Puasanya Pekerja Keras

Tanya:

Assalaamu’alaikum wr.wb.

Saya mau bertanya kepada pengasuh mengenai masalah fidyah. Ayah saya mempunyai perkerjaan yang berat, saat ini hanya pekerjaan itu yang bisa dilakukannya, dan selama ini ayah saya membiayainya dari hasil pekerjaanya tsb. Ayah saya kerja di bengkel. Untuk berpuasa beliau tidak sanggup, yang ingin saya tanyakan:

  1. Apakah ayah saya boleh membayar fidyah (karena untuk meng-qadha’ pun sama saja)
  2. Kalau boleh, apakah fidyah yang dibayarkan itu bisa nanti di sekaliguskan (sekalian bayar zakat)
  3. Bolehkah fidyah seseorang itu ditanggung oleh orang lain? (membayarkan fidyah orang lain, dalam hal ini fidyah ayah saya)

Itu saja, terimakasih….jazakumullah khairan katsirah atas jawabannya.

Wassalam
Peppy

Jawab:

Untuk menanggapi kasus seperti yang dialami bapak Anda tersebut, ada beberapa prinsip berikut, yang saya sadur dari fatwa nomor 768 yang dikeluarkan oleh Daar Iftaa’, lembaga fatwa resmi Mesir).

1. Para Fuqoha’ (ahli fikih) memperbolehkan meninggalkan puasa bagi para pekerja keras yang terpaksa harus bekerja di siang hari Ramadhan demi mencukupi kebutuhannya serta keluarganya. Namun ia harus (wajib) mengqadha’ puasa yang ditinggalkannya di lain hari, setelah terlepas dari kesibukan yang melelahkan demikian itu.

2. Apabila ia tidak menemukan hari luang hingga ia meninggal dunia, maka ia tidak terkena hukum wajib qodha’ dan juga tidak terkena hukum wajib memberi wasiat bayar fidyah.

3. Apabila ia yakin atau mempunyai prediksi yang sangat kuat, bahwa ia tidak akan punya kesempatan untuk mengqadha’ puasa di lain hari, maka ia dihukumi sebagaimana orang tua renta (boleh meninggalkan puasa dan harus mengganti setiap harinya 1/2 sha’ bahan makan atau nilai tukarnya [membayar fidyah).

Catatan: satu sho’ = 4 (empat) mud. 1 (satu) mud = 675 gram atau 688 liter (pen). Lihat Glosari Zakat

Yang sudah baku dalam fikih Hanafi, sesungguhnya orang yang sehat dan berdomisili (tidak musafir) jika terpaksa harus bekerja di bulan Ramadhan dan ia mempunyai dugaan yang sangat kuat (melalui saran dokter atau melalui pengalamannya sendiri), bahwa puasa dapat menyebabkan kemudharatan bagi kesehatannya atau dapat mengganggu fitalitasnya sehingga ia tidak dapat melaksanakan pekerjaannya (yang merupakan tumpuan hidupnya) secara baik, maka dalam keadaan demikian diperbolehkan baginya untuk meninggalkan puasa (diambil dari Ibnu Abidin). Dan melihat ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan oleh para ahli fikih, maka kewajiban para pekerja keras adalah mengganti (mengqadha’) puasa yang ditinggalnya di lain hari yang luang dari pekerjaan keras.

***
Tinggal sekarang keadaan bapak Anda itu disesuaikan dengan kondisi-kondisi di atas. Kalau memang benar-benar tak mampu berpuasa sepanjang tahun, karena pekerjaan itu harus dia lakukan sepanjang tahun, tidak bisa tidak, sebagai ganti puasanya adalah membayar fidyah. Boleh saja fidyah itu Anda bayarkan. Waktunya dibarengkan dengan membayar zakat juga boleh. Tapi jangan dicampur. Harus jelas, mana yang untuk fidyah, mana yang zakat.

Abdul Ghofur Maimoen