Pengajian Ramadhan 1422 H Ceramah Ramadhan (5): Taubat Nasuha
Dimuat Rabu, 05 Desember 2001
Taubat adalah kembali kepada Allah setelah melakukan maksiat. Taubat
marupakan rahmat Allah yang diberikan kepada hamba-Nya agar mereka dapat
kembali kepada-Nya.
Agama Islam tidak memandang manusia bagaikan malaikat tanpa kesalahan dan
dosa sebagaimana Islam tidak membiarkan manusia berputus asa dari ampunan
Allah, betapa pun dosa yang telah diperbuat manusia. Bahkan Nabi Muhammad
telah membenarkan hal ini dalam sebuah sabdanya yang berbunyi: "Setiap anak
Adam pernah berbuat kesalahan/dosa dan sebaik-baik orang yang berbuat dosa
adalah mereka yang bertaubat (dari kesalahan tersebut)."
Di antara kita pernah berbuat kesalahan terhadap diri sendiri sebagaimana
terhadap keluarga dan kerabat bahkan terhadap Allah. Dengan segala
rahmatnya, Allah memberikan jalan kembali kepada ketaatan, ampunan dan
rahmat-Nya dengan sifat-sifat-Nya yang Maha Penyayang dan Maha Penerima
Taubat. Seperti diterangkan dalam surat Al Baqarah: 160 "Dan Akulah yang
Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang."
Taubat dari segala kesalahan tidaklah membuat seorang terhina di hadapan
Tuhannya. Hal itu justru akan menambah kecintaan dan kedekatan seorang hamba
dengan Tuhannya karena sesungguhnya Allah sangat mencintai orang-orang yang
bertaubat dan mensucikan diri. Sebagaimana firmanya dalam surat Al-Baqarah:
222, "Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai
orang-orang yang mensucikan diri."
Taubat dalam Islam tidak mengenal perantara, bahkan pintunya selalu terbuka
luas tanpa penghalang dan batas. Allah selalu menbentangkan tangan-Nya bagi
hamba-hamba-Nya yang ingin kembali kepada-Nya. Seperti terungkap dalam hadis
riwayat Imam Muslim dari Abu musa Al-Asy`ari: "SesungguhnyaAllah
membentangkan tangan-Nya di siang hari untuk menerima taubat orang yang
berbuat kesalahan pada malam hari sampai matahari terbit dari barat."
Merugilah orang-orang yang berputus asa dari rahmat Allah dan membiarkan
dirinya terus-menerus melampai batas. Padahal, pintu taubat selalu terbuka
dan sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya karena sesungguhnya
Dialah yang Maha Pengampun lagi Maha penyayang.
Tepatlah kiranya firman Allah dalam surat Ali Imran ayat: 133, "Bersegaralah
kepada ampunan dari tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan
bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa yaitu orang-orang yang
menafkahkan hartanya baik di waktu lapang maupun sempit dan orang-orang yang
menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang dan Allah menyukai
orang-orang yang berbuat kebajikan. Dan juga orang-orang yang apabila
mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri mereka ingat akan
Allah, lalu memohon ampunan terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang
dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan
perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui."
Taubat yang tingkatannya paling tinggi di hadapan Allah adalah "Taubat
Nasuha", yaitu taubat yang murni. Sebagaimana dijelaskan dalam surat
At-Tahrim: 66, "Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah
dengan taubat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapus
kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam sorga yang mengalir di
bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan
orang-orang yang beriman bresamanya, sedang cahaya mereka memancar di depan
dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan 'Ya Tuhan kami,
sempurnakanlah bagi kami cahaya kamidan ampunilah kami, sesungguhnya Engkau
Maha Kuasa atas segala sesuatu'".
Taubat Nasuha adalah bertaubat dari dosa yang diperbuatnya saat ini dan
menyesal atas dosa-dosa yang dilakukannya di masa lalu dan brejanji untuk
tidak melakukannya lagi di masa medatang. Apabila dosa atau kesalahan
tersebut terhadap bani Adam (sesama manusia), maka caranya adalah dengan
meminta maaf kepadanya. Rasulullah pernah ditanya oleh seorang sahabat,
"Apakah penyesalan itu taubat?", "Ya", kata Rasulullah (H.R. Ibnu Majah).
Amr bin Ala pernah mengatakan: "Taubat Nasuha adalah apabila kamu membenci
perbuatan dosa sebagaimana kamu pernah mencintainya".
Di bulan pengampunan, Ramadhan yang "Syahrul Maghfirah" ini adalah saat yang
tepat untuk kita bertaubat. Bagi yang sudah bertaubat mari memperbarui
taubatnya dan yang belum taubat mari bergegas kepada ampunan Allah. 10 hari
kedua bulan Ramadhan merupakan masa maghfirah (ampunan) sebagaimana
dijelaskan dalam sebuah hadis riwayat Abu Haurairah "Ramadhan, awalnya
Rahmah, pertengahannya Maghfirah, dan akhirnya dibebaskan dari api neraka"
(H.R. Ibnu Huzaimah).
Selamat menjalankan ibadah puasa.
(Oleh Muhajriin Abdul Qadir, Lc/Disunting oleh Muhammad Niam)
[]
Ikuti juga pengajian Ramadhan ini melalui email anda, tanpa harus membuka web site ini tiap hari. Caranya! Masukkan email anda di text-box, lalu klik tombol berikut.
Email anda: