Pengajian Ramadhan 1422 H Ceramah Ramadhan (1): Marhaban Ramadhan
Dimuat Minggu, 18 November 2001
Seluruh umat Islam kini menyerukan 'Marhaban Ya Ramadhan, Marhaban Ya
Ramadhan", selamat datang Ramadhan, Selamat datang Ramadhan. Di
masjid-masjid, musholla, koran-koran, stasiun televisi dan radio dan
berbagai mailing list, ungkapan selamat datang Ramadhan tampil dengan
berbagai ekpresi yang variatif. Setiap media telah siap dengan dengan
sederet agendanya masing-masing. Ada rasa gembira, ke-khusyu'-an, harapan,
semangat dan nuansa spiritualitas lainnya yang sarat makna untuk
diekpresikan. Itulah Ramadhan, bulan yang tahun lalu kita lepas
kepergiannya dengan linangan air mata, kini datang kembali.
Sejumlah nilai-nilai dan hikmah-hikmah yang terkandung dalam ibadah puasa
pun marak dikaji dan kembangkan. Ada nilai sosial, perdamaian, kemanusiaan,
semangat gotong royong, solidaritas, kebersamaan, persahabatan dan semangat
prularisme. Ada pula manfaat lahiriah seperti: pemulihan kesehatan
(terutama perncernaan dan metabolisme), peningkatan intelektual, kemesraan
dan keharmonisan keluarga, kasih sayang, pengelolaan hawa nafsu dan
penyempurnaan nilai kepribadian lainnya. Ada lagi aspek spiritualitas:
puasa untuk peningkatan kecerdasan spiritual, ketaqwaan dan penjernihan
hati nurani dalam berdialog dengan al-Khaliq. Semuanya adalah nilai-nilai
positif yang terkandung dalam puasa yang selayaknya tidak hanya kita pahami
sebagai wacana yang memenuhi intelektualitas kita, namun menuntut
implementasi dan penghayatan dalam setiap aspek kehidupan kita.
Yang juga penting dalam menyambut bulan Ramadhan tentunya adalah bagaimana
kita merancang langkah strategis dalam mengisinya agar mampu memproduksi
nilai-nilai positif dan hikmah yang dikandungnya. Jadi, bukan hanya melulu
mikir menu untuk berbuka puasa dan sahur saja. Namun, kita sangat perlu
menyusun menu rohani dan ibadah kita. Kalau direnungkan, menu buka dan
sahur bahkan sering lebih istemawa (baca: mewah) dibanding dengan makanan
keseharian kita. Tentunya, kita harus menyusun menu ibadah di bulan suci
ini dengan kualitas yang lebih baik dan daripada hari-hari biasa. Dengan
begitu kita benar-benar dapat merayakan kegemilangan bulan kemenangan ini
dengan lebih mumpuni.
Ramadhan adalah bulan penyemangat. Bulan yang mengisi kembali baterai jiwa
setiap muslim. Ramadhan sebagai 'Shahrul Ibadah' harus kita maknai dengan
semangat pengamalan ibadah yang sempurna. Ramadhan sebagai 'Shahrul Fath'
(bulan kemenangan) harus kita maknai dengan memenangkan kebaikan atas
segala keburukan. Ramadhan sebagai "Shahrul Huda" (bulan petunjuk) harus
kita implementasikan dengan semangat mengajak kepada jalan yang benar,
kepada ajaran Al-Qur'an dan ajaran Nabi Muhammad Saw. Ramadhan sebagai
"Shahrus-Salam" harus kita maknai dengan mempromosikan perdamaian dan
keteduhan. Ramadhan sebagai 'Shahrul-Jihad" (bulan perjuangan) harus kita
realisasikan dengan perjuangan menentang kedzaliman dan ketidakadilan di
muka bumi ini. Ramadhan sebagai "Shahrul Maghfirah" harus kita hiasi dengan
meminta dan memberiakan ampunan.
Dengan mempersiapkan dan memprogram aktifitas kita selama bulan Ramadhan
ini, insya Allah akan menghasilkan kebahagiaan. Kebahagiaan akan terasa
istimewa manakala melalui perjuangan dan jerih payah. Semakin berat dan
serius usaha kita meraih kabahagiaan, maka semakin nikmat kebahagiaan itu
kita rasakan. Itulah yang dijelaskan dalam sebuah hadist Nabi bahwa orang
yang berpuasa akan mendapatkan dua kebahagiaan.
Pertama yaitu kebahagiaan ketika ia "Ifthar" (berbuka). Ini artinya
kebahagiaan yang duniawi, yang didapatkannya ketika terpenuhinya keinginan
dan kebutuhan jasmani yang sebelumnya telah dikekangnya, maupun kabahagiaan
rohani karena terobatinya kehausan sipritualitas dengan siraman-siraman
ritualnya dan amal sholehnya.
Kedua, adalah kebahagiaan ketika bertemu dengan Tuhannya. Inilah kebahagian
ukhrawi yang didapatkannya pada saat pertemuannya yang hakiki dengan
al-Khaliq. Kebahagiaan yang merupakan puncak dari setiap kebahagiaan yang
ada.
Akhirnya, hikmah-hikmah puasa dan keutamaan-keutaman Ramadhan di atas,
dapat kita jadikan media untuk bermuhasabah dan menilai kualitas puasa
kita. Hikmah-hikmah puasa dan Ramadhan yang sedemikian banyak dan
mutidimensional, mengartikan bahwa ibadah puasa juga multidimensional.
Begitu banyak aspek-aspek ibadah puasa yang harus diamalkan agar puasa kita
benar-benar berkualitas dan mampu menghasilkan nilai-nilai positif yang
dikandungnya. Seorang ulama sufi berkata "Puasa yang paling ringan adalah
meninggalkan makan dan minum". Ini berarti di sana masih banyak puasa-puasa
yang tidak sekedar beroleh dengan jalan makan dan minum selama sehari
penuh, melainkan 'puasa' lain yang bersifat batiniah.
Semoga dengan mempersiapkan diri kita secara baik dan merencanakan
aktifitas dan ibadah-ibadah dengan ihlas, serta berniat "liwajhillah wa
limardlatillah", karena Allah dan karena mencari ridha Allah, kita
mendapatkan kedua kebahagiaan tersebut, yaitu "sa'adatud-daarain"
kebahagiaan dunia dan akherat. Semoga kita bisa mengisi Ramadhan tidak
hanya dengan kuantitas harinya, namun lebih dari pada itu kita juga
memperhatikan kualitas puasa kita.
Muhammad Niam
(Editor: ARW)
[]
Ikuti juga pengajian Ramadhan ini melalui email anda, tanpa harus membuka web site ini tiap hari. Caranya! Masukkan email anda di text-box, lalu klik tombol berikut.
Email anda: