Pengajian Ramadhan 1422 H Ceramah Ramadhan (6): Menyongsong Lailatul Qadr (Bagian-1)
Dimuat Kamis, 06 Desember 2001
Makna Lailatul Qadar
Sebagian ulama berpendapat bahwa yang dimaksud dengan Al-Qadar (bulan) yang
disandarkan pada kalimat lailah (malam) dapat diartikan sebagai keagungan,
seperti firman Allah "Wama qadarullaha haqqa qadrihi." Ia mempunyai
kekuasaan dan keagungan; seperti diturunkannya Al-Quran, para malaikat,
rahmat, barakah, ampunan, dan juga lailatul Qadar. Semua ini sebagai bukti
kemuliaan dan keagungannya.
Akan tetapi sebagian ulama berpendpat Al-Qadar disini berarti kesempitan,
seperti firman Allah: "Dan barang siapa yang di sempitkan rizkinya" yang
dimaksud dengan sempit di sini tersembunyi-nya malam dan tidak ditentukan
kapan turunnya. Atau bisa juga diartikan sebagai kemampuan, bahwa
sesungguhnya Allah mampu mengetahui apa yang akan terjadi pada tahun itu,
berdasarkan firman Allah: "Fiiha yufraku kullu amrin hakim"
Bangun pada malam lailatul Qadar merupakan sebuah keutamaan dimana Allah
akan membalasnya dengan kebaikan seribu bulan. Maka ibadah di bulan Ramadhan
lebih dianjurkan dari bulan-bulan yang lain.
Dari Abi Hurairah ra, dari Nabi Saw, ia berkata: "Barang siapa yang berpuasa
pada bulan Ramadhan dalam keadaan beriman dan sadar akan batasan dirinya,
maka Allah akan mengampuni segala dosa-dosanya yang telah lalu." Adapun
maksud perkataan beliau: "Barang siapa yang berpuasa pada bulan Ramadhan
dalam keadaan beriman" Yaitu percaya dengan janji Allah akan pahala yang
akan di berikan, karena Allah telah memberikan pahala khusus bagi mereka
yang berpuasa, sebagaimana di sebutkan dalam Hadits Qudsi: "Semua perbuatan
bani Adam diperuntukkan baginya kecuali puasa, maka ia (puasa) adalah
milikku dan aku akan membalasnya" dan maksud dari kata (ihtisaaban) adalah;
meminta keridlaan yang maha kuasa, dan pahala-Nya, tidak ada yang manusia
harapakan kecuali hal tersebut.
Al-Ihtisab berasal dari kata hasiba, seperti kata I'tidad dari kara Al-
'Adad, ada yang mengatakan bahwa maksudnya adalah pelaksanaan suatu
pekerjaan yang murni tidak mengharapkan apa-apa kecuali ridla-Nya.
"Ihtasabahu"karena waktu itu akan dihitung atau dihisab perbuatannya, maka
seakan-akan orang yang berpuasa-lah yang menentukan hasilnya.
Rasulullah bersabda: "Akan di ampuni segala dosanya yang telah lalu" dalam
hadis menunjukkan semua dosa secara keseluruhan, baik yang besar maupun yang
kecil. Akan tetapi para ulama telah bersepakat bahwa yang dimaksud disini
adalah dosa kecil, karena dosa besar tidak akan diampuni kecuali dengan
taubat Nasuha, dengan syarat-syarat sebagai berikut: Menyesali apa yang
telah ia perbuat, berniat kuat untuk tidak mengulangnya kembali untuk
melepaskan diri dari belenggu dosa, dan mengembalikan semua hak kepada
pemiliknya.
Nabi mengatakan bahwa yang dimaksud dengan orang yang berpuasa dan berhak
menerima penghapusan dosa yang telah lalu adalah mereka yang berpuasa dengan
penuh keimanan dan mawas diri, menjauhkan diri dari riya, pamer dan
perbuatan lain yang dapat mengurangi pahala ibadah, bahkan menghilangkannya.
Oleh karena itu Rasulullah mengajarkan kepada umat-Nya untuk beribadah
dengan ikhlas, jujur, selalu mendekatkan diri kepada Tuhannya dengan hanya
mencari ridlanya semata, tidak menpersekutukannya dengan yang lain, "Barang
siapa yang berharap bertemu dengan Tuhannya, maka hendaklah ia beramal saleh
dan tidak mempersekutukan-Nya dengan yang lain"
Bagi mereka yang menjalankan bangun malam dengan penuh keimanan dan mawas
diri, mengisinya dengan shalat tarawih, tahajud, membaca Al-Quran dan
memperbanyak dzikir dan do'a, akan mendapatkan pahala sekaligus ampunan dari
Allah untuk dosanya yang telah lalu.
Allah tidak memberitahukan datangnya malam Lailatul Qadar, akan tetapi
sebagian hadis telah menerangkan bahwa malam tersebut berada pada malam ke
sepuluh terakhir bulan Ramadhan, atau pada bilangan ganjil di bulan
Ramadhan. Adapun yang dimaksud dengan "ampunan" disini adalah ampunan dari
dosa-dosa kecil, Imam Nawawi berkata: "Para ulama telah bersepakat bahwa
dosa yang dihapus pada malam Lailatul Qadar adalah dosa kecil, pendapat ini
disetujui oleh Imam Haramain, dan di harapkan pengampunan ini dapat
meringankan dosa besar yang mereka miliki.
Sedangkan menurut imam Nasa'i, bagaimana ampunan tersebut dapat menghapus
dosa yang belum kita kerjakan? Jawabannya adalah sebagaimana diriwayatkan
dalam sebuah hadis, yang menggambarkan keadaan golongan ahli Badar:
"Lakukanlah apa yang dapat kalian lakukan, maka Allah akan mengampuni
kalian" Ada sebagian pendapat yang mengatakan bahwa maksud dari ampunan
disini adalah penjagaan dari dosa besar, ada juga yang berpendapat bahwa
dosanya akan terampuni.
*****
Apakah orang yang beribadah pada malam Ramadhan akan mendapatkan pahala
Lailatul Qadar? Atau kah pahala tersebut hanya diperuntukkan bagi mereka
yang mampu menyingkap peristiwa tersebut dengan pertanda yang datang kepada
mereka? Sebagian ulama seperti At-Tabari dan yang lainnya mengatakan, pahala
malam Lailatul Qadar akan diterima oleh mereka yang mengisi malam tersebut
dengan ibadah, sekalipun tidak ada pertanda berarti yang membedakan malam
tersebut dengan yang lainnya, dan tidak tergantung pada alamat dan
tanda-tanda yang mengikat.
(Disunting dari al-Shiyâm fî 'l-Islam, karya Dr. Ahmad Umar
Hasyim/Penyunting dan alih bahasa: Yessi Afdiani NA./Editor ARW)
[]
Ikuti juga pengajian Ramadhan ini melalui email anda, tanpa harus membuka web site ini tiap hari. Caranya! Masukkan email anda di text-box, lalu klik tombol berikut.
Email anda: