Pekerjaan Hasil Suap

Tanya:

Bagaimana hukum gaji yang kita dapat setiap bulan bila pekerjaan yang kita dapatkan itu dengan jalan menyuap (memberi uang) kepada seseorang diinstansi tsb untuk "melicinkan jalan" agar dapat diterima sebagai pegawai diinstansi tsb?

Sifa Urido – Samarinda

***
Saya sudah tiga tahun ini kerja sebagai pegawai negeri di Badan Meteorologi dan Geofisika, pendidikan terakhir diklat meteorologi tahun 1995. Untuk masuk diklat ini saya sempat dua kali test penerimaan. Dan pada test pertama saya berhasil menyingkirkan ratusan pendaftar, dan selalu menduduki peringkat pertama di setiap test. Tapi di test terakhir saya tersisih diantara 4 yang diterima dari tujuh orang.

Tahun berikutnya saya mengulangi test, dan berkat bantuan seseorang saya bisa berhasil diterima diantara 3 orang dengan menyingkirkan ratusan yang lain. Dan orang tersebut bilang itu prestasi saya sendiri. Setengah tahun berikut saya dengar kabar dari orang tua, katanya disuruh bayar ke orang itu sebesar lima ratus ribu di tahun 1996. Mungkin untuk suap atau apa? Saya tidak tahu.

Nach redaksi yang terhormat sekarang saya bisa bekerja menjadi PNS setelah lulus dari diklat tersebut. Yang saya tanyakan apakah gaji saya itu halal atau haram kalau memang kenyataannya saya masuk dari hasil suap? Sedangkan hampir semua teman saya berbuat demikian.

Demikian pertanyaan saya mohon nama dan alamat saya dirahasiakan. Atas perhatiannya saya ucapkan terima kasih.

Karnaen – Makassar

Jawab:

Perlu diketahui bahwa perbuatan baik apapun tak akan diterima (tidak ada pahalanya) jika sarana yang digunakan adalah (barang/cara) haram, seperti menyumbang dengan uang curian, dsb. Begitu pula sesuatu yang diperoleh dengan cara haram maka ia menjadi haram pula.

Lantas bagaimana dengan gaji pekerjaan yang diperoleh dengan cara yang haram seperti menyuap?
Dalam kasus seperti ini, praktek suap bisa dibagi menjadi dua kategori:

  1. Anda menyuap demi mengambil hak Anda, bukan merampok hak orang lain. Misalnya Anda tahu sudah jelas memenuhi kualifikasi suatu pekerjaan, namun si bos tidak menghendaki Anda semata karena Anda tak memberi uang pelicin. Dan nyata-nyata si bos memudahkan orang lain yang kualifikasinya lebih rendah dari Anda, karena orang itu berani membayar mahal. Dalam kasus seperti ini jika Anda tetap mau menyuap itu tak jadi apa. Karena Anda melakukannya demi mengambil hak Anda. Yang berdosa adalah orang yang menerima suap.
  2. Anda menyuap untuk merebut hak orang lain. Seperti inilah yang jelas-jelas haram hukumnya. Mestinya, kalau tak mampu memenuhi persyaratan ya sudah, jangan sampai menyuap. Lantas jika memang terjadi, bagaimana mengatasinya, sedangkan mereka tak mungkin meninggalkan pekerjaan tersebut karena mereka butuh uang untuk menghidupi keluarga dan sudah rerlanjur makan barang haram?

Jawabnya adalah mereka harus bertaubat. Bertaubat itu ada dua macam:

  1. Bertaubat dari perbuatan dosa karena melanggar hak Allah semata, tanpa mendzalimi manusia. Contoh: meninggalkan salat tanpa udzur, tidak segera berangkat haji padahal sudah mampu, dll. Dosa jenis ini taubatnya cukup dengan minta ampunan kepada Allah seraya menyesali perbuatannya dan berjanji tidak akan mengulangi perbuatan tersebut.
  2. Bertaubat dari dosa yang berhubungan dengan hak manusia. Contoh: mencuri, merampas hak orang lain, dll. Dosa jenis ini taubatnya, selain penyesalan dan meminta ampunan Allah, harus ditambah dengan minta maaf kepada orang yang bersangkutan dan harus membayar ganti rugi. Bagaimana kalau orang yang terdzalimi sudah tak bisa ditemukan, kepada siapa kita membayar ganti rugi? Kalau memang demikian halnya, ya tinggal memenuhi syarat lainnya, menyesali perbuatannya dan meminta ampunan Allah. Itu tentu setelah berusaha semaksimal mungkin mengembalikan hak orang yang kita dzalimi, tentu sekemampuan kita. Setelah itu kita pasrahkan semuanya kepada Allah. Allah pasti mengampuni, karena Dia tak membebani hambanya di luar kemampuannya.

Wallahua'lam.

Ali Masyhar