Meninggal dalam Keadaan Masih Utang Puasa

Puasa adalah suatu kewajiban yang harus dilaksanakan oleh umat Islam yang tidak berhalangan. Adapun halangan yang dimaksud telah kita bahas di awal. Orang yang dengan sengaja tidak berpuasa, sekalipun ia mengqadha puasa di lain waktu, nilai ganjaran yang diperoleh hakikatnya tidak sebanding dengan ketika ia berpuasa pada bulan Ramadhan tersebut. Di tambah lagi dengan adanya unsur maksiat akibat kesengajaannya untuk tidak berpuasa.

Sekarang bagaimana dengan orang yang meninggal dunia namun ia masih meninggalkan utang puasa. Apakah hutangnya tersebut dengan sendirinya menjadi lunas sebab kematiannya, ataukah tanggungan hutang tersebut masih ada, lalu bagaimana cara melunasinya.?

Kondisi pertama, jika seseorang dalam  keadaan sakit atau safar (perjalanan) dan ia tidak berpuasa, atau dalam kondisi dimana memang ia dibolehkan untuk tidak berpuasa, dan tiba-tiba ia meninggal. Maka ia tidak memiliki kewajiban untuk mengqadhanya. Namun  kondisi kedua, jika ia telah sembuh dari sakitnya atau sang musafir sudah sampai ke tujuannya, lalu ia meninggal sedang ia masih tidak berpuasa. Maka kewajiban untuk mengqadha tetap ada.

Gugurnya mengqadha dalam kondisi pertama dikarenakan yang bersangkutan telah mendapatkan rukshah (keringanan) dari Allah Swt untuk tidak berpuasa, karena kewajiban berpuasa tidak ada padanya. Sedangkan kondisi kedua, dengan kesembuhannya dari penyakit atau sampainya seseorang ke tempat tujuan, maka hukum rukhsah sudah tidak berlaku lagi. Maka puasa menjadi sebuah kewajiban kembali atasnya.

Lalu bagaimana caranya mengqadha puasa bagi orang yang sudah meninggal tersebut. Terdapat dua cara yang dapat dilakukan oleh ahli waris (wali) orang yang meninggal, yaitu:

Pertama; ahli waris (walinya) dapat melaksanakan puasa dengan niat  khusus atau mengatasnamakannya. Keterangan ini diambil dari hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah RA, ”Barangsiapa yang meninggal dunia, sedang ia memiliki utang puasa, maka walinya dapat melakukan puasa atas namanya” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dalam keterangan hadits lain yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas RA, ”seseorang lelaki datang kepada Rasulullah Saw, seraya berkata, ”ibuku telah meninggal, sedang ia memiliki tanggungan puasa, apakah aku dapat berpuasa dengan niat atas namanya?, lalu Rasulullah berkata: Ya, kamu dapat melakukannya, sebab utang kepada Allah Swt lebih utama untuk dilunasi” (HR. Bukhari dan Muslim).

Yang perlu dicatat dalam hal puasanya ahli waris (wali) ini adalah bukan dalam konteks kewajiban mengqadha, melainkan dalam konteks kebaikan (al-birru) yang hukumnya mubah (boleh). Sebab dalam Islam sesungguhnya seseorang tidak diwajibkan melunasi utang orang lain, kecuali sekedar sebagai sebuah kebaikan dan menjaga hubungan kemanusiaan saja. Dalam kaedah fikih dikatakan, ”Inna al-ashla barâtu al-dzimmati” (hukum asal adalah bebasnya seseorang dari suatu kewajiban/tanggungan). Namun dengan kebaikan ahli waris (wali) tersebut, dapat menjadikan hutang atau tanggungan puasa yang menempel pada orang yang meninggal menjadi lunas atau bebas.

Cara kedua, ahli waris (walinya) memberikan makan fakir miskin (fidyah) dengan niat untuk orang yang meninggal tersebut, sejumlah hari puasa yang ia tinggalkan. Harta fidyah ini berasal dari harta warisan (tirkah) yang ditinggalkan oleh sang mayit.

Dengan kedua cara ini insya Allah hutang puasa bagi orang yang telah meninggal dapat terlunasi. Dari keterangan di atas dapat kita simpulkan bahwa sesungguhnya orang yang telah meninggal masih mendapat pahala atau suatu konsekwensi kebaikan yang dilakukan atau dipersembahkan oleh walinya yang masih hidup, baik itu keluarga, kerabat atau orang lain. Seperti halnya dengan doa atau permohonan ampun yang sering kita kirimkan kepada orang yang telah meninggal pun demikian, akan sampai kepada mereka.

Termasuk dengan ibadah haji, sekiranya orang tua atau saudara kita meninggal dan belum berkesempatan menunaikan ibadah haji, maka jika kita memiliki harta yang lebih dan mampu secara syariat, maka kita dapat melaksanakan haji dengan niat untuk mereka yang telah meninggal, atau yang biasa kita sebut dengan haji badal. Lagi-lagi yang kita lakukan ini hanyalah sebuah kebajikan dan bukan kewajiban, namun nilai dari kebajikan yang kita lakukan ini dapat berkonsekwensi pada telah terlunasinya kewajiban orang yang telah meninggal dunia.

Bukankah Nabi Muhammad Saw pernah berkata bahwa harta yang baik adalah yang berada di tangan orang-orang yang baik, dan bukankah doa dan amalan-amalan baik orang yang masih hidup akan sampai kepada orang yang telah meninggal. Sungguh ini membuktikan bahwa ajaran Islam adalah ajaran yang menjunjung tinggi kemanusiaan, bukan hanya ketika seseorang masih hidup, melainkan sampai ia terbujur kaku di liang lahad. Subhânallâh.