Pengajian Ramadhan(7) Ceramah Ramadhan 3: Puasa Membuat Loyo?
Dimuat Rabu, 29 November 2000
PUASA MEMBUAT LOYO?
"Tak ada wadah yang paling buruk dari pada isi perut manusia. Karena sesuap (makanan) bertumpuk hingga tulang rusuknya. Bila makan tak terelakkan, maka sepertiga (perut itu) buat makanan, sepertiga buat minuman dan sepetiga lagi buat napasnya." Kata Rasulullah saw. yang didengar oleh al-Miqdam Ibn Ma'dikariba. Sesuai riwayat Imam Ahmad, Timidzi, Nasa'i dan Ibn Majah. Menurut Tirmidzi, hadis itu Hasan.
Konon kata Abul Qasim al-Baghawi, kata-kata Rasul itu ialah mengomentari para sahabat yang kekenyangan makan buah-buahan, saat mereka menaklukkan daerah Khaibar. Akibatnya mereka terkena penyakit panas-dingin.
Kareba itu, puasa dapat menyehatkan badan. Dan tak sedikit -dokter lebih tahu- penyakit dalam bisa diobati dengan paket hemat itu.
Tapi apakah puasa membuat manusia loyo? Jam kerja dikurangi dengan dalih itu, atau malah membawa tugas kantor atau tugas luar rumah lainnya untuk dikerjakan di rumah. Apalagi 'siang jadi malam' dan 'malam jadi siang'.
Sebenarnya, puasa itu sangat pribadi dan menjadi tugas seseorang untuk dirinya kelak, bahkan puasa itu milik Allah, kenapa? Lantaran orang puasa sengaja tidak makan dan minum serta menggauli istri, adalah atas nama Allah swt.
Dan hadis Qudsi, riwayat Bukhari, menyebutnya, "al-shiyamu lii wa ana ajzii bihi" (puasa itu milikku, dan saya -Allah swt.- penjamin pahalanya) kata Allah yang ditirukan Rasul. Sementara riwayat Muslim mencatat kata-kata Rasulullah "setiap amal manusia, (pahalanya) dilipatgandakan, satu kebaikan imbalannya sepuluh pahala hingga tujuh ratus. Kecuali puasa. Ia milikku dan aku penjaminnya". Di sini tidak tercantum angka bilangan pahala puasa. Sepertinya rahasia Allah. Sebagaimana puasa itu sangat private. Bisa jadi ibadah ini jarang tersentuh oleh sifat riya' (pamer). Tidak seperti rukun Islam lainnya, semacam zakat dan salat mudah diketahui orang banyak.
Apalagi puasa itu membawa manfaat taqwa (Q.S al-Baqarah:183). Taqwa di sini artinya puasa dapat mencegah perbuatan maksiat. Bila bentuk-bentuk maksiat banyak didorong oleh syahwat maupun hawa nafsu, maka puasa memang obatnya. Dan hadis Usman Ibn Abil 'Ash menyerupakan puasa itu laksana perisai perang (kajunnati ahadikum minal qitaal). Pun, perjaka usia nikah minus kerja disarankan meminimalisasi kejantanannya dengan puasa. (HR. Bukhari, tentang shaum no. 1905, tentang nikah no. 5065 dan 5066) dan (HR. Muslim tentang nikah no. 1400). Derajat hadis itu shahih dan dapat dibuat dalil (hujjah). Sekalipun puasa itu bukan pengganti nikah. Artinya sambil kerja menyiapkan biaya acara resepsi dan setelahnya. Sesekali kita puasa sunat. Hanya saja tidak diniatkan kecuali ikhlas.
MUTIARA TERSUMBAT
"Awas perut kalian, ia membuat ogah salat, mengganggu (berat) badan, membawa banyak penyakit. Sebaiknyalah kalian makan secara berimbang. Karena menyehatkan badan dan memperkuat ibadah. Lagi pula, seseorang tak akan celaka sebelum syahwatnya mengalahkan agamanya", pesan khalifah Umar Ibn Khattab yang ditirukan Ibn 'Abbas.
Rekaman khatbah Umar itu mensinyalir semangat kerja. Dan kerja adalah ibadah. Bahkan tujuan penciptaan manusia dan jin hanya untuk ibadah (Q.S al-Bariyah:56). Dengan pengertian ibadah yang luas, tidak hanya rajin ke masjid, tapi ibadah itu mencakup seluruh aktifitas manusia. Sejak petani di pelosok daerah paling dalam hingga petinggi negara paling atas.
Kendati, ada saja orang mencari dalih mengurangi jam kerja, gara-gara puasa atau menukar siang jadi malam. Padahal siang untuk mencari nafkah dan malam istirahat. (Q.S al-Naba':10-11).
Justru mutiara etos kerja pada nilai-nilai puasa ini terletak pada kejernihan berpikir. Orang kenyang atau lelah, pasti mengantuk. Tapi orang yang berpuasa atau membiasakan paket sepertiga itu, akan segera tahu hasilnya.
Sebab orang yang berpuasa sebaiknya tidak berbicara carut (falaa yarfus) dan jangan pula membentak (wala yaskhab). Kalau nyatanya, kita dicaci seseorang atau kita hendak diperangi. sebaiknya kita terus terang kepada pengacau itu:"maaf kami sedang puasa". (Hadis Abu Hurairah, riwayat Bukhari-Muslim)
Ungkapan pengakuan puasa itu terlontar agak terpaksa. Lantaran kita dinodai. Sebab sebenarnya puasa itu terlalu pribadi untuk dipublikasikan. Tambahan lagi, ungkapan pembelaan itu boleh lisan dibarengi hati. Agar kata-kata kotor maupun bentakan yang dialamatkan kepada kita, tidak dibalas serupa. Cukup dengan "maaf saya lagi puasa" tiga kali. Hadis ini menyimpan pesan jangan asal ngomong. Itu lantaran, puasa ada kelas-kelasnya. Puasa orang kebanyakan, puasa plus dan puasa paling elit. Tidak asbun dan mengobral emosi itu termasuk puasa kelas dua.
Bagaimana tayangan media massa sepanjang Ramdhan? Di sini, ulama produktif dan istiqamah seperti Dr. Yusuf Qardlawi memfatwakan, sebaiknya dipilah-pilah. Mana halal, mana haram. Menurutnya, kalau warta kendati aurat --misalnya-- adalah tidak mutlak haram. Tapi setiap sarana mengakibatkan lupa daratan (lupa Allah) semacam diskotik, itu nyata haram. (Q.S al-Maidah:91).
Selanjutnya, naskah hadis Abu Hurairah di muka adalah agak menghibur orang puasa. Sampai-sampai, Allah --pada hadis Qudsi itu-- bersumpah "demi jiwa muhammad yang dikuasainya, sungguh bau mulut orang puasa adalah lebih harum dari pada aroma kasturi". Karenanya, yang sempat bersiwak sehabis sahur, karena 'illat atau udzur syar'i --misalnya-- tidak usah minder. Apalagi membatalkan puasanya. Sebab orang puasa boleh berbangga saat berbuka dan kelak menerima pahala.
Andai puasa bagi sebagian orang, kadang membuat loyo. Mengapa perang badar tahun ke-2 hijriyah justru pecah tanggal 17 Ramadhan? Tarmasuk perang Oktober.
Dan yang menggairahkan orang puasa untuk percaya diri, bersikap positif dan berbesar harapan dalam hidupnya ialah hadis Abu Hurairah, riwayat Ahmad, Tirmidzi, Ibn Majah dan Ibn Huzaimah serta Ibn Hibban. Ada tiga kelompok yang do'anya tidak ditolak : orang puasa hingga berbuka, pemimpin adil dan do'anya orang yang dianiaya". Kata Tirmidzi hadis itu Hasan.
Bisakah hadis ini dipahami bahwa kaum mustadhafiin, alias dianiaya, tak perlu patah semangat mencari keadilan. Pun orang puasa. Dan etos kerja paling mendasar adalah arahan Rasulullah saw. tentang niat bekerja. Nilai kerja itu berbanding lurus dengan tujuannya.
PUASA MENCEGAH FITNAH
"Siapa yang tidak mengakhiri kesaksian palsu dan rekayasanya, maka Allah swt. tak menyediakan pahala puasa baginya," tegas Rasul yang ditirukan oleh Abu Hurairah dan diriwayatkan oleh Bukhari, Abu Daud, Tirmidzi, Nasa'i, dan Ibn Majah.
Jika tadi di muka, orang puasa dijanjikan akan dikabulkan do'anya. Dan pahala puasa itu dirahasiakan. Sehingga orang puasa terdorong untuk berlomba-lomba 'memberikan yang terbaik'. Maka hadis terakhir ini mewanti-wanti agar puasa-puasa itu --setelah bermanfaat menyehatkan badan-- hendaknya angka pahala yang dirahasiakan itu tidak gugur, gara-gara memberikan kesaksian palsu. Ini petunjuk mensosialisakan keterbukaan untuk menangani kasus sengketa, mencegah buruk sangka dan jualan gosip (ghibah). Itulah buah taqwa. Akarnya niat dan batangnya puasa Ramadhan. Puasa memang bukan sekedar menahan makan dan minum, tapi juga puasa bicara. Dan ayat wajib puasa dalam surat al-Baqarah itu dialamatkan buat orang beriman. Lalu di antara sifat orang itu ialah "fal yaqul khairan aw liyasmut" (berkata baik atau lebih baik diam saja).
Wallahu a'lam.
=====================
Oleh: Dudung Bashari Alwi
[]
Ikuti juga pengajian Ramadhan ini melalui email anda, tanpa harus membuka web site ini tiap hari. Caranya! Masukkan email anda di text-box, lalu klik tombol berikut.
Email anda: