Pengajian Ramadhan(23) CERAMAH RAMADHAN: Puasa dan Kesehatan
Dimuat Minggu, 17 Desember 2000
PUASA DAN KESEHATAN
Setiap kita berbicara tentang hubungan puasa dengan kesehata,
maka yang terpikir hanyalah pengaruh antara menahan lapar dan
dahaga di siang hari terhadap kesehatan. Padahal, pengalaman dari
dulu mennjukkan bahwa tidak ada orang yang mati atau jatuh sakit
yang berat akibat berpuasa di bulan Ramadhan. Sedang untuk mereka
yang benar-benar sakit, dari sejak awal Allah sudah mengizinkan
mereka untuk tidak berpuasa, dan dibolehkan menggantinya dengan
membayar fidyah. Tetapi untuk orang yang sehari-hari sehat,
menunda makan minum selama dua belas jam bukanlah hal yang akan
membahayakan kesehatannya, apa pula jiwanya.
Daya tahan manusia terhadap tidak adanya makanan dan minuman yang
masuk ke tubuhnya cukup besar. Manusia sehat dapat bertahan hidup
selama dua minggu, meskipun tanpa makanan sama sekali, asal tetap
minum air. Sedangkan jika selain tidak makan juga tidak minum
sama sekali, ia dapat bertahan selama seminggu. Kalau hanya
menahan makan dan minum selama dua belas jam saja, pengaruh
buruknya terhadap kesehatan praktis tidak ada sama sekali.
Penelitian medis terhadap orang yang berpuasa di bulan Ramadan
pernah dilakukan oleh Muazzam dan Khaleque dan dilaporkan dalam
majalah Journal of Tropical Medicine pada 1959. Juga oleh
Chassain dan Hubert, yang dilaporkan dalam Journal of Physiology
pada 1968.
Mereka menemukan bahwa tidak ada perubahan kadar unsur kimia
dalam darah orang berpuasa selama bulan Ramadan. Kadar gula darah
memang menurun lebih rendah daripada biasanya pada saat-saat
menjelang magrib, tetapi tidak sampai membahayakan kesehatan.
Kadar asam lambung akan meningkat pada saat menjelang magrib di
hari-hari pertama puasa, tetapi selanjutnya akan kembali menjadi
normal. Barangkali itu pula sebabnya puasa diwajibkan hanya
kira-kira 12 jam saja.
Ketika pengaruh menahan lapar dan dahaga selama 12 jam di siang
hari tidak berpengaruh terhadap kesehatan, yang sebenarnya lebih
besar manfaatnya bagi kesehatan dalam berpuasa sebenarnya adalah
justru niat dan kemauan untuk menahan nafsu.
Sebagaimana kita ketahui, sebagian besar penyakit yang diderita
manusia sebenarnya berkaitan dengan perilaku manusia itu sendiri.
Dari penyakit infeksi, muntaber, sampai ke penyakit jantung,
penyakit akibat stres, bahkan beberapa jenis kanker erat
kaitannya dengan perilaku tidak sehat manusia.
Contoh yang paling jelas tentang hubungan perilaku dengan
penyakit adalah penyakit muntaber (akibat tidak menjaga
kebersihan makanan dan lingkungan), dan penyakit kelamin (akibat
"membeli" penyakit dari pelacur). Akal halnya penyakit jantung,
tekanan darah tinggi, dan penyakit-penyakit akibat stres
(termasuk sakit lambung), itu semua sangat erat kaitannya dengan
ketidakmampuan menahan diri. Tidak mampu menahan diri ketika
melihat pesaing lebih maju, tidak mampu menahan amarah, dan tidak
mampu menahan diri untuk bersabar.
Ilmu kedokteran telah membuktikan bahwa mereka yang sedang marah,
baik yang dipendam maupun dinyatakan, sedang "panas hati" oleh
sebab apa pun, atau sedang dilanda rasa tidak sabar, akan
meningkat kadar hormon katekholamin dalam darahnya. Hormon
katekholamin ini akan memacu denyut jantung, menegangkan
otot-otot, dan menaikkan tekanan darah. Semua itu, jika dibiarkan
berlangsung lama, akan membahayakan kesehatan dan mempercepat
proses ketuaan.
Ingat akan puasa ketika hendak marah, ketika tidak sabar, atau
ketika panas hati, akanmematalkan terjadinya peningkatan kadar
hormon kelompok katekholamin dalam darah. Efek inilah yang
sebenarnya lebih besar pengaruhnya terhadap kesehatan dalam
pengertian yang positif, karena ia akan menghindarkan seseorang
dari efek buruk akibat kadar hormon kelompok katekholamin yang
mingkat secara berlebihan ketika orang marah, kesal, panas hati,
dan tidak sabar.
Puasa sebenarnya mengandung pesan agar orang menghindari perilaku
yang tidak sehat, termasuk perilaku yang didorong oleh emosi.
Hanya dengan demikian puasa akan memberi manfaat yang besar
terhadap kesehatan dan membantu memperpanjang harapan hidup.
=========
Kartono Muhamad (Mantan Ketua Ikatan Dokter Indonesia)
Kolom ini diambil dari Majalah TEMPO edisi 7 April 1990
[]
Ikuti juga pengajian Ramadhan ini melalui email anda, tanpa harus membuka web site ini tiap hari. Caranya! Masukkan email anda di text-box, lalu klik tombol berikut.
Email anda: