Mengenai Dzihar

Pertanyaan:

Assalamu'alaikum wr. wb.

Berdasarkan arsip tanya jawab edisi 270 tertanggal 27 maret 2002 mengenai masalah sumpah disitu ada diterangkan mengenai Dzihar, yaitu menyamakan isteri dengan ibunya, jadi saya ingin menanyakan apa yang dimaksud dengan dzihar tersebut? Tolong sudi kiranya saudara-saudaraku pengasuh Pesantren Virtual ini dapat menjelaskan.

Wassalamu'alaikum wr. wb.

Iwan

Jawaban:

Assalamu'alaikum wr. wb.

Dzihar didefinisikan sebagai tindakan menyerupakan isteri dengan perempuan yang diharamkan (muhrim) baginya (dengan tujuan mengharamkan sang isteri bagi dirinya dan mengharamkan orang lain untuk menikahinya karena belum dicerai.

Dzihar merupakan kebiasaan masyarakat Arab kuno dalam menghukum atau menzalimi isterinya. Mereka mengucapkan kata-kata dzihar, semisal "punggungmu seperti punggung ibuku" demi mengharamkan isterinya bagi dirinya dan sang isteri tidak bisa dinikahi oleh orang lain karena belum diceraikan secara resmi.

Sebelum ayat Dzihar (al-Mujadalah 1-4) turun, di dalam masyarakat Arab bila seseorang telah mendzihari isterinya, haram baginya mengumpuli isterinya dan haram bagi sang isteri untuk menikah dengan orang lain untuk waktu yang tidak ditentukan, karena waktu itu belum ada hukum yang mengatur tata cara menghentikan konsekwensi hukum dari dzihar.

Setelah turun ayat tersebut, dzihar diharamkan sekaligus diberikan jalan keluar bahwa seorang suami yang terlanjur mendzihari isterinya maka ia bisa menebusnya dengan kaffarah, yaitu memerdekakan budak, kalau tidak mampu maka puasa dua bulan berturut-turut dan kalau tidak mampu maka memberi makan orang miskin sebanyak 60 orang. Dengan membayar kaffarah tersebut isteri yang telah terkena bisa halal kembali dengan syarat membayar kaffarah sebelum berhubungan badan. Ayat dzihar turun karena seorang perempuan mengadu kepada Rasulullah karena telah didzihari suaminya dan menuntut hak-haknya.

Jadi dzihar hanya berlaku dari suami kepada isteri dan dengan tujuan mengharamkan sang isteri untuk dikumpuli karena disamakan dengan orang yang diharamkan baginya, misalnya ibu atau bibi. Para ulama juga mengatakan bahwa dzihar hanya bisa dilakukan oleh suami karena dzihar merupakan salah satu dari model talak yang berlaku pada zaman jahiliyah, yaitu menceraikan isteri dalam hal hubungan badan saja, namun ia masih menjadi isterinya secara status hukum.

Mensifati isteri dengan ketentuan seperti di atas itulah yang disebut dzihar. Adapun mensifati isteri atau suami dengan tujuan memuji atau memberikan apresiasi dengan tujuan menyenangkan orang lain, tentu tidak termasuk dalam ketentuan mengucapkan dzihar yang dijuluki dalam ayat tersebut sebagai "perkataan yang mungkar dan dosa".

Namun hendaknya dalam memberikan pujian akan lebih baik kalau menggunakan ungkapan-ungkapan yang tidak menyerempet kepada hal-hal yang bisa dilarang agama. Semoga membantu.

Wassalamu'alaikum wr. wb.

Muhammad Niam