Menyikapi Berbagai Perbedaan(2)

Tanya:

Assalamualaikum Wr. Wb.

Mengapa harus bersandar kepada keempat Imam (Madzhab) atau yang lainnya (siapa lagi ? ), padahal dalam Alquran dan Hadist Nabi pun sudah jelas bahwa yang harus diikuti adalah Alquran dan Assunnah.
Mohon penjelasannya. Terima kasih

Wassalamualaikum Wr. Wb.
Rachman Sunarco

Jawab:

Bermazhab berarti mengikuti pendapat seseorang. Jika kita mengikuti Imam Syafi'iy, maka kita disebut Syafi'iyah atau pengikut mazhab Syafi'iyah, mengikuti Imam Hanafy.. Hanafiyah, begitu seterusnya. Bahkan banyak sekali Muslim yang tak tahu siapa imam madzhab yang diikutinya. Dia hanya mengikuti nasehat dan petuah kiai di kampung atau desanya. Sang kiai mengetahui ajarannya dari membaca kitab kuning. Kitab kuning dikarang atau disusun oleh seorang alim, kebanyakannya orang Arab. Si alim ini tidak melandaskan pada hasil ijtihad murninya, namun masih mengikuti pendapat imamnya. Kalau imamnya seorang Syafi'iy disebutlah dia Syafi'iyah, kalau Maliki Malikiyah, Hanafi Hanafiyah dst.

Begitulah kebanyakan jaringan intelektual yang terbentuk di Indonesia. Kebanyakan muslim di Indonesia berada pada susunan yang ketiga bahkan keempat. Karena mayoritas kitab-kitab yang dipedomani para ulama adalah karangan para ulama yang berhaluan Syafi'iyah, terang saja mereka disebutlah Syafi'iyah.
Walaupun kebanyakan mereka tidak tahu mengapa melakukan doa qunut di salat Subuh, mengapa salat tarawih 20 raka'at tidak 8 raka'at, mengapa harus membatalkan wudlu setelah bersentuhan dengan perempuan (bukan mahram), dll. Kebanyakan mereka "pasrah bongkokan" (taklid) kepada kiainya. Apa kata kiai harus dita'ati.
Orang-orang yang pada tingkatan ini biasa disebut sebagai taklid buta. Karena tak mengetahui apa dasar/dalil dari Quran dan Sunnah sebuah tindakan. Tak mau tahu apa dasarnya, yang penting kiainya mengatakan A maka ia harus melakukan persis A. Itulah taklid.

Sikap taklid pada dasarnya boleh-boleh saja, namun yang lebih terpuji adalah taklid disertai dengan mengetahui dalil/dasar tindakan yang ia ikuti. Lebih terpuji lagi bila ia mengetahui mengapa ia harus taklid yang ini, kok bukan yang itu, melakukan perbandingan dipilih mana yang lebih unggul (rajih). Dan lebih terpuji lagi bila mampu menggali hukum (istinbath) langsung dari sumbernya (Quran dan Sunnah) walaupun masih mengikuti fomula-formula atau metoda (ushul fiqih) orang lain. Dan tentu paling terpuji jika berijtihad murni berdasar rumus-rumus yang ia ciptakan sendiri.

Tapi apakan semua orang bisa mencapai tingkatan yang tertinggi? Tentu tidak bukan. Semua orang memang dituntut, kalau bisa, berijtihad sendiri, tapi apakah hal itu mungkin terjadi nyata? Bagaimana seorang karyawan harus menongkrongi kerjaannya, petani harus rajin ke ladang, penyiar harus menyiapkan dan menyampaikan laporan-laporan tepat waktu, polisi harus sigap berjaga, dll. Semuanya merupakan tugas harian. Lalu kapan membaca dan mengkaji sebuah pemikiran? Mungkinkah?

Tingkatan-tingkatan itu semua tentu hanya berlaku bagi kalangan yang bertugas. Siapa? Ya para kiai dan ustad itu. Tingkatan-tingkatan itu tidak berlaku lagi bagi selain kiai dan ustad. Yang lain tetaplah jadi karyawan yg baik, polisi yang sigap, penyiar yang disiplin, dst. Semuanya tetap pada tugas masing-masing. Namun demikian, jangan terus beranggapan kiai dan ustad lebih berhak masuk sorga daripada polisi, karyawan, guru SD, dll.

Kalaupun semua orang itu beragama, dan para kiai itu bertugas menuntun bagaimana beragama yang baik, itu tidak serta merta menunjukkan bahwa kiai lebih "beragama" dari orang lain. Kalaupun semua orang ingin masuk sorga, dan para ustad berkewajiban menunjukkan jalannya, itu tidak serta merta berarti para ustad mesti barisan pertama yang akan masuk sorga. Semuanya saling membutuhkan. Kiai butuh makan, dengan demikian berarti butuh petani. Petani butuh pupuk, otomatis butuh pabrik dan karyawan. Semua orang memerlukan informasi, maka ditugaskanlah para penyiar. Teruuus berputar saling membutuhkan.

Dari gambaran di atas, relakah seorang polisi, penyiar, karyawan, dll dianggap tersesat atau setidaknya menempati posisi terakhir saat masuk sorga kelak, karena tidak mampu berijtihad? Tentu tidak bukan.

Jika demikian, apa yang paling berharga dan mampu mendekatkan diri kepada Tuhan, sehingga kita tidak akan tersesat menuju sorga? Jawabnya, tiada lain adalah keikhlasan. Karena kedekatan seorang hamba dari Tuhannya tergantung pada kadar keikhlasannya. Keikhlasan adalah kesadaran pada diri sendiri, pengetahuan akan diri sendiri, penghargaan dan rasa kasihan dan sayang atas diri sendiri. Jika kita seorang polisi, sadarlah sebagai polisi. Sadar berarti mengetahui apa tugas kita dan melaksanakannya dengan baik dan ikhlas.
Dalam beragama, cukup kita mengikut apa kata orang yang bertugas, yaitu para kiai dan ustad, dan melakukannya dengan ikhlas. Itulah yang disebut mengetahui, mengasihani dan menghargai diri sendiri. Begitu juga yang penyiar dan karyawan.

Terus di mana posisi kiai? Kiai, hendaknya diterjemahkan sebagai profesi bukan sebagai atribut yang berarti kesalehan. Sebagaimana layaknya sebuah profesi, ia bisa saja mengalami penyalahgunaan, penyelewengan, dan hal-hal yang tak terpuji lainnya. Kiai adalah orang yang paham ilmu-ilmu agama. Itu saja. Karena paham seluk-beluk beragama, tentu tugas dia menunjukkan bagaimana beragama yang baik.

Dengan demikian, tidak mungkinkah seorang kiai melakukan penyelewengan? Sangat mungkin. Di saat dia tidak menghargai dirinya sendiri, tidak mengenali dan menyayangi dirinya sendiri, maka dia berpotensi melakukan kesalahan dan penyelewengan. Segala tindakannya disangkutkan dengan materi. Dia tidak lagi merdeka karena kemerdekaannya telah diinjak-injak dan dijajah oleh materi. Begitu juga kiai dan ustadz yang menjadikan fikih, ushul fikih, dll sebagai tujuan akhir. Yaitu kiai dan ustadz yang terikat pada teori-teori fikih dan ushul fikih yang diaketahuinya. Kiai dan ustadz seperti ini akan mudah menyesatkan orang lain yang tidak seide dengannya.

Demikian. Semoga kita semua termasuk orang-orang yang menang berkat puasa selama Ramadhan. Amin ya Rabbal 'aalamiin.
Wallahua'lam bisshawaab.

Arif Hidayat