Posisi Imam dan Khatib

—– Tanya —– Assalamualaikum wr.wb. Pertanyaan: Saya ingin menanyakan mengenai posisi Imam dan Khatib di masjid. 1. Ketentuan tentang posisi/ "ketinggian" Imam terhadap makmum dan khatib thdp Jama'ah. 2. Ketentuan tentang bisa terlihatnya imam/khatib oleh makmum/ jamaah. Kalau bisa saya minta juga dalil-2nya menurut Al-Qur'an dan Haditsnya. Atas penjelasannya saya ucapkan terima kasih Wassalam Luth. —— Jawab: —— Wa'alaikumussalam wr. wb. Sebelumnya, kami dari pengurus PV mohon maaf jika kesalahan ada pada kami dalam gangguan pengiriman pertanyaan. Nabi Muhammad saw. mengatakan: "Sesungguhnya imam didirikan untuk diikuti, maka jangan berselisih darinya." [hadits shahih]. Karena itu, sebisa mungkin posisi imam berada pada tempat yang dapat dilihat oleh kebanyakan para makmum. Akan tetapi tidak ada riwayat yang menyarankan agar posisi imam lebih tinggi dari posisi makmum dengan tujuan ini. Beberapa buku Syafi'iyah bahkan menerangkan, praktik demikina ini hukumnya makruh. Riwayat yang ada dari Nabi Muhammad saw. hanya menjelaskan agar imam berada pada posisi tengah. Karena itu, didirikanlah "mihrab" yang berada persis di tengah-tengah antara makmum yang berada di kiri dan yang berada di kanan. Nabi Muhammad mengatakan: "Letakkanlah posisi imam di tengah-tengah, dan rapatkanlah celah-celah [dalam shaf]. [HR. Abu Daud]. Adapun posisi makmum, maka perinciannya sbb: 1. Makmum sendirian: ia berada di samping kanan imam dengan sedikit agak ke belakang. Ibnu Abbas meriwayatkan: "Saya menginap di rumah bibi saya, Maimunah, kemudian Nabi Muhammad saw. melaksanakan salat, maka kemudian saya berdiri di samping kirinya, kemudian beliau menarikku agar berada di samping kanannya". [Bukhari-Muslim]. 2. Makmum berdua atau lebih: mereka mendirikan shaf [barisan] di belakang imam, dan jangan terlalu menjauh darinya. Beberapa buku fikih membatatasi agar tidak lebih dari 3 dzira' [1 dzira = 61,2 sm]. Jabir bin Abdullah meriwayatkan: "Saya melaksanakan salat di belakang Rasulullah, kemudian saya berdiri di samping kanannya. Kemudian datang Jabir bin Shakhr, kemudian ia berdiri di samping kirinya. Maka kemudian Baginda Rasul memegang tangan-tangan kami berdua, hingga menempatkan kami di belakangnya". [Muslin & Abu Daud]. 3. Makmum perempuan sementara imam laki-laki: Ia berada di belakangnya walau sendirian. [Lihat riwayat no 4] 4. Makmum terdiri dari berbagai usia dan dua jenis kelamin: Laki-laki berada di belakang imam; mereka yang telah berusia dewasa atau anak-anak yang cukup mengerti [tamyiz], berada di belakang imam sementara anak-anak di bawah usia tamyiz berada di barisan belakangnya. Adapun kaum wanita mendirirkan barisannya sendiri di belakang dengan ketentuan usia sebagaimana kaum laki-laki. Sahabat Anas meriwayatkan: 'Sesungguhnya Nabi Muhammad saw. salat di rumah Ummi Sulaim, maka saya dan seorang anak yatim berdiri di belakangnya, dan Ummu Sulaim berada di belakang kami". [Nailul Awthar]. Nabi Muhammad saw. menempatkan kaum lelaki di depan anak-anak, dan menempatkan anak-anak di belakang mereka, dan menempatkan kaum perempuan di belakang anak-anak. [Imam Ahmad]. Posisi Khatib: Tujuan khutbah adalah menyampaikan pesan-pesan keagamaan kepada kaum Muslimin. Untuk itu, disarankan agar khutbah sebisa mungkin dapat di dengar dan difahami oleh mereka. Nabi Muhammad untuk tujuan ini, menyampaikan khutbahnya di atas sebatang kayu atau pada batang korma, agar beliau dapat dilihat oleh jamaah. Dan dengan demikian, diharapkan akan lebih efektif dalam menyampaikan isi khutbah. Setelah itu, pada masa-masa berikutnya, Rasul saw membuat mimbar dan meninggalkan cara khutbah dengan menggunakan batang korma. Mimbar Rasul berada di samping kanan mihrabnya, sekitar satu hingga dua dzira' [satu dzira' = 61,2 sm], dan terdiri dari tiga undakan [anak tangga] dan satu undakan lagi sebagai tempat duduk istirahat. Akan tetapi para ulama melihat esensi minbar tidak pada jumlah undakannya, tetapi fungsinya sebagai sarana penyampaian khutbah agar lebih efektif. Maka sekarang banyak mimbar yang lebih tinggi dari apa yang dicontohkan oleh Rasul saw. Maka kalau mimbar cukup efektif hanya dengan tiga anak tangga, maka itu akan lebih baik. Semoga membantu, Wassalam, Abdul Ghofur Maimoen