Pengajian Ramadhan 1422 H Mutiara Ramadhan (5): Berdoa Di Saat Puasa
Dimuat Jum'at, 07 Desember 2001
Doa dianjurkan pada setiap saat dan setiap waktu. Allah telah memerintahkan
hambanya untuk berdoa, dan meminta darinya untuk berdoa kepada-Nya. "Tuhanmu
berkata, mintalah kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan" (QS. Ghâfir 40: 60). Doa
merupakan otak ibadah. Doa mempengaruhi sesuatu yang sudah ada dan yang
belum ada. Maka, seorang hamba hendaknya tak melupakan doa di setiap saat
dan setiap waktu.
Akan tetapi ada beberapa waktu dan kondisi di mana doa pada saat itu
diharapkan lebih cepat terkabul. Salah satunya adalah ketika seseorang
sedang melakukan ibadah puasa, baik itu puasa wajib, seperti puasa Ramadan;
puasa sunah, seperti puasa di hari-hari yang disunahkan berpuasa; atau pun
puasa nadzar, dan puasa kafarat (yaitu puasa sebagai sanksi karena melanggar
aturan agama, contohnya orang yang melanggar sumpah, penyunting).
Di saat puasa, pada pertengahan hari, doa diharapkan lebih cepat terkabul.
Begitu juga saat berbuka pada waktu azan Maghrib. Dari Abdullah Ibn 'Amr Ibn
al-'Ash ra. bahwasanya Nabi saw. bersabda: "Orang yang berpuasa tidak akan
ditolak doanya ketika sedang berbuka" (HR. Ibn Mâjah).
Abdullah ra. sendiri ketika berbuka selalu berdoa: "Ya, Allah! Dengan
belas-kasih-Mu yang maha luas, aku memohon kepada-Mu untuk mengampuni
diriku". (Dalam teks Arabnya berbunyi: Allâhumma innî as-aluka birahmatika
allatî wasi'at kulla syai-in, an taghfira lî).
Adapun doa berbuka yang diriwayatkan dari Rasulullah saw. di antaranya
adalah: "Ya, Allah! Karena-Mu, aku berpuasa. Dan atas rizki-Mu, aku berbuka.
Dahaga telah sirna, tenggorokan pun telah basah. Semoga, dengan seizin-Mu,
tetapkanlah pahalanya". (Teks Arabnya berbunyi: Allâhumma laka shumtu, wa
'alâ rizqika afthartu, dzahaba al-dzama-u, wabtalat al-'uruqu,
watsabatal-ajru insyâallâh ta'âlâ).
Dalam doa di atas, ada harapan untuk mendapatkan pahala, rahmat, dan
ungkapan rasa syukur dari seorang hamba.
Dan, lagi, di antara dasar maqbulnya doa orang yang sedang berpuasa adalah
Hadis Nabi saw yang artinya: "Tiga orang yang doanya tak akan ditolak, orang
yang puasa sampai ia berbuka, pemimpin yang adil, dan orang yang dizalimi"
(HR. al-Tirmidzi).
Dalam riwayat lain dikatakan, "ketika berbuka". Juga dalam sebagian riwayat
yang lain dikatakan, "doa orang yang teraniaya diangkat oleh Allah ke atas
awan. Kemudian Tuhan pun berkata: 'Demi Keagungan dan Kemuliaan-Ku, cepat
atau lambat, niscaya Aku akan menolongmu'."
Demikianlah, dari Hadis-Hadis di atas, kami melihat bahwasanya waktu
berpuasa adalah waktu yang mustajab untuk berdoa. Maka bagi orang yang
berpuasa, baik itu puasa wajib ataupun sunnah, agar memperbanyak doa. Ketika
berdoa, hendaknya berdoa dengan hal-hal yang baik, bagi dirinya dan
saudara-saudaranya, bukan dengan doa untuk kejelekan, dosa, dan memutuskan
tali persaudaraan.
Dari Ibnu 'Umar ra., ia berkata: "Rasulullah tidak pernah meninggalkan
majlis sebelum mendoakan sahabat-sahabatnya dengan doa seperti berikut: "Ya,
Allah! Anugerahkan kepada kami rasa takut yang dapat menjauhkan kami dari
berbuat maksiat kepada-Mu. Anugerahkan kepada kami ketaatan yang dapat
menuntun kami menuju surga-Mu. Anugerahkan kepada kami keyakinan yang mampu
mengalahkan keruwetan dunia ini. Ya, Allah! Jadikanlah kami orang yang bisa
menikmati pendengaran, penglihatan, dan kekuatan selama kami hidup, dan
wariskan pula hal itu kepada keturunan kami. Ya, Allah! Balaskanlah dendam
kami kepada orang-orang yang telah berlaku zalim kepada kami, dan tolonglah
kami menghadapi musuh-musuh kami. Ya, Allah! Jangan Engkau timpakan bencana
kami dalam agama kami; jangan Engkau jadikan dunia sebagai tujuan utama
kami, juga bukan tujuan utama ilmu kami. Dan ya, Allah! Jangan Engkau
kuasakan orang-orang yang tiada mengasihi kami atas diri kami " (HR.
al-Turmudzi dan al-Hakim).
(Teks Arabnya berbunyi: Allâhumma aqsim lanâ min khasyyatika mâ tahűlu bihî
bainanâ wa baina ma'shiyatik, wa min thâ'atika mâ tuballighunâ bihî
jannatak, wa min al-yaqîni mâ tuhawwinu bihî 'alaynâ mashâib-addunyâ, wa
matti'nâ bi asmâ'inâ wa abshârinâ wa quwwatinâ mâ ahyaytanâ, waj'alh-u
l-wâritsa minnâ, waj'al tsa`ranâ 'alâ man dhalamanâ, wanshurnâ 'alâ man
'âdânâ, wa lâ taj'al mushîbatanâ fî dîninâ, wa lâ taj'aliddunya akbara
hamminâ wa lâ mablagha 'ilminâ, wa lâ tusallith 'alaynâ man lâ yarhamunâ).
(Disunting dari al-Shiyâm fî 'l-Islam, karya Dr. Ahmad Umar Hasyim.
Penyunting dan alih bahasa: Yessi Afdiani NA. & Shocheh Ha.)
[]
Ikuti juga pengajian Ramadhan ini melalui email anda, tanpa harus membuka web site ini tiap hari. Caranya! Masukkan email anda di text-box, lalu klik tombol berikut.
Email anda: