Diupdate terakhir: 27 November 2000
   Pesantren Virtual -> Ramadhan -> Ceramah Ramadhan 2: Amanah dan Kewajiban

Pengajian Ramadhan(4)
Ceramah Ramadhan 2: Amanah dan Kewajiban
Dimuat Senin, 27 November 2000


Kewajiban dalam Islam yang dibebankan oleh Allah kepada hamba-Nya tidak lain demi kemaslahatan hamba itu sendiri. Sebab Allah swt. "Ghaniyyun 'an kulli syai'". Allah tetap besar sekalipun tidak dibesarkan dan tetap agung sekalipun semua makhluk yang ada di dunia ini tidak ada yang mengagungkan, karena keagungan dan kebesaran Allah adalah mutlak dan abadi.

Perintah puasa sebagai salah satu kewajiban mahdlah (ritus murni) bagi umat Islam, sekalipun Allah telah menegaskan dengan kata "sesungguhnya ia adalah milikku", pada hakikatnya untuk sang hamba (dan Saya yang membalasnya). Balasan inilah yang merupakan suatu rahmat dan sebelumnya tidak pernah diberikan kepada umat terdahulu. Karena kandungan ibadah di bulan Ramadhan mempunyai multi dimensi: sosial, ekonomis, psikologis dan kultural bahkan politis.

Menurut Grand Syeikh Al-Azhar, Dr. Muhammad Sayyid Tantawi, secara etimologis puasa berarti menahan dan meninggalkan tradisi berpindah-pindah dari suatu kondisi ke kondisi yang lain, bisa juga menahan perkataan. "Shamat al-Riih" berarti diam dan tidak berhembus. "Shamat al-syamsu" berarti menahan akan terik matahari. Dari sisi pemaknaan ini nampak bahwa puasa adalah suatu rutinitas ritual yang khusus. Karena kita lebih dianjurkan diam, bahkan menjadi keistimewaan Ramadhan, tidur merupakan ibadah, padahal di bulan yang lain akan mewariskan kemiskinan (dalam konteks terikat).

Masih menurut beliau, ibadah puasa serupa dengan yang telah disyari'atkan oleh Allah swt. terhadap umat terdahulu (Q.S 1:183). Kesamaan ini paling tidak mempunyai tiga faedah bagi kaum muslimin. Pertama, sebagai perhatian terhadap ibadah puasa dan kepedulian akan aspek yang telah disyari'atkan oleh Allah kepada umat Muhammad dan umat para Rasul sebelumnya dalam rangka dakwah menuju ke-esa-an Allah. Karena puasa membuahkan banyak pahala dan berlaku sepanjang zaman. Kedua, agar memudahkan kaum muslimin dan tidak merasa berat melaksanakannya, karena sesuatu yang berat akan dirasakan ringan bila telah diketahui ada orang yang mengerjakannya. Ketiga, membangkitkan gairah dan semangat untuk bangkit dengan melaksanakan ibadah ini, sehingga tidak dilaksanakan seadanya, akan tetapi wajib dilaksanakan dengan penuh semangat. Sebab Allah telah memberikan gelar "khairu ummah" kepada umat Islam dan kebaikan ini haruslah tercermin di saat melaksanakan perintah Allah swt.

Dalam banyak riwayat dan ayat bisa didapat penjabaran tujuan pelaksanaan ibadah puasa, yaitu mengantarkan manusia menuju taqwa. Karena itu dalam proses pembentukan taqwa, Nabi Muhammad saw.mensinyalir dalam hadisnya "Al-shaumu Junnah" yang --menurut Syeikh Tantawi-- berarti mencegah, mencegah dari maksiat, adzab akhirat, dan penyakit yang mungkin timbul akibat banyak makan dan minum.

Sebagai ibadah yang mempunyai keistimewaan tersendiri, puasa Ramadhan banyak mengandung nilai-nilai siomatik agar merangsang kaum muslimin menjalankannya secara sempurna. Misalnya kedatangan Ramadlan ditandai dengan terbukanya pintu langit, tertutupnya pintu neraka dan terbelenggunya setan. Menurut Prof. Dr. Umar Hasyim, rektor universitas Al-Azhar, terbukanya pintu syurga bermakna simbolis dari banyaknya pahala. Sedangkan tertutupnya pintu neraka melambangkan tertutupnya maksiat dan terbukanya pintu maaf. Adapun terbelenggunya setan mengisyarahkan semakin sedikitnya gangguan setan. Jadi secara umum makna simbolis dari hadis Nabi tersebut adalah terlaksananyapekerjaan taat atau pekerjaan baik dan mencegah maksiat dan munkarat.

Karena itu puasa terasa sangat sakral, dan orang yang melaksanakannya hendaknya mampu secara lahir dan batin mencegah sumpah palsu, ghibah, mengadu domba, menghasut dan memfitnah. Lebih dari itu dituntut untuk menghiasi jiwa dan perbuatannya dengan akhlaq mulia.

Karena belum tentu diterima orang yang berpuasa sebulan penuh. Sebab kesempurnaan bukan terletak pada bilangan hari, akan tetapi pada sifat puasa yang dilaksanakannya yang sesuai dengan syariat. "Idzaa shumta falyashum sam'uka wa basharuka wa lisaanuka wa yaduka" (Jika kamu berpuasa, maka hendaklah pendengaranmu, penglihatanmu, lisanmu, dan tanganmu berpuasa juga). Puasa Ramadhan adalah sebuah amanah, setiap mukmin wajib melaksanakannya sesempurna mungkin dan melengkapinya serta menjaga puasanya dari segala yang bisa mengurangi nilai pahalanya.

======================
Oleh Muhyiddin Mas Rida


[]
Ikuti juga pengajian Ramadhan ini melalui email anda, tanpa harus membuka web site ini tiap hari. Caranya! Masukkan email anda di text-box, lalu klik tombol berikut.
Email anda:
  Halaman Yang Berhubungan
Jadwal Imsakiyah
Pengajian Sebelumnya(3)
Pengajian Sesudahnya(5)