Nyawa foto?

Tanya:

Assalamualaikum Wr. Wb.

Saya punya teman, teman saya itu sama sekali tidak mau difoto, alasannya bahwa nanti di alam baka dia harus memberi nyawa foto tersebut. Yang mau saya tanyakan, benarkan pernyataan tersebut? Dan adakah hadis yang membenarkan pernyataan tersebut?

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.
Rina K – Bandung

Jawab:

Kawan Anda itu berarti terpengaruh sekali dengan hadis yang menyatakan bahwa pembuat gambar kelak (di akherat) dituntut untuk meniupkan nyawa pada gambar yang dibuatnya.

Bunyi hadis itu, "Barang siapa membuat gambar maka di hari Kiamat ia dituntut meniupkan nyawa ke dalam gambar yang dibuatnya. Dan ia tidak akan mampu meniupkan nyawa selamanya." (Riwayat Bukhari).

Kebanyakan ulama menandaskan, alasan keharaman itu terletak pada kehendak menyaingi ciptaan Allah.

Seperti Syaikh Muhammad Bukhit al-Muthi'iy (almarhum), mantan Mufti Mesir (1915-1920), menyatakan "bahwa pengambilan gambar dengan kamera -yang merupakan penangkapan bayangan dengan cara tertentu oleh fotografer- bukanlah termasuk dalam kategori gambar yang dilarang.

Karena gambar yang dilarang, yang dimaksud, adalah membuat dan mewujudkan gambar yang belum ada sebelumnya, yang dengannya bisa disebut menyaingi ciptaan Allah. Seperti ini tentu tidak terdapat dalam kasus fotografi, karena kegiatan memotret berarti mewujudkan obyek yang telah nyata ada ke dalam gambar.

Maka sekarang, tinggal dilihat niatnya, apakah hasil pemotretan itu bertujuan untuk menyaingi ciptaan Allah? Atau setidaknya ada unsur penyakralan?

Memang, ada juga yang mengharamkan semua gambar, tanpa kecuali. Ada juga yang menghukuminya makruh dalam semua bentuk gambar termasuk fotografi.

Namun, yang pasti, semuanya sepakat memberi keringanan jika gambar tersebut penting adanya dan perlu demi kemaslahatan, seperti foto kartu pengenal, paspor dan lain-lainnya yang tidak terdapat unsur pengagungan atau pun kekhawatiran dalam akidah. Demikian, Wallahua'lam bisshawaab.

Wassalamualaikum Wr. Wb.
Muhammad Soheh