“Halawatul Iman”

Dzikir dan Iman adalah satu rangkaian yang memungkinkan setiap Muslim menerima siraman kebahagian. Dengan Iman, seorang Muslim bisa tegar, sabar dan kuat dalam mengarungi kehidupan. Ia bahagia dalam cobaan hidup yang penuh penderitaan, kesengsaraan dan kesakitan. Dengan iman di hati, ia bersikap tawakal. Allah berfirman : “Sesungguhnya orang-orang beriman itu ialah orang-orang yang apabila disebut (nama) Allah, gemetar hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, maka bertambah iman mereka karenanya. Dan kepada Tuhanlah mereka bertawakal”. (Q.S. Al Anfal : 2) Hari itu sangat panas. Matahari berada diatas kepala, menyengat. Bilal memejamkan mata, lirih berdzikir : “Ahad…Ahad…”. Dengan kedua tangan terikat ketat, kaki telanjang menancap di tanah panas berpasir, Bilal disiksa. Cambukan bertubi-tubi Abu Sufyan, tuannya, tak sedikitpun mengendurkan hati Bilal. Sebagai budak, Bilal memperoleh tidak sedikit perlakuan kejam. Setiap kali dicambuk, bibir Bilal menyebut nama Tuhan yang Esa, Ahad. Ahad. Sebagai budak Abu Sufyan, orang terpandang dan kelompok elit Mekkah, Bilal tidak bisa leluasa meluapkan panggilan hati untuk bertauhid. Keimanan dan keteguhan jiwanya diuji. Semangat ketauhidan yang selama ini disimpan tak bisa lagi disembunyikan. Sang tuan mengetahui pemihakan sang budak terhadap agama baru yang sangat dibencinya karena mengajarkan kesetaraan manusia. Menurut agama baru ini, Islam, orang hitam dan putih dipandang sama. Mengajarkan untuk memperlakukan budak dengan tidak semena-mena. Semua manusia satu lini dalam pengabdian dan penyembahan kepada Tuhan yang Tunggal, sama dalam ketundukan dan kepasrahan dihadapan Tuhan yang Satu. Kebangkitan Islam, di mata Abu Sufyan, tidak saja meruntuhkan posisi kekuasaannya di lingkungan Arab jahiliyah, namun menggoncang tatanan kemapanan yang telah dinikmatinya selama ini berkat keturunan pada dirinya. Hal demikian menggerakkan Abu Sufyan untuk gencar menentang penyebaran Islam. Masuknya Bilal dalam pangkuan kelompok Rasullullah (saw), menjadikan Abu Sufyan seakan ditohok dari pusat jantung. Bilal, dengan kemantapan iman dan keyakinan kuat terhadap ketauhidan Allah, sama sekali tidak membuatnya bergeming untuk selalu memegangi erat Islam kendati siksaan dan perlakuan tidak manusiawi sang Tuan tidak berkurang. Ia menikmati iman dan kelezatannya dengan penuh kesadaran. Lezat iman menutupi siksa badani. Lapar dan haus, bagi Bilal, bukan bandingan untuk kelezatan dan ketenangan batin yang dipenuhi dengan aliran iman. Siksaan dan tetesan darah tidak mengalahkan kedamaian hati tempat besemayam Iman kepada Allah. Iman adalah segalanya, pemberi makna hidup, pengisi jiwa dan pendamai hati. Di beberapa daerah tropis kita dapati tidak sedikit kegemaran penduduk setempat dalam mengkonsumsi makanan serba pedas, cabai dan sambal. Mereka tidak memperdulikan waktu dan cuaca. Terkadang terik matahari tidak mengurangi kegemaran ini, bahkan makanan masih panas yang baru diangkat dari tungku sama sekali tidak menghalangi. Muka merah, mata berair, hidung beringus, peluh dan keringat menetes deras, dan tak henti-hentinya mulut menganga menahan rasa pedas, dilihat oleh orang lain sebagai sebuah penderitaan, kesakitan dan kesengsaraan. Namun bagi orang pertama, semua kesan tadi tidaklah begitu. Menurutnya adalah sebaliknya : bahagia, puas, tenang batin. Kecintaannya pada yang serba pedas menepis semua kesan-kesan kesakitan. Ia bahagia dalam penderitaan. Bagi Bilal, mengenggam iman adalah menggenggam kebahagian yang bisa menepis semua kesan penderitaan dan kesengsaraan. Bahagia batin terasa lebih nikmat daripada tubuh. Siksaan Abu Sufyan bukanlah penghalang untuk tumbuhnya iman dan pengakuan kebenaran ajaran universal Islam. Bilal bahagia dalam penderitaan. *** Namun, mengenggam iman tidak menjamin secara otomatis datangnya ketentraman optimal dan kebahagian utuh tanpa dengan disertai syarat : selalu mengingat Allah swt. Nama Allah yang Maha Suci akan mendatangkan ketentraman dan ketenangan jiwa. Firmannya : “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah (dzikrullah) hati menjadi tentram.” (Q.S. Arra’d : 28). Dari riwayat Abu Musa r.a, Rasullullah bersabda : “Perumpamaan orang yang berdzikir kepada Tuhannya dengan orang yang tidak berdzikir kepada Tuhannya, adalah seperti orang yang hidup dengan orang mati”. “Maka ingatlah kepada-Ku, niscaya Aku ingat (pula) kepadamu. Dan bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku”. (Q.S. Al Baqarah : 152) Dzikir dan Iman adalah satu rangkaian yang memungkinkan setiap Muslim menerima siraman kebahagian. Dengan Iman, seorang Muslim bisa tegar, sabar dan kuat dalam mengarungi kehidupan. Ia bahagia dalam cobaan hidup yang penuh penderitaan, kesengsaraan dan kesakitan. Dengan iman di hati, ia bersikap tawakal. Allah berfirman : “Sesungguhnya orang-orang beriman itu ialah orang-orang yang apabila disebut (nama) Allah, gemetar hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, maka bertambah iman mereka karenanya. Dan kepada Tuhanlah mereka bertawakal”. (Q.S. Al Anfal :2) Wallahu a’lam bisshowab. Rizqon Khamami