Penjaga Tidur di Ruangan Satu Atap dengan Masjid

Tanya:

Assalamualaikum Wr. Wb.

Kami ingin menanyakan tentang hukumnya seseorang yang tinggal di masjid.
Kami mengelola sebuah masjid di komplek perumahan kami bersama teman-teman yang kebanyakan adalah pegawai. Ukuran masjid kira-kira 12 X 12 m2, bentuknya bujursangkar.

Di sebelah kanan kiri mihrab/tempat imam, dibagun dua kamar, masing-masing sebelah utara dan selatan mihrab. Yang satu kita gunakan utk sekretariat dan satunya lagi utk gudang.

Salah seorang pengurus masjid saat ini sedang membangun/renovasi rumahnya, dengan membawa tukang batu & kenek, jumlahnya 3 orang dari luar kota (Pasuruan). Berhubung tidak ada tempat menginap di rumahnya yang sedang direnovasi, maka tukang & kenek tsb dipersilahkan tidur di gudang masjid tsb.

Mereka datang Senin pagi, pulang Sabtu sore. Hal ini menimbulkan perbedaan pendapat diantara pengurus masjid, karena sebagian pengurus masjid mengatakan bahwa tidur di salah satu bangunan/kamar yang seatap dengan masjid hukumnya haram. Sehingga sejak beberapa hari yang lalu tukang & kenek tsb diminta meninggalkan masjid dan kontrak kamar sendiri.

Selama tinggal di masjid, para tukang & kenek tsb kami manfaatkan utk menjaga masjid, membantu kebersihan, bisa bertindak sebagai muadzin, imam salat, melaksanakan tadarus, dsb, sehingga mereka ikut memakmurkan masjid.

Pertanyaan: Apakah benar bahwa tinggal dan tidur di bangunan/kamar yang seatap dengan masjid, hukumnya haram? Mohon penjelasan ustadz, disertai dasar hukumnya (ayat al-Qur'an & hadis). Atas perhatiannya, diucapkan terima kasih.

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.
Suparno

Jawab:

Tentang hukum orang yang sekedar tinggal atau tidur di tempat yang seatap dengan mesjid, pada dasarnya tidak ada dalil, baik itu dalam al-Qur'an maupun hadis, yang melarangnya.

Tapi meskipun demikian bukan berarti tidur/tinggal di sana seenaknya dibolehkan dalam segala kondisi.

Ada kondisi tertentu yang bisa membuat hal tersebut menjadi dilarang, diantaranya:

(1) Merubah tujuan asal dibangunnya sebuah mesjid.
(2) Apa bila mengganggu ketenangan orang beribadah.
(3) Jika membuat menjid menjadi kotor.
(4) Tinggal/tidur di dalam masjid dalam keadaan hadas besar (junub, haid dan nifas).

Dengan demikian, jika tinggal di sebuah ruangan yang hanya seatap dengan mesjid, sebagaimana kasus yang anda tanyakan, apalagi jika hal tersebut dilatarbelakangi keperluan mesjid, baik itu perbaikan atau untuk istirahat khatib/imam atau petugas yang menjaga kebersihan mesjid, tidak ada larangan untuk tinggal/tidur di dalamnya. Apalagi sifatnya hanya sementara.

Ringkasnya selama itu demi kebaikan mesjid dan tidak terbentur dengan empat ketentuan di atas maka tidak ada larangan untuk tinggal/tidur di tempat yang satu atap dengan mesjid.

Coba kalau Anda memperhatikan di Masjidil Haram (Mekkah) dan Masjid Nabawi (Madinah) kalau malam hari tidak sedikit orang yang tidur di sana. Bahkan di sebagian negara-negara Arab, misalnya Mesir, pengurus masjid malah menyediakan ruangan istirahat khusus yang seatap dengan masjid untuk muazdin, imam dan khatib. Demikian, Wallahua'lam bisshawaab.

Wassalamualaikum Wr. Wb.
Zulfakar Ali Muhammad