Pesta Ulang Tahun

Tanya:

Ustadz,
Saya ingin menanyakan hukum merayakan ulang tahun berkaitan dengan adanya hadis yang menyatakan larangan mengikuti aktifitas-aktifitas yang mirip aktifitas orang kafir.

Terima kasih sebelumnya.

Airlanda Winarno – Jakarta Selatan

Jawab:

Orang yang mengharamkan perayaan ulang tahun, yang ada acara tiup lilin dan semacamnya, mungkin mendasarkan pendapatnya pada sebuah hadis, "Barang siapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk mereka". Hadis ini pula yang pada zaman dulu, oleh sebagian ulama di Indonesia, dipakai dasar untuk mengharamkan celana panjang karena mirip pakaian penjajah. Termasuk untuk mengharamkan acara-acara yang berasal dari Barat (yang sebagian besar mereka beragama Kristen).

Untuk zaman sekarang, menggunakan hadis tersebut untuk mengharamkan kegiatan (duniawi) seperti ulang tahun dan semacamnya yang berasal dari tradisi Barat, tentu sudah tidak tepat lagi. Hadis tersebut dahulu berfungsi untuk membangkitkan nasionalisme guna melakukan perlawanan terhadap penjajah. Tapi sekarang tidak ada penjajah lagi. Belahan Barat, Timur, Utara, Selatan, sudah berkomunikasi secara dialogis. Dunia sekarang sudah global.

Hadis tersebut, jika dipaksakan terus pada masa kini bisa berakibat fatal mematikan kreatifitas umat Islam. Saat ini, negara-negara miskin dan berkembang sebagian besar penduduknya Muslim. Sementara, negara-negara maju dan kaya mayoritas penduduknya Kristen. Secara teoritis, tentu akan banyak budaya Barat yang merembes ke negara-negara dengan mayoritas penduduk Muslim. Dalam konteks ini, kita hendaknya menyaring atau memfilter budaya asing dengan prinsip selama tradisi tersebut tidak melanggar ajaran agama, maka tidak apa-apa dilakukan.

Merayakan ulang tahun dengan acara pesta (tiup lilin, potong tumpeng, dll) itu tradisi yang belum pernah ada dalam sejarah peradaban Islam. Maka acara seperti itu dihukumi boleh-boleh saja karena Islam tidak mengatur hal-hal duniawi demi kemaslahatan kita sendiri. Kita dibebaskan mengurusi persoalan duniawi kita, selama tidak bertentangan dengan ajaran agama. Demikian pula pesta-pesta lainnya.

Adapun jika di situ ada unsur maksiat, seperti dansa antara laki-laki dan perempuan, minum minuman keras dan semacamnya, maka acara tersebut menjadi haram, meski tidak dibarengkan acara ulang tahun. Jadi, pesta ulang tahunnya tidak dilarang.

Arif Hidayat