Pengajian Ramadhan 1422 H Mutiara Ramadhan (6): Ini adalah Bulan Aktifitas, Jangan Malas!
Dimuat Sabtu, 08 Desember 2001
Tiga puluh hari dimana kemuliaan menemani kita ada di Ramadan. Satu bulan
suci yang akan mengantarkan kita untuk merasakan sentuhan kasih sayang Sang
Maha Penyayang yang-barangkali-kita lupakan pada bulan-bulan yang lain.
Sebelas bulan dalam setahun kita sibuk mengejar kemewahan, superioritas,
gelimang gemerlapnya dunia, dan tanpa kita sadari bertumpuk-tumpuk dosa dan
kesalahan di pundak kita. Kita sudah biasa melupakan-Nya, mengkristalkan
bongkahan-bongkahan batu dalam hati kita, mengobarkan api permusuhan
terhadap siapa saja yang menghalangi langkah kita serta buta kepada yang di
"bawah" dan di sekitar kita.
Maka, datangnya bulan yang mulia ini mengajak kita untuk merenungi kembali
kesalahan-kesalahan kita, memperbaiki hubungan kita, baik vertikal maupun
horisontal. Adapun cara kita memperbaiki hubungan kepada Allah adalah
dengan kembali mengingat-Nya dengan kembali menjalankan perintahnya
sehingga kita tetap pada jalan-Nya yang lurus.
Sedangkan cara kita untuk memperbaiki diri sendiri adalah dengan menyatukan
lisan dan perbuatan yang disertai panggilan suci hati nurani. Iman bukan
sekedar ucapan atau pun syiar-syiar, tapi iman hakiki adalah seperti yang
disampaikan oleh Rasul saw, yaitu membenarkan dalam hati, dan
mengejawantahkannya dalam amal perbuatan. Apabila berhasil memperoleh iman
yang hakiki ini maka ketenangan hati, kebersihan jiwa akan kita peroleh. Di
samping, tentunya, manisnya iman serta lezatnya taat dan beribadah kepada
Sang Khalik. Bulan ini akan membantu kita membersihkan mata hati dan
menjauhkan perilaku hipokrit. Allah tidak menjadikan bagi mukmin dalam
dirinya kecuali satu hati.
Adapun cara kita untuk berbuat baik kepada manusia adalah dengan menebarkan
kasih sayang, kelembutan, dan menjauhkan diri dari sifat dengki, membenci,
dan menyambung hubungan yang terputus, baik dengan kerabat dekat, tetangga,
dan seluruh sahabat. Akan lebih baiknya, apabila kita mampu memaafkan
orang-orang yang memiliki kesalahan kepada kita sehingga Allah juga akan
memaafkannya dan ridla terhadap perbuatannya.
Sudah sewajarnya, dalam keadaan puasa tubuh kita letih-terkuras untuk
aktifitas sehari-hari semisal bekerja, menuntut ilmu, ibadah, dan
lain-lain. Tapi, kita harus ingat walaupun tubuh kita letih, bekerja juga
merupakan suatu kewajiban bagi setiap Muslim dan tercatat sebagai amal
ibadah. Bukankah Allah dan Rasul-Nya lebih mencintai tangan-tangan yang
bekerja dan berkarya dari pada tangan-tangan yang malas dan berpangku
tangan.
Karena itu, menjadikan Ramadan sebagai alasan untuk lamban bekerja akan
menghilangkan pahala puasa bagi pekerja itu sendiri, ia tak akan memperoleh
dari puasa selain lapar dan dahaga. Bahkan ia telah melakukan kesalahan
ganda, yaitu kemunduran dalam beribadah dan bekerja. Terlebih lagi, jika ia
bekerja untuk melayani masyarakat. Sebaik-baik pekerjaan adalah khidmat
kepada umat. Ia lebih afdhol dibanding i'tikaf di dalam masjid selama
bertahun-tahun. Allah menyukai pekerjaan yang dilakukan dengan keuletan,
peras keringat, dan banting tulang.
Nah, cara "tobat" di atas (yaitu memperbaiki segala amal perbuatan kita
baik ke arah vertikal maupun horisontal), tertuang dan tersedia dalam
kesempatan yang mulia ini. Tetapi, di sana ada syarat yang harus kita
penuhi, yaitu bahwa segala perbuatan buruk yang telah dilakukan di masa
lalu tak akan diulangi di masa mendatang. Kita harus berusaha untuk itu,
berusaha untuk istiqamah. Terlebih lagi, tidak logis rasanya jika dengan
berakhirnya bulan Ramadan maka kita mengulangi lagi perbuatan-perbuatan
buruk yang telah kita lakukan sebelum bulan Ramadan. Kalau hal itu sampai
terjadi, maka puasa, salat, zakat, serta kebaikan-kebaikan yang telah kita
lakukan tak akan bermanfaat.
Jika Ramadan akan mengahapuskan dosa-dosa kita sebelumnya, tetapi ia tak
akan menghapuskan dosa-dosa kita setelah ia usai. Jika kita mengulang
kesalahan masa lalu, maka kita telah menipu diri sendiri, dan tak akan
memperoleh apa-apa kecuali murka Sang Khalik dan malaikat malaikat-Nya.
Hendaklah kita jadikan puasa Ramadan ini untuk menumbuhkan
kebaikan-kebaikan dan menutup kejelekan-kejelekan, serta membangkitkan
nurani untuk mendorongnya beramal dengan ikhlas, agar kita memperoleh ridla
Tuhan dan surga-Nya. Barangsiapa telah merasakan manisnya taat dan iman
serta taqarub kepada Tuhan, maka tak akan mungkin kembali kepada kerendahan
maksiat dan kehinaan syahwat. Semoga Allah menjaga kita dari
perbuatan-perbuatan tercela dan menganugerahkan kepada kita kebahagiaan
dunia akhirat.
(Oleh: Dr. Muhammad Majdi Marjân dari harian al-Akhbâr/Alih bahasa: Udy
Andriyati S. Moechtar)
[]
Ikuti juga pengajian Ramadhan ini melalui email anda, tanpa harus membuka web site ini tiap hari. Caranya! Masukkan email anda di text-box, lalu klik tombol berikut.
Email anda: