“Afsussalaam”

Ayat-ayat perang dalam al-Qur’an bukanlah perintah untuk merusak dan menghancurkan pihak lain. Akan tetapi, ayat-ayat ini berisi izin untuk berperang karena sudah tidak ada jalan lain untuk upaya mencari jalan damai. Peperangan bagi Nabi (saw) adalah jalan terakhir yang tidak bisa ditawar-tawar, selama perdamaian sudah mencapai jalan buntu. Bagaimanapun juga, Nabi (saw) selalu mengedepankan damai di atas perang.

Islam, sesuai dengan nama yang disandangnya, adalah agama penyebar kedamaian. Kata Islam berasal dari kata “salam”, damai. Maka, seseorang yang menyatakan dirinya sebagai penganut ajaran Islam adalah sosok penyebar damai. Nabi bersabda, “Afsussalaam”., tebarkan kedamaian. Oleh Islam, ajaran kedamaian ini disebarkan kepada seluruh makhluk ciptaan Allah : binatang, umat manusia, alam raya dan tumbuh-tumbuhan. Dan, orang-orang Muslim adalah penebar cita-cita perdamaian tersebut.

 

Ucapan seorang muslim ketika bertemu dengan saudara Muslim yang lain, “assalamu-alaikum”, semoga kedamaian atas kamu. Ungkapan ini tidak semata ungkapan kosong belaka, tetapi sebuah ungkapan bernada do’a yang sejatinya berisi kandungan sebuah ajaran luhur untuk selalu bersikap bersahabat kepada semua makhluk Allah di muka bumi dan menjauhi permusuhan. Begitu pula pada akhir salat, ucapan tersebut diulangi kembali sebagai penutup ritual ini. Setelah terbangun, hubungan pribadi antara hamba dan Sang Khaliq, tanggung jawab penebar kedamian ini didengungkan lagi. Iman kepada Allah, bukanlah terhenti pada ibadah kepada Allah, tetapi berlanjut pada perilaku sosial.

Peran sosial yang disandang seorang Muslim berkenaan dengan baju Islam yang dipakainya adalah pembuat sebanyak-banyak mungkin kedamaian. Baginya, apapun agama orang lain, mereka adalah teman. Apapun warna kulit, mereka adalah saudara. Dari daerah manapun berasal, mereka adalah kawan. Saat datang di Madinah, hal pertama yang digerakkan oleh Islam adalah mendamaikan antara dua suku yang sudah bertahun-tahun bermusuhan, suku Aus dan Khazraj. Mereka diperdamaikan dalam muakhat (persaudaraan). Sementara suku-suku Yahudi Bani Nadir, Quraizah dan Qainuqah diperlakukan sebagai sekutu yang saling bahu membahu mempertahankan kota Madinah dari serbuan musuh. Bersama suku-suku Yahudi tersebut, Nabi mengadakan perjanjian damai yang disebut dengan “Mitsaq Madinah”, Piagam Madinah. Perlakuan yang tidak manusiawi dari penduduk jahiliyah Mekkah sebelum pada akhirnya memaksa Nabi Muhammad (saw) dan kaum Muslim pindah ke Madinah, tidak mengadakan pembalasan tatkala kota Mekkah jatuh di tangan Nabi beserta pengikutnya, pada kurun-kurun kemenangan Islam.

Sebagai agama universal, Islam lebih mencintai damai dan menjujung perdamaian. Allah Maha Pengampun, dan Nabi Muhammad (saw) adalah orang yang gampang memberi maaf. Ayat-ayat perang dalam al-Qur’an bukanlah perintah untuk merusak dan menghancurkan pihak lain. Akan tetapi, ayat-ayat ini berisi izin untuk berperang karena sudah tidak ada jalan lain untuk upaya mencari jalan damai. Peperangan bagi Nabi (saw) adalah jalan terakhir yang tidak bisa ditawar-tawar, selama perdamaian sudah mencapai jalan buntu. Bagaimanapun juga, Nabi (saw) selalu mengedepankan damai di atas perang. Aspek sosial Iman, seperti tercermin dari ayat-ayat iman dalam al-Qur’an yang selalu diikuti sebuah perintah mengikutinya, adalah amal saleh dan berbuat baik. Sedang, aspek sosial Islam adalah menebarkan kedamaian.

Orang Islam sejati adalah mereka yang konsisten dalam menegakkan persahabatan, persekutuan, perkawanan dan menegakkan nilai-nilai damai Islam dalam hidupnya bersama kelompok lain. Tak ada musuh bagi seorang yang mengaku Islam kecuali setan yang menggoda. Namun, orang-orang yang berbuat jahat, bagi seorang Muslim, bukan untuk dimusuhi, tapi diperingatkan dan disayangi. Pada diri orang tersebut, pada dasarnya, bukanlah jahat, ia juga memiliki hati nurani yang ingin menjadi saleh. Kita tidak membencinya. Tetapi, kebencian kita adalah pada setan yang memperosokkan-nya hingga menjadi orang yang jahat. Disinilah amal dakwah berfungsi. Sebagai tugas keberislaman kita, dakwah adalah mengajak orang lain untuk berbuat baik dan menjauhi kejahatan dengan penuh kasih sayang, rasa cinta dan persahabatan.

Wallahu a’lam

Rizqon Khamami.