah bagi orang-orang musyrik, walaupun mereka itu adalah kaum kerabatnya, sesudah jelas bagi mereka, bahwasannya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka Jahannam. Dan permintaan ampun Ibrahim untuk bapaknya, tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya kepada bapaknya. Tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya itu musuh Allah maka Ibrahim berlepas diri dari padanya. Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun.

Qurtubi membahas panjang lebar masalah ini dan mengemukakan pendapat bahwa mendo'akan orang kafir yang masih hidup hukumnya boleh, seperti yang dilakukan Rasulullah ketika mendapatkan perlakuan kurang baik dari kaumnya yang musyrik "Ya ALlah tunjukkanlah kaumku karena mereka tidak tahu". Rasulullah juga pernah berdoa agar Umar masuk Islam hingga akhirnya dikabulkan oleh Allah.

Adapun mendoakan orang kafir yang telah meninggal dan diketahui ia meninggal dalam keadaan kafir, hukumya tidak boleh seperti dijelaskan ayat di atas. Dalam sebuah riwayat Rasulullah s.a,w, meminta kepada Allah agar diizinkan berdoa untuk mendiang ibunya, namun Allah tidak mengizinkannya dan beliau hanya diizinkan untuk menjenguk makamnya. (H.R. Muslim).
******

Dengan demikian Bapak diperbolehkan mendoa'an ibu dan saudari Bapak yang masih hidup. Sebaiknya didoakan agar keduanya mendapatkan hidayah ALlah dan mau kembali ke jalan yang benar. Bapak wajib menyampaikan Islam kepada ibu dan adik Bapak yang telah meninggalkannya. Masalah mereka mau kembali atau tidak, itu masalah hidayah, hanya Allah yang memberikan kepada hati hambanya. Keimanan tidak bisa dipaksakan. Tugas kita sebagai muslim adalah menyampaikan kebenaran. Dalam agama Islam tetap dianjurkan berbuat baik kepada siapa saja, bahkan kepada mereka yang tidak seagama pun. Rasulullah meluangkan waktunya untuk menjenguk tetangganya, seorang wanita yahudi yang sakit, meskipun ia tidak muslim. Dalam islam tidak dosa yang ditanggung orang lain dan tidak ada orang yang bisa menanggung dosa orang lain. Masing-masing individu bertanggung jawab atas perbuatan dan amalnya. Semoga membantu

Wassalam

Muhammad Niam