Quo Vadis Sang Kiai ?

Memang, dalam kehidupan masyarakat, kiai bisa berbeda-beda ‘’asumsinya‘’. Bisa Kiai Macan, gelar dianugerahkan kepada orang yang punya keberanian lebih. (3) Kiai Samber Gledeg, yang ditunjukkan kepada orang sikapnya arogan. Kiai Santet, gelar yang ditunjukan kepada orang yang ahli santet. Atau juga Kiai Mbeling, gelar ditunjukkan kepada orang yang tergolong "bandel" pemikirannya. Bahkan sampai banyaknya "kiai misterius atau kiai jadi-jadian", seperti yang telah lama marak. Terlebih dulu, penulis ingin meluruskan definisi kiai yang terdapat dalam kamus besar bahasa Indonesia, juga pendapat Dhofier Zamakhsary yang terkesan sudah “dikramatkan� oleh para peneliti atau penulis pesantren; bahwa gelar kiai, juga digunakan untuk nama barang-barang berharga atau dikramatkan, misalnya saja tombak Kiai Plered dari kraton Surakarta, (1) Kiai Garuda Kencana dipakai untuk sebutan kereta emas yang ada di kraton Yogyakarta (2). Hemat penulis, hal itu perlu untuk dikaji ulang kembali. Sebab penggunaan nama (kiai) tersebut, hanya merupakan ‘’penggunaan sempit’’ yang terdapat dalam suatu kelompok kecil saja. Sama halnya dengan Emha Ainun Najib yang memberi nama kelompok musiknya dengan Kiai Kanjeng. Atau juga banyak kelompok Ketoprak, Ludruk (di Jawa Barat: sandiwara) yang groupnya di beri nama Kiai Luhur, atau Kiai Sejati misalnya. Jelaslah, pemberian nama kiai di situ hanya diberikan oleh segolongan kecil yang terkait dengan benda (barang), atau group (ketoprak) tersebut. Tetapi sama sekali tidak sesuai dengan pandangan atau kebutuhan masyarakat. Memang, dalam kehidupan masyarakat, kiai bisa berbeda-beda ‘’asumsinya‘’. Bisa Kiai Macan, gelar dianugerahkan kepada orang yang punya keberanian lebih. (3) Kiai Samber Gledeg, yang ditunjukkan kepada orang sikapnya arogan. Kiai Santet, gelar yang ditunjukan kepada orang yang ahli santet. Atau juga Kiai Mbeling, gelar ditunjukkan kepada orang yang tergolong "bandel" pemikirannya. Bahkan sampai banyaknya "kiai misterius atau kiai jadi-jadian", seperti yang telah lama marak. Dalam budaya masyarakat Jawa, juga sering digunakan sebagai penghormatan kepada orang yang lebih tua, atau terhormat (4) dalam suatu lingkungan (suku), biasanya disingkat dengan kata ki, yang kiranya di ambil dari tradisi masa kerajaan dulu, misalnya ki Ageng, ki Tumenggung, ki Demang, ki Gede, ki Buyut, ki Dukun dan seterusnya. Tetapi, dengan satu inti maksud : Seorang ahli atau punya ’’nilai lebih’’ dalam bidang tertentu, yang gelar tersebut timbul ’’secara alamiah“ berdasarkan keikhlasan pandangan masyarakat (bukan segolongan kecil). Karenanya, sudah maklum, dan sangat tepat selama ini masyarakat berminat dan lazim menganugerahkan gelar kiai untuk dichitobkan (disandangkan, bukan menyandangkan diri) sebagai manifestasi pengakuan kepada orang-orang yang (minimalnya) dianggap dan dipercaya punya ‘’nilai lebih’’ ilmu atau pengetahuan lebih tentang religius (baca: Agama Islam) serta mengajarkan dan mengajak masyarakat untuk mengamalkannya, (5) utamanya (baca: Umumnya), dianugerahkan kepada orang yang memimpin sebuah pondok pesantren. Meski pun sekarang ini, dalam tatanan masyarakat, gelar kiai, juga sering dianugerahkan kepada figur ahli agama atau ilmuwan Islam yang tidak memimpin pondok pesantren tertentu. Dan para kiai berbeda-beda level atau tingkatan kharismatisnya. Realitas dalam masyarakat, kiai menjelma sebagai superman atau manusia “serba guna�. Ia tidak saja melulu bergelut dengan konteks religius atau sebatas pendidikan (agama Islam) yang identik dengan kehidupanNya itu. Tetapi cukup aktif diminta dan dituntut untuk bermain dalam berbagai bidang garapan lain. Mulai berperan sebagai “psikiater� ketika diminta untuk memberi solusi persoalan pribadi atau keluarga tertentu dan seterusnya. Atau “dewan perdamaian dan pertahanan� ketika terjadi kerusuhan atau tawuran antar desa misalnya. Dan juga sering aktif bermain dalam konteks berbangsa dan bernegara, yang utamanya akhir-akhir ini para kiai ngetren dengan manuver politik, meskipun sudah lazim bahwa dalam konteks politik para kiai sering hanya habis manis sepah dibuang saja. Atau menurut KH. Mustofa Bisri, ibarat pendorong mobil macet, begitu mobil jalan, maka si pendorong ditinggalkan begitu saja. Penulis berpendapat, bahwa fleksibilitas para kiai bersedia dan mampu terjun ke berbagai bidang garapan itu, akibat dipengaruhi oleh ajaran atau doktrin syariatul Islamiah yang fleksibel dan dinamis, di antara yang sering didengung-dengungkan dan masih sering dipegang erat oleh para kiai yang dekat dengan berbagai lapisan masyarakat. Sebuah jargon “al-hukmu yadurru ma’a illlatihi a’daman wawujudan� (hukum Islam adalah fleksibel dan dinamis). Dan syariat Islam adalah satu-satunya syariat yang feksibel. (6) Nah, secara general, dapat diposisikan bahwa para kiai adalah “agen� untuk menyampaikan dan menerapkan hukum Islam, dan punya loyalitas arus bawah dengan masyarakat. Dibandingkan dengan para pemikir yang sibuk mengedepankan sensasi perdebatan Islam, tetapi tidak mementingkan amaliah agama. Karenanya, berawal dari fleksibelitas syariat (Islam) itulah, maka kepribadian dan pengabdian para kiai kepada berbagai lapisan masyarakat pun menjadi fleksibel dan “serba guna�. Sebab, para kiai cenderung berpegang kuat, bahkan secara bahasa layak dikatakan sangat fanatik dengan ajaran (hukum Islam) yang dipahami dan di ajarkannya, dan mayoritas –untuk dikatakan tidak semua- mereka tidak pernah mengkaji ulang pendapat ulama tempo dulu, sehingga fleksibelitas syariat Islam sangat “mempengaruhi dan mengukir� pada kepribadian dan karakter mereka. Kiai dan pemikir ke-islaman, jelas berada pada posisi yang sangat jauh berbeda. Singkatnya, para pemikir ke-Islaman bisa saja pengetahuan agamanya apa adanya, atau bahkan dari komunitas non-Muslim sekali pun, asalkan mempunyai “nilai lebih� dalam nalar dan kritik yang perdebatannya mampu mengundang reaksi. Sedangkan kiai, lebih dominan mempelajari dan berpegang kepada qaul mu’tabaroh sebagai pegangan mengajak masyarkat, dengan orientasi istiqomah beramal-ibadah. Realitas sekarang ini sungguh unik, gelar kiai didominasi bahkan terkesan “dimonopoli� oleh elite-elite Nahdliyyin. Terbukti, para tokoh dari ORMAS Islam lain, seperti Muhamadiyah, PERSIS dan lain-lainnya. Sedikit sekali elite-elitenya yang “berhasil atau diberi peluang� untuk menyandang gelar kiai. Penulis berpendapat, hal itu dikarenakan figur kiai asalnya adalah identik dengan elite pesantren. Yang dalam konteks pendidikan, “kiai adalah unsur utama dari pondok pesantren, sekaligus figur sentral sebagai pemimpin secara keseluruhan dalam sebuah pondok pesantren�.(7) Sedangkan pesantren dan NU, adalah bagian yang tidak bisa dipisahkan. Yakni “NU adalah pesantren besar (makro), pesantren adalah NU kecil (mikro)�, (8) Singkatnya, pondok pesantren adalah markas utama NU. Memang, pada tempo dulu ada sebagian elite ORMAS Islam lain ada yang sempat menyandang gelar tersebut. Misalnya saja Ahmad Dahlan sebagai pendiri Muhamdiyah ia “berhasil� menyandang gelar kiai. Namun hal itu juga, tetap dikarenakan figur Ahmad Dahlan punya “hubungan darah ilmiah� dengan pesantren, misalnya saja menguasai nahwu-shorof, mantik-balaghoh, yang merupakan modal utama untuk melacak, atau minimalnya memahai berbagai fan ilmu, dengan sumber utama al-Quran yang berbahasa Arab itu. (9) Sedangkan pada generasi Muhammdiyah berikutnya, sangat jauh dengan pondok pesantren, baik institusi maupun ilmiah (pesantren) nya. (10) Sehingga, Muhammadiyah merasa miskin ulama. (11) Dan hal itu, jelas membelenggu organisasi itu sendiri, karena Muhammadiyah menyatakan diri membuka pintu ijtihad setiap saat, tetapi kualitas ilmiah (agama) anggotanya –termasuk elite-elitnya, semakin terpuruk. Kecuali sebatas perdebatan dengan “memainkan pola bahasa�, dan sama sekali tanpa adanya dasar ilmu mantiq sebagai “manajemen berpikir�, dan ushul al-Fiqh atau ulum al-Hadits sebagai modal menggali hukum. Selama ini, kiai penuh otoritas, minimalnya di dalam pesantren dan lingkungan sekitarnya. Dan otoritasnya hanya bisa diganjal oleh kiai lain yang dianggap lebih berpengaruh. (12) Perlu disadari, dewasa ini, otoritas kiai dalam bermasyarakat, hanya akan merugikan dan membelenggu individu kiai itu sendiri. Sebab dengan semakin compleknya pola pikir dan gaya manusia abad ini, dan dengan semakin derasnya arus-gelombang pergantian budaya. Yang dibutuhkan adalah fleksibelitas religius seorang publik figur, dalam menerapkan “budaya hukum Islam� di tengah iklim bermasyarakat (religius). Karena tidak dapat dipungkiri bahwa kiai (ustadz), adalah sebuah honoris causa, yang di persembahkan oleh masyarakat, sebagai manifestasi kepercayaan dan pengakuan terhadap figur tertentu, atas “keahlian� tertentu yang dimilikinya. Tetapi, bukan berarti sang kiai harus tampil sebagai figur liberalis atau sekularis yang cenderung memenuhi “nafsu modernisasi� dan mengutamakan perdebatan agama, serta menomer duakan amaliah diniyyah dalam kehidupan masyarakat, yang sering dikarenakan adanya kepentingan yang sempit. Di antara bukti bahwa gelar kiai atau ustadz merupakan honoris cauasa dari masyarakat, dan untuk orang yang punya hubungan darah dengan pesantren, adalah banyaknya para pemikir ke-Islaman di Indonesia dengan berbagai “manuvernya� dewasa ini. Tidaklah semudah mengerdipkan mata, untuk meraih gelar kiai. Dan memang, masyarakat pun merasa keberatan untuk menganugerahkan gelar kiai kepada para pemikir yang memang tidak berhak atas gelar tersebut. Meski pun, mereka (para pemikir) berebut untuk bisa menyandang honoris causa tersebut. Kecuali bagi para pemikir (komentator) Islam yang memang punya hubungan darah dengan pesantren, misalnya KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), KH. Prof. Dr. Said Aqiel Siradj, dan sejenisnya. Dengan mengakarnya fenomena demikian itu, juga dapat disimpulkan betapalah sangat kuat pengaruh “leluhur� pesantren di tengah-tengah masyarakat. Serta, honoris causa tersebut tetap eksis, survive dan tidak lapuk dihantam oleh badai modernisasi dengan berbagai sendi-sendi rekayasanya. Tetapi, “bak perawan desa yang ayu dan dipingit�, sehingga di tengah-tengah kemerosotan akhlak “gadis metropilis (baca: Kemerosotan bangsa) dengan pergaulan bebasnya�, “sang perawan pingitan nan ayu� itu semakin terus diburu dan diperebutkan oleh banyak orang dengan berbagai cara yang dilakukan, mulai “anak muda yang ingin menikahinya, atau orang tua yang ingin menjadikan sebagai menantunya, atau orang yang hanya ingin sekedar menjadi ‘teman dekatnya’�.(13) Bahkan sampai terjadinya machiavellianisme atau menghalalkan segala cara, kalau harus meminjam bahasa politiknya. (14) Realitasnya, akhir-akhir ini banyak orang yang jauh atau tidak kenal dengan salah satu gelar (kiai atau ustadz) itu, namun mereka “menculik dan menyelundupkan�, honoris causa tersebut dengan berbagai cara, demi untuk beberapa kepentingan, baik pribadi maupun golongannya. Sehingga, di tengah-tengah semakin “keringnya� publik dari amaliah agama sekarang ini, banyak orang yang menyembunyikan biodata pendidikan yang pernah ditempuhnya, seraya mereka pun mengaku alumni dari sebuah pesantren tertentu (atau hanya sekedar mengaku dekat dengan pesantren), demi untuk mempertahankan reputasi dari “propesi� yang menguntungkan pribadinya. Dan banyak orang yang sebelumnya tidak pernah menyentuh pendidikan agama (apalagi pesantren), tiba-tiba dengan “tenangnya� menempelkan gelar kiai pada namanya. Hal itu kiranya disebabkan, meskipun di beberapa pos atau sektor tertentu, gelar akademisi kadang masih sering mempengaruhi terhadap kredibilitas kerja atau profesi figur tertentu. Namun di tengah realitas kemerosotan moralitas bangsa kita ini, orang yang benar-benar kiai, atau minimalnya yang dengan “segala cara� bisa menyandang gelar kiai, mereka semakin diburu oleh berbagai lapisan masyarakat. Ujung-ujungnya, banyak orang yang menghujat terhadap para kiai (asli), karena ia frustasi tidak bisa sukses untuk menempati posisi atau hanya sekedar menyandang gelar kiai. Bahkan akhir-akhir ini, entah dengan sebab atau maksud apa. Ada beberapa orang –yang mungkin tidak puas bila dirinya menyandang gelar kiai, sehingga meskipun belum sempat menyandang gelar kiai, (15) Ia “memproklamirkan diri� dan mempublikasikan lewat media masa yang dimilikinya, kalau dirinya adalah seorang Syeikh. Misalnya saja, yang dulu dikenal dengan Toto Panji Gumilang, akhir-akhir ini, pimpinan lembaga pendidikan Az-zaitun Indramayu Jawa Barat itu, sering dipublikasikan dengan nama Syekh Abdussalam Panji Gumilang –entah atas kehendak sang figur, atau hanya kehendak sang wartawan dari media massa yang dimilikinya (majalah az-zaitun) itu. Yang jelas, dirinya tidak keberatan untuk dipublikasikan dengan gelar syekh “Meskipun Ia belum sempat menyandang gelar kiai�. (16) Terlepas dari kepentingan masing-masing, dari ulasan di atas, yang dapat kita ambil pointnya adalah, hal-hal itu merupakan bukti, bahwa posisi komunitas kiai masih, bahkan bertambah diperebutkan oleh berbagai kalangan. Maka, wajib muncul pertanyaan. Mampukah orang-orang yang berhak menyandangnya (yang benar-benar kiai atau ustadz) untuk mengemban sebuah amanat, dari “kesucian� dan keihlasan honoris causa yang dianugerahkan oleh masyarakat yang semestinya harus dijauhkan dari komersial atau “penyakit sosial religius� itu ?. Atau mereka justeru "terjebak", seperti yang banyak terjadi sekarang ini. Sebagaimana yang dilakukan oleh para "penyelundup dan pembajak" honoris causa tersebut. Sehingga mereka pun turut tertarik untuk "memanfaatkannya" dengan orientasi popularitas dan materialis semata, dalam rangka penghidupan pribadi dan keluarga, atau hanya sebagai penopang untuk merajut karir pribadinya. (17) Yang umumnya “aji mumpung� di berbagai musim, misalnya "musim silaturrahim politik", menjelang pilpres, pilkada sampai pilkades dan pilka-RT/RW ?. Kemudian di antara resikonya, minimalnya akan menanggung, kembali "dicabutnya" honoris causa tersebut oleh publik yang menganugerahkannya, dengan proses atau cara "larinya" masyarakat dari masing-masing penyandang gelar tersebut. Dan menyebabkan volusi atau busuknya gelar tersebut bagi semua penyandang gelar (kiai), termasuk para kiai yang benar-benar kiai (yang masih ikhlas), turut menanggung imbasnya. Serta, harus ikhlas dan jangan menyalahkan atau “mengkambing hitamkan� komunitas lain, “peluang� itu direbut dan ditempati oleh para “pembajak atau penyelundup� honoris causa tersebut, seperti yang sudah marak terjadi sekarang ini, mereka mendadak membeli surban dan buku-buku pelajaran dasar agama Islam terjemahan berbahasa Indonesia, (18) sebagai modal utamanya. Dan kadang juga namanya di tambah atau diganti biar serasi untuk digandengakan dengan gelar ustadz atau kiai. Misalnya, yang aslinya bernama Game Over, tiba-tiba berubah menjadi KH. Abdullah Game Over, karena mungkin ia menganggap nama Abdullah sangat pantas untuk digandengkan dengan gelar kiai. Jika hal-hal tersebut terus terjadi, sungguh naif dan merupakan sebuah "duka cita agama" yang berkepanjangan. Dan sungguh merupakan fenomena yang sangat memprihatinkan sekaligus memalukan. “Inilah merupakan salah satu fenome yang harus segera disadari !! �. Dan kenapa pula, kalau orang bukan sarjana mengaku sarjana, dia malu. Tetapi orang bukan kiai, mengaku kiai kok tidak malu, padahal kiai yang asli tidak mau mengaku dirinya adalah seorang kiai ?. Karenanya, kalaulah tidak terkait dengan kepentingan pribadi masing-masing. Maka, sangat tepat dan cukup moderat; bagi komunitas yang tidak ada kecakapan (tidak muqtadlo al-maqom) untuk menempati posisi sebagai sang kiai atau ustadz. Maka sangat tepat untuk rela berposisi sebagai santri, atau pendengar, atau pecinta (ilmiah) saja, lebih fair atau muqtadlo al-Hal (sesuai kafabilitas). Serta dengan sendirinya tentu turut melancarkan siklus ilmiah, dan tatanan bermasyarakat terus berputar dan berkembang sesuai porosnya dengan saling melengkapi atau “take and give�. **Penulis alumni pesantren Kedungwungu Krangkeng Indramayu; Mahasiswa Universitas Qaraowiyyine Marocco. (1) http://us.f542.mail.yahoo.com/ym/instacompose?nasrulafandi1117233883071#_ftnref1> Departemen Pendidikan Nasional, /Kamus Besar Bahasa Indonesia,/ Balai Pustaka, Jakarta, 2002, h, 565. (2) http://us.f542.mail.yahoo.com/ym/instacompose?nasrulafandi1117233883071#_ftnref2> Zamakhsari, Dhofier, /Tradisi Pesantren; Studi Tentang Pandangan Hidup Kyai,/ LP3ES, Jakarta, 1982. h. 55. Dan para peneliti (pesantren) lainnya. (3) http://us.f542.mail.yahoo.com/ym/instacompose?nasrulafandi1117233883071#_ftnref3> DEPPENDIKNAS, /Loc. Cit, /2002, h, 565. (4) http://us.f542.mail.yahoo.com/ym/instacompose?nasrulafandi1117233883071#_ftnref4> Zamakhsari, /Loc. Cit, /1982. h. 55 /;/ Dan masih banyak para peneliti (pesantren) lainnya. (5) http://us.f542.mail.yahoo.com/ym/instacompose?nasrulafandi1117233883071#_ftnref5> Dalam hal ini, penulis tidak sependapat dengan Andree Feillard, dalam /NU vis a vis Negara,/ Lkis, Yogyakarta, 1999, h, 356. Bahwa istilah kiai telah mengalami perubahan arti: “Sekarang digunakan sebagai rasa hormat meskipun kepada orang muda yang belum tentu punya pengetahuan agama yang mendalam�. Sebab, hal itu hanya berlaku sebagai pengecualian di sebagian daerah saja, utamanya di Madura dan umumnya wilayah Jawa Timur yang masih rekat fanatisme kepada “leluhurnya�. (6) http://us.f542.mail.yahoo.com/ym/instacompose?nasrulafandi1117233883071#_ftnref6> Prof. Dr. Idris Za’ry Mubarok dan Prof. Dr. Abdul hamid Humid Ilmy, /Mabad al- Wushul ila Ilmi al-Ushul , Maktabah al-Qurawiyien Fes, 2000, h , 4. // /// (7) http://us.f542.mail.yahoo.com/ym/instacompose?nasrulafandi1117233883071#_ftnref7> /Dinamika Pondok Pesantren di Indonesia,/ Direktorat Pendidikan Keagamaan dan Pondok Pesantren; Direktorat Jenderal Kelembagaan Agama Islam; Departemen Agama Republik Indonesia, 2003, h, 7. (8) http://us.f542.mail.yahoo.com/ym/instacompose?nasrulafandi1117233883071#_ftnref8> Sekretariat Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama(PBNU), /Jati Diri Nahdlatul Ulama,/ Juli, 2002, h. 38. (9) http://us.f542.mail.yahoo.com/ym/instacompose?nasrulafandi1117233883071#_ftnref9> Penulis berpendapat, bahwa menguasai bahasa Arab adalah modal pokok untuk memahami, apalagi mengkaji ilmu agama Islam secara mendetail. Karena, al-Quran sumber utama hukum Islam, jelas menggunakan bahasa Arab, dan bukan berbahasa Inggris atau berbahasa Prancis. Karena, berubah satu shighoth, misalnya dari madhi ke bentuk mudhori, jelas berubah pula maksudnya. Kecuali ingin jadi pemberontak Islam dalam selimut dan berpura-pura sebagai pembaharu, dengan hanya mengakses pemikiran orientalis yang dari dulu selalu berusaha menghancurkan Islam, dan umumnya karya mereka tidak berbahasa Arab itu. Atau bagi orang-orang yang (mungkin) memang keadaannya sudah tidak memungkinkan lagi untuk memulai mempelajari bahasa Arab secara mendetail dari tingkat pemula. Sehingga membela dirinya dengan mengatakan tidak perlu mempelajari bahasa Arab. Misalnya, Nurcholish Madjid; dalam bukunya Bilik-bilik Pesantren. (10) http://us.f542.mail.yahoo.com/ym/instacompose?nasrulafandi1117233883071#_ftnref10> Sampai pada tahun 1988-1989, tahun ke 76 dari usia kelahirannya (1912). Angka stasistik Muhammadiyah mencacatat, seluruh Indonesia, Muhammadiyah hanya mempunyai 7 (tujuh) pesantren. Sangat sedikit dibanding 4. 262 (empat ribu dua ratus, enam puluh dua) sekolahnya yang memberikan pelajaran umum dan keagamaan. Sedangkan NU, lahir dari rahim pesantren. (11) http://us.f542.mail.yahoo.com/ym/instacompose?nasrulafandi1117233883071#_ftnref11> A. Syafi’i Ma’arif, Independensi Muhammadiyah ; Di Tengah Pergumulan Pemikiran Islam dan Politik, Cidesindo, 2000, h, 139. (12) http://us.f542.mail.yahoo.com/ym/instacompose?nasrulafandi1117233883071#_ftnref12> Zarkasy, 1985: 166. NU vis Avis h, 4. (13) http://us.f542.mail.yahoo.com/ym/instacompose?nasrulafandi1117233883071#_ftnref13> Kiranya faktor inilah yang menyebabkan terus diperebutkannya gelar kiai. (14) http://us.f542.mail.yahoo.com/ym/instacompose?nasrulafandi1117233883071#_ftnref14> Posisi yang sama juga ditempati oleh ustadz, diambil dari bahasa Arab, yang dalam bahasa Indonesianya guru. Tetapi, untuk di Indonesia biasa digunakan sebagai Honoris Causa khusus kepada orang yang mengajar mengaji atau guru agama Islam, atau juga kiai muda, dan dalam pandangan masyarakat posisinya di bawah sang kiai, atau gelar bagi kiai muda. Yang di daerah Jawa Timurnya lazim digunakan gelar Gus, di Jawa Barat Kang, lebih spesifikasinya, adalah gelar bagi para putra kiai. (15) http://us.f542.mail.yahoo.com/ym/instacompose?nasrulafandi1117233883071#_ftnref15> Perlu diulas, di sebagian daerah Jawa, masih sering terdapat fanatisme dalam menganugerahkan gelar kiai, terhadap anak-keturunan kiai, meskipun pengetahuan agamanya apa adanya. Sehingga sering berlaku “sindiran dan cemooh� jadi kiai karena nasab, atau karena pengaruh orang tua-leluhurnya. (16) http://us.f542.mail.yahoo.com/ym/instacompose?nasrulafandi1117233883071#_ftnref16> Memang, dalam aspek bahasa(Arab), hal itu tidak bertentangan. Karena syekh berarti guru besar. Tetapi untuk kalangan Indonesia, hal itu masih sangat tabu. Sebab, selama ini sebagai putra bangsa Indonesia, hanya dikenal ada Syeikh Siti Jenar dengan "kenyentrikan" ajaran manunggaling kawula gustinya. Dan juga di Indonesia dikenal ada syeik Abdul Qodir Jaelani dari Irak, dengan gelar Sulton al-Aulia atau Syekh Nawawi al-Banteni dengan berbagai karangan buku ilmiah berbahasa Arabnya, atau syekh Ihsan al-Jampesi Kediri, yang di antara karyanya: Siraj at-Tholibin yakni mensarahi Minhaj al-Abidin karya Imam al-Ghazali yang buku-buku karya mereka tersebar di berbagai plosok dunia. (17) http://us.f542.mail.yahoo.com/ym/instacompose?nasrulafandi1117233883071#_ftnref17>Inilah “virus dalam selimut� yang sangat membahayakan terhadap kredibilitas dan stabilitas pranata religius. Tetapi hal itu sama sekali tidak pernah disadari oleh para kiai yang dihinggapinya. Meski pun virus tersebut telah lama melekat pada banyak individual komunitas kiai, baik kiai yang asli, utamanya para kiai yang imitasi. (18) http://us.f542.mail.yahoo.com/ym/instacompose?nasrulafandi1117233883071#_ftnref18> Bisa lihat, /foot note,/ no: 12