Menyalurkan Zakat(4)

Tanya:

Saya mulai bekerja tahun 1994, sementara saya mulai bayar zakat tahun 1988 karena mulai tahun 1988 saya benar2 bisa menabung secara teratur. Zakat saya bayarkan perbulan, yaitu 2.5% dari pemasukan minus pengeluaran paling minim.
Yang saya tanyakan:

  1. Dari periode 94-98 saya hanya sesekali menabung, jumlahnya tidak tetap. Apakah sekarang saya harus membayar zakat yang seharusnya saya bayar dari 94-98 ??
  2. Menjadi orang tua asuh anak tidak mampu apakah sesuai dengan sasaran zakat??
  3. Harta (misalnya rumah, tabungan) apakah harus dizakati 2 kali?? Hal ini mengingat bahwa barang2 tsb dibeli dengan uang tabungan, dimana tabungan berasal dari sisa pemasukan yg telah dikeluarkan zakatnya. Maaf, saya menghitung zakat dengan pemasukan minus pengeluaran biaya hidup yang paling minim.
  4. Apakah cara menghitung zakat saya dapat dibenarkan? Mengingat saya tidak memasukkan kiriman ke orang tua, cicilan KPR atau hutang yang lainnya ke dalam pos pengeluaran.

Terima kasih.
Wassalam,
IP

Pak Ustadz, misalnya saya memiliki uang di bank 100 juta. Uang ini dulu hasil dari gajian bulanan dan berkebun yang telah saya zakati kemudian saya tabung di bank. Pertanyaan saya adalah apakah uang tersebut sekarang harus saya zakati lagi atau hanya bunganya saja yang wajib saya zakati. Mohon penjelasan, terima kasih.
Mohon saya juga dijadikan anggota mailing list.

Susilo

Jawab:

Untuk menentukan wajib dan tidaknya seseorang membayar zakat hartanya, ada prinsip nisab. Nisab itu senilai dengan 85 gram emas atau sekitar Rp 6,8 juta. Jadi, kalau harta Anda tidak mencapai nisab pada tahun-tahun 1994-1998 maka tidak wajib zakat. Misalnya dalam pada tahun 1995 (setahun setelah Anda bekerja) tabungan Anda tidak mencapai nisab, ya tidak wajib membayar zakat.

Anda baru diwajibkan membayar zakat di saat setahun setelah simpanan Anda mencapai nisab. Misalnya pada Agustus 1996 simpanan Anda telah mencapai nisab, maka Anda baru wajib mengeluarkan zakatnya pada Agustus 1997. Seterusnya, untuk kedua kalinya, pada Agustus 1998. Demikian seterusnya. Jadi, kalau benar di antara 1994-1998 harta Anda pernah mencapai nisab, dan stabil terus bisa bertahan bahkan terus berkembang maka sejak saat itulah Anda harus mengeluarkan zakat. Kalau saat itu belum, ya harus diqadha’. Tinggal sekarang Anda ingat-ingat, kira-kira sejak kapan simpanan Anda telah mencapai nisab.

Perlu diingat pula, kalaupun sejak 1998 Anda telah mampu teratur menabung, apakah tabungan Anda itu mencapai nisab atau belum? Sebab kalau belum, maka Anda tidak wajib membayar zakat.

***
Perihal menjadi orang tua asuh anak yang tak mampu, benar itu sesuai dengan sasaran zakat. Tapi setiap tindakan itu tergantung niatnya. Soalnya, di samping zakat (yang wajib hukumnya), ada juga sedekah (yang tidak wajib hukumnya). Boleh saja biaya yang Anda keluarkan untuk menyekolahkan anak yang tak mampu itu Anda niati sebagai pembayaran zakat. Karenanya kewajiban zakat Anda telah gugur. Kalau tidak diniati, ya hanya sekedar menjadi sedekah.

***
Termasuk prinsip dalam penentuan dan perhitungan zakat harta ini adalah menjelangnya masa setahun. Maksudnya, zakat harta itu harus dikeluarkan tiap tahunnya. Kalaupun ada istilah dua kali dalam melakukan zakat, itu berarti 2 kali dalam setahun. Seperti kata Nabi "laa tsanaa fi al-shadaqah" (tidak ada pengulangan 2 kali dalam shadaqah [maksudnya zakat]). Ini jangan sampai terjadi.

Jadi, misalnya Anda mempunyai simpanan sebesar Rp. 10 juta, setahun lamanya, sejak Oktober 1999. Maka Anda wajib mengeluarkan zakatnya pada Oktober 2000, sebesar 2,5%-nya. Nanti pada Oktober 2001 Anda harus mengeluarkan zakatnya lagi, karena telah menjelang setahun sejak Oktober 2000.

Catatan: rumah pribadi, yang Anda diami tidak wajib dizakati. Begitu juga semua perabot rumah yang masih dipergunakan, mobil pribadi, perhiasan yang dipakai oleh istri Anda, semua ini tidak wajib dizakati. Pada prinsipnya, semua harta yang masih difunsikan sendiri itu tidak ada zakatnya.

***
Salah, kalau Anda tidak memasukkan beberapa pengeluaran yang Anda sebut itu ke dalam daftar pengeluaran. Semua nafaqah (kiriman) untuk orang tua, dan pengeluaran-pengeluaran lain yang memang wajib dikeluarkan, menjadi kebutuhan, masukkan saja ke daftar pengeluaran. Sampai akhirnya benar-benar jelas berapa besar sisa harta Anda dalam setahun, setelah dikurangi pengeluaran selama setahun. Kalau sisanya masih –minimal– menyamai nisab, maka Anda termasuk orang yang wajib zakat.

***
Berdasar prinsip "Tahunan", yakni setiap satu tahun zakat harus dikeluarkan, cukup untuk menjawab pertanyaannya Mas Susilo.

Misalnya saja, dari hasil panen 10 hektar sawah/kebun yang kita miliki telah kita keluarkan zakatnya tiap kali panen. Dan setiap kali panen kita bisa menyisihkan Rp. 1 juta untuk ditabung. Maka status uang Rp. 1 juta ini adalah sebagai harta simpanan, yang wajib dizakati.

Wallaahu a’lam.

Arif Hidayat