Pengajian Ramadhan 1422 H Ceramah Ramadhan (3): Kemenangan Yang Hakiki
Dimuat Sabtu, 24 November 2001
Marilah kita perhatikan beberapa kemenangan yang diperoleh kaum muslimin
dalam rentang sejarang Islam. Allah swt telah memberikan kemenangan kepada
kaum muslimin dalam berbagai kesempatan, yaitu perang badar, perang
al-Ahzab, saat penaklukan kota Makkah, perang Hunain dan berbagai
kesempatan lainnya. Semua kemenangan tersebut tidak lain adalah janji-janji
Allah yang diberikan kepada mereka yang beriman, "Dan Kami selalu
berkewajiban menolong orang-orang yang beriman" (QS. Rum : 47).
Allah memberikan pertolongan dan kemenangan karena kaum muslimin tidak
begitu saja, namun tentu dengan alasan yang kuat, yaitu karena mereka
berpegang teguh pada agama mereka. "Dan Allah pasti akan menolong
orang-orang yang menolong(agama)Nya, sesungguhnya Allah Maha Kuat dan Maha
Perkasa. Yaitu orang-orang yang jika Kami teguhkan mereka di muka bumi,
niscaya mereka mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma
'ruf dan mencegah kemungkaran, dan kepada Allah lah kembali segala urusan"
(Q.S. Al-Haj : 40-41).
Dengan demikian itulah sifat-sifat yang menjadikan orang mukmin berhak
mendapatkan pertolongan Allah adalah. Mari kita mencoba mengkaji
sifat-sifat tersebut secara lebih rinci:
Orang telah diteguhkan kedudukannya oleh Allah di muka bumi. Mereka
adalah orang-orang yang telah menegakkan ibadah kepada Allah dengan
sempurna. Allah telah berfirman :"Dan Allah telah berjanji kepada
orang-orang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal sholeh, bahwa
Dia akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah
menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan
meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridlai-Nya untuk mereka dan Dia
benar-benar akan mengganti kondisi mereka setelah dalam ketakutan menjadi
rasa aman sentosa, mereka tetap menyembah-Ku dengan tidak mempersekutukan
apapun dengan-Ku" (QS. An-Nur : 55). Jika seorang hamba beribadah secara
ikhlas kepada Allah dengan perkataan, perbuatan dan keyakinannya, tidak
karena harta atau tujuan-tujuan duniawi lainnya, niscaya Allah akan
meneguhkannya di muka bumi ini. Dengan demikian seseorang sebenarnya tidak
akan memperoleh kedudukan di muka bumi ini di depan Allah sebelum ia
menegakkan agama dan ibadah mereka. Inilah yang bisa kita sebut sebagai
"institusi sosial yang mapan yang menjunjung tinggi nilai-nilai moral dan
akhlaqul karimah".
Mereka yang mendirikan salat dengan khusyu' dan benar. Salat tanpa
kekhusyu'an layaknya jasad tanpa roh. Kekhusu'an dalam shalat pada zaman
sekarang ini menjadi semakin berharga. Hiruk pikuk kehidupan serta
bisingnya informasi dan komunikasi, menjadikan hati manusia sering
bercabang-cabang. Ini menjadikan kekhusyu'an semakin sulit didapatkan. Maka
tepatlah kalau kekhusyu'an dalam mendirakan salat menjadi salah satu sebab
pertolongan Allah, karena pada kekhusyu'an ini tercipta komunikasi langsung
antara hamba dan Tuhannya.
Sifat ini menggambarkan kepada "institusi ibadah" yang optimal dalam
kehidupan. Ibadah yang tidak saja bernilai ritual namun juga mempunyai
nilai yang lebih luas dan mendalam.
Menunaikan zakat untuk membersihkan harta dan diri mereka dengan
sekaligus menolong saudara mereka yang kesusahan dan fakir miskin. Dengan
berzakat, ketimpangan sosial antara kaum punya dan kaum miskin papa bisa
diminimalisir. Dan pada gilirannya penerapan institusi zakat akan
mengantarkan kepada perekonomian yang seimbang, stabil dan kokoh, namun
bersih dari praktek-praktek aniaya dan riba.
Tentu yang dimaksudkan Allah dari sifat ini adalah terciptanya sistem
perekonomian yang mapan dan bersih, sesuai dengan spirit yang terkandung
dalam ibadah zakat.
Mengajak kepada ma'ruf, yaitu kebajikan yang diperintahkan oleh Allah
dan Rasul-Nya, saling mengkoreksi dan mengingatkan dengan saudaranya demi
menegakkan syariat Allah. Dalam sebuah hadis diterangkan, 'Perumpamaan
seorang mukmin terhadap saudaranya mukmin lainnya adalah seperti bangunan
yang saling topang menopang". Itulah tugas seorang mukmin terhadap
saudaranya yang seiman.
Yang bisa kita ambil dari sifat ini adalah terciptanya tujuan dan orientasi
kehidupan kepada hal yang ma'ruf, kebaikan dan kemaslahatan bersama.
Orientasi dan tujuan pengembangan kehidupan tidak dieksploitir hanya karena
segelintir kepentingan kelompok atau pribadi, namun lebih mengarah kepada
upaya mewujudkan konsep "Rahmatan Lil Alamin", kesejahteraan alam semesta.
Mencegah kemungkaran. Mungkar adalah pekerjaan yang dilarang oleh Allah
dan rasul-Nya. Mungkar bisa merupakan dosa besar, seperti membunuh dan
berzina, ataupun dosa kecil seperti melihat dan mendengar kemaksiatan.
Mereka mencegah kemungkaran demi manjaga agama Allah dan melindungi
penganutnya dari kerusakan dan kesesatan.
Inilah yang dimaksud dengan penegakan supremasi hukum. Hukum bisa berfungsi
sebagai pembela hak kaum tertindas dan mencegah kejahatan dan kemungkaran
merajalela. Hukum bisa menegakkan keadilan dan tidak diperkosa untuk
mewujudkan kepentingan penguasa. Tentunya ini memerlukan sitem yang bersih
dan adil, baik dari segi substansi hukumnya maupun aparat penegaknya.
Jelas lah bahwa ayat-ayat tersebut mengisyarakatkan kepada kita bahwa
pertolongan Allah akan diberikan kepada mereka yang menolong penegakkan
agamaNya. Dan mereka yang berhak mendapatkan pertolongan Allah adalah
mereka yang mampu mewujudkan kondisi-kondisi yang tercermin dari
sifat-sifat yang dijelaskan ayat tersebut. Sifat-sifat ini tidak lain juga
sifat yang harus ditegakkan oleh kaum muslimin dalam setiap kehidupan dalam
berbagai kondisinya. Karena hanya dengan menerapkannya insya Allah
pertolongan dan kemenangan akan senantiasa diperoleh.
Bulan Ramadan mengajak kita mengenang perang Badr yang terjadi pada tanggal
17 Ramadan tahun kedua hijriyah. Kekuatan umat Islam yang sangat kecil
dibandingkan dengan kekuatan kaum musyrik, ternyata tidak menghalangi
kemenangan mereka. Ini semua menjadi bukti kebenaran firman Allah bahwa
kemenangan tersebut tidak lain adalah dari Allah dan berkat pertolongan
Allah. Dan Allah memberikan kemenangan karena mereka begitu patuh kepada
ajaran-ajaran-Nya dan petunjuk rasul-Nya.
Tentunya semua uraian di atas, sedikit bisa memberi jawaban akan
kebingungan kita dalam melihat fenomena kaum muslimin dewasa ini, dimana
kekalahan demi kekalahan diderita oleh kaum muslimin. Kemunduran,
kemiskinan, kebodohan serta keterbelakangan peradabannya senantiasa kita
lihat menghiasi hampir setiap sudut dunia Islam. Apalagi saat ini, kita
umat islam telah kalah lagi tidak bisa memberikan jawaban yang berarti atas
tuduhan musuh-musuh kita bahwa umat Islam terkait erat dengan tindakan
terorisme dunia.
Spirit bulan Ramadan sebagai "Syahrul Fath" (bulan kemenangan), selayaknya
kita gairahkan kembali. Dengan meluruskan kembali diri kita, masyarakat
kita dan pemerintahan kita kepada jalan yang alur yang benar, janji
kemenangan hakiki dari Allah swt pasti kan tiba. Amin.
Disampaikan oleh Ali Halim
[]
Ikuti juga pengajian Ramadhan ini melalui email anda, tanpa harus membuka web site ini tiap hari. Caranya! Masukkan email anda di text-box, lalu klik tombol berikut.
Email anda: