Pengajian Ramadhan 1422 H Hikmah Ramadhan(2): Hikmah dan Derajat Puasa
Dimuat Rabu, 05 Desember 2001
Puasa dalam Pengertian Bahasa
Bulan penuh rahmat yang datang hanya setahun sekali, yang dalam bulan ini
kita diwajibkan untuk menjalankan ibadah puasa, dengan menahan rasa lapar
dan dahaga dari mulai terbitnya matahari hingga matahari terbenam. Ramadan
adalah bulan penuh rahmat yang dahulu selalu ditunggu-tunggu oleh para
sahabat dan mereka senantiasa berdo'a agar Allah selalu memberikan
kesempatan kepada mereka agar bisa menikmati karunia rahmat-Nya. Adalah
dalam bulan Ramadan ketika Kitab suci Al Qur'an pertama kali diturunkan
untuk mengumumkan berakhirnya penderitaan ummat manusia pada masa itu yang
terkekang dalam jerat perbudakan dan ketidakmengertian. Lailatul Qodar,
malam yang lebih baik dari seribu bulan juga jatuh pada bulan ini, dan dalam
bulan ini pula kemenangan pertama kali diraih oleh kaum muslimin dengan
ditakklukannya makkah. Akan tetapi salah satu dari peristiwa besar yang
terdapat dalam bulan ini adalah Puasa dan beberapa hikmah yang bisa diambil
dari puasa itu sendiri.
Allah berfirman:"Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa
sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu
bertaqwa." (QS Al Baqoroh:183).
Puasa bukanlah sebatas menahan lapar dan haus sejak mulai terbitnya pagi
hingga terbenamnya matahari. Bila direnungi makna dari puasa itu sendiri,
maka akan kita dapati ada beberapa hikmah yang terkadang luput dari
perenungan kita. Ayat di atas menerangkan bahwasanya puasa telah diwajibkan
atas kita untuk menguji seberapa besar ketaqwaan kita pada Allah, yang
berarti untuk meninggikan manusia pada puncak ketaqwaan. Disabdakan dalam
hadist Nabi: ada tiga pintu syurga yang bernama Rayyan, dan hanya mereka
yang berpuasa diizinkan untuk melalui pintu itu, seseorang yang masuk
melaluinya maka tidak akan pernah merasa haus.
Dengan puasa kita menjaga hawa nafsu kita agar tidak mengarah pada kejelekan
dan kemaksiatan, karena puasa di sini bukanlah sebatas menahan haus dan
lapar, melainkan juga menjaga hati dan amalan kita, mengontrol diri dari
menjalankan kemaksiatan dan kemungkaran.
Rasulullah pernah bersabda bahwa puasa adalah perlindungan, dan perlindungan
ini akan bisa dirasakan selama manusia bisa memaknai nilai-nilai puasa yang
dijalankannya.
Diantara manfaatnya berpuasa itu ada dua sisi, yaitu sisi jasmaniah dan
rohaniah. Kita telah sering mendengarkan dan membaca manfaat puasa dari segi
kesehatan sebagaimana banyak dikupas oleh para ahli kedokteran, bahwa dengan
puasa, kita memberikan istirahat bagi alat-alat pencernaan makanan. Di sisi
rohaniah, puasa dapat mendorong kita untuk bisa mengontrol kesabaran kita
dalam menghadapi keadaan yang sulit, dengan meninggalkan makan dan minum,
meskipun dia merasakan haus dan lapar, tetap bisa manahan keinginannya
dengan niat dan dorongan yang kuat atas kewajiban yang dijalankan. Bulan
suci ini juga mengajarkan kita simpati pada orang miskin, ketika rasa lapar
dan dahaga menyerang orang yang sedang menjalankan puasa maka saat itu dia
bisa merasakan dan berbagi pengalaman yang dirasakan oleh berjuta ummat
muslim yang kelaparan, yang dari sini bisa memotivasi seseorang untuk
memberikan sumbangsih bagi kesejahteraan masyarakat.
Setelah kita berbicara tentang beberapa hikmah yang dapat diambil dari
puasa, maka selanjutnya kita mamasuki pada derajat puasa itu sendiri,
setingkat apa puasa yang selama ini telah kita jalankan, apakah hanya
sebatas menahan lapar dan dahaga tanpa dibarengi dengan amalan-amalan yang
terpuji ataukah kita telah dapat memaknainya dengan arti sesungguhnya, yaitu
dengan merefleksikan pada amalan-amalan keseharian kita?
Puasa ada tingkatan tertentu, dan tingkatan tersebut hanya diri kita
sendirilah yang bisa mengukurnya. Tingkatan tersebut antara lain puasa umum,
puasa khusus, dan puasa khusus yang dikhususkan.
Puasa umum disini adalah puasa dhohiriah, sebagaimana yang telah kita
jalankan yaitu dengan menahan lapar, dahaga, juga menahan diri dari
mengikuti hawa nafsu.
Puasa khusus adalah menahan pendengaran, pendangan, lisan, tangan, kaki dan
seluruh anggota badan kita untuk tidak mengerjakan kemaksiatan. Misalnya
menahan telinga kita untuk tidak mendengarkan kebohongan, atau menahan
pandangan mata kita untuk tidak melihat hal-hal yang mendorong diri kita
untuk berbuat kemaksiatan, serta menahan lisan kita untuk tidak berkata
bohong pada orang lain. Berapa banyak kebohongan yang kita lakukan tanpa
kita sadari baik itu bohong yang bersifat sepele maupun besar. Dan
sebagainya.
Puasa khusus yang dikhususkan adalah puasa hati, yaitu puasa hati dari
memperturutkan diri untuk memikirkan hal-hal duniawi, menahan diri dari
untuk tetap istiqomah hanya memikirkan Allah dan selalu mengingatnya, jika
mendapatkan kenikmatan maka tidak pernah lupa untuk selalu bersyukur dan
jika mendapatkan musibah tidak pernah mengeluh, selain hanya berkata
"sesungguhnya kita adalah kepunyaan Allah dan kepada-Nya kita akan kembali".
Inilah derajat tertinggi dari puasa. Kembali pada diri kita sendirilah yang
bisa mengukur sampai di derajat manakah puasa yang selama ini kita jalankan.
Sudahkah puasa tersebut bisa betul-betul terefleksikan dalam keseharian
kita?
Wallahu a'lam bisshowab.
Kamilia Hamidah (Editor: IFI)
[]
Ikuti juga pengajian Ramadhan ini melalui email anda, tanpa harus membuka web site ini tiap hari. Caranya! Masukkan email anda di text-box, lalu klik tombol berikut.
Email anda: