Pengajian Ramadhan 1422 H Ceramah Ramadhan (9): Menyongsong Lailatul Qadr (bagian-3)
Dimuat Rabu, 12 Desember 2001
WAKTU DAN TANDA-TANDA KEDATANGAN MALAM LAILATUL QADAR
Dari Ibnu Umar ra, ada beberapa orang sahabat Nabi Saw yang bermimpi bahwa
Lailaitul Qadar akan datang pada pada tujuh malam terakhir bulan Ramadhan,
Rasulullah SAW bersabda: "Aku juga melihat ru'yah kalian pada tujuh malam
terakhir bulan tersebut. Maka barang siapa yang menginginkannya,
dapatkanlah malam tersebut pada tujuh malam terakhir"
Lailatul Qadar mempunyai kedudukan yang istimewa dalam Islam, karena malam
tersebut diakui sebagai malam yang lebih baik dari seribu bulan. Pada malam
tersebut turunlah para malaikat (termasuk malaikat Jibril) dengan izin
Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam tersebut akan penuh dengan
kesejahteraan sampai terbit fajar.
Seperti halnya kematian, malam Lailatul Qadar juga dirahasikan
keberadaannya oleh Allah supaya manusia mempergunakan seluruh waktunya
untuk beribadah dan mengingatnya dengan tetap mawas diri setiap saat,
selalu berbuat kebaikan dan taat kepada Tuhannya.
"Aku juga melihat Lailatul Qadar dalam mimpi seperti kalian yaitu pada
tujuh malam terakhir" (dengan mempergunakan kalimat Tawaata'a). Hadis ini
bersinggungan dengan sebuah hadis yang berbunyi: "Seseorang telah melihat
malam Lailatul Qadar pada tujuh malam terakhir bulan Ramadhan, maka Nabi
bersabda: "Dapatkanlah malam mulia itu, pada tujuh malam terakhir" (Dengan
mempergunakan kata Ra'a). Riwayat Muslim menyatakan bahwa Lailatul Qadar
jatuh pada tujuh malam terakhir sedang riwayat Bukhari ada yang melihat
jatuh pada malam ketujuh dan ada yang melihat sepuluh terakhir.
Karena perbedaan kalimat pada kedua hadis tersebut (dalam riwayat Muslim
mempergunakan kalimat Tawata'a sedangkan riwayat Bukhori tidak
mempergunakan kalimat tersebut), timbullah perbedaan pendapat di antara
para ulama dalam menentukan datangnya malam Lailatul Qadar, ada yang
mengatakan pada tujuh malam terakhir dan ada juga yang mengatakan sepuluh
malam terakhir. Padahal secara tidak langsung bilangan tujuh masuk ke dalam
sepuluh, maka Rasulullah pun menentukan bahwa malam Lailatul Qadar jatuh
pada tujuh malam terakhir, karena makna Tawaata'a pada hadis yang
diriwayatkan Muslim berarti Tawaafuq (sesuai atau sama).
Sebagian ulama berpendapat bahwa yang dimaksud dengan tujuh di sini adalah
tujuh malam terakhir bulan Ramadhan. Berdasarkan hadis yang diriwayatkan
Ali ra, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda: "Dapatkanlah Lailatul Qadar
pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan, seandainya kalian kehilangan
hari-hari sebelumnya maka jangan sampai kalian melewatkan malam-malam
terakhir bulan tersebut"
Diriwayatkan oleh Ibnu Umar ra, ia berkata, bahwasanya Rasulullah Saw
bersabda: "Dapatkanlah Lailatul Qadar pada sepuluh malam terakhir bulan
Ramadhan, apabila kalian merasa lemah atau tidak mampu melaluinya maka
jangan sampai kalian kehilangan tujuh malam berikutnya" Dari berbagai versi
hadis yang ada, telah terbukti bahwa Lailatul Qadar jatuh pada sepuluh
malam terakhir bulan Ramadhan.
Sebagian ulama berpendapat bahwa Lailatul Qadar jatuh pada malam dua puluh
dua dan paling akhir jatuh pada malam dua puluh delapan, berdasarkan sebuah
hadis yang diriwayatkan oleh Bukhori dari Ibnu Abbas bahwasanya Rasulullah
SAW bersabda: "Dapatkanlah Lailatul Qadar pada sepuluh malam terakhir bulan
Ramadhan. Akan tetapi malam Lailatul Qadar sendiri jatuh pada malam ke
sembilan, tujuh dan lima Ramadhan (bilangan ganjil).
Dari riwayat hadis yang berbeda lahirlah pendapat para ulama yang beragam
(tidak kurang dari empat puluh pendapat). Malam Lailatul Qadar mempunyai
ciri dan keistimewaan tersendiri yang tidak dapat kita kenali kecuali
setelah berlalunya malam tersebut. Salah satu ciri atau keistimewaan
tersebut adalah; terbitnya matahari seperti biasa akan tetapi memancarkan
cahaya redup (tidak bersinar terang seperti biasa), berdasarkan sebuah
hadis: dari Zur Bin Hubaisy, ia berkata: "Aku mendengar Ubay Bin Ka'ab
berkata: "Barang siapa yang bangun di tengah malam selama satu tahun ia
akan mendapatkan Lailatul Qadar" Ayahku berkata: "Demi Allah tidak ada
Tuhan selain dia, malam itu terdapat di bulan Ramadhan, demi Tuhan aku
mengetahuinya, tapi malam manakah itu? Malam dimana Rasulullah
memerintahkan kita untuk bangun untuk beribadah. Malam tersebut adalah
malam ke dua puluh tujuh, yang ditandai dengan terbitnya matahari berwarna
putih bersih tidak bercahaya seperti biasanya".
Diriwayatkan dari Ibnu Khuzaimah dari hadis Ibnu Abbas: "Ketika Lailatul
Qadar pergi meninggalkan, bumi tidak terasa dingin, tidak juga panas, dan
matahari terlihat berwarna merah pudar" dan dari Hadits Ahmad: "Pada hari
itu tidak terasa panas ataupun dingin, dunia sunyi, dan rembulan bersinar"
Dari hadis kedua kita dapat menyimpulkan bahwa ciri-ciri tersebut hanya ada
pada waktu malam hari.
Malam Lailatul Qadar bukanlah malam yang penuh dengan bintang yang bersinar
(sebagaimana diperkirakan orang) akan tetapi Lailatul Qadar adalah malam
yang mempunyai tempat khusus di sisi Allah. Dimana setiap Muslim dianjurkan
untuk mengisi malam tersebut dengan ibadah dan mendekatkan diri padanya.
Imam Thabari mengatakan: "Tersembunyinya malam Lailatul Qadar sebagai bukti
kebohongan orang yang mengatakan bahwa pada malam itu akan datang ke dalam
penglihatan kita sesuatu yang tidak akan pernah kita lihat pada malam-malam
yang lain sepanjang Tahun, sehingga tidak semua orang yang beribadah
sepanjang tahunnya mendapat Lailatul Qadar" Sedangkan Ibnu Munir mengatakan
bahwa tidak sepantasnya kita menghukumi setiap orang dengan bohong, karena
semua ciri-ciri tersebut bisa dialami oleh sebagian golongan umat,
selayaknya karamah yang Allah berikan untuk sebagian hambanya, karena Nabi
sendiri tidak pernah membatasi ciri-ciri yang ada, juga tidak pernah
menafikan adanya karamah.
Ia meneruskan: Lailatul Qadar tidak selamanya harus diiringi keajaiban atau
kejadian-kejadian aneh, karena Allah lebih mulia kedudukannya untuk
membuktikan dan memberikan segala sesuatu sesuai dengan kehendaknya.
Sehingga ada yang mendapatkan malam Lailatul Qadar hanya dengan beribadah
tanpa melihat adanya keanehan, dan ada sebagian lain yang melihat keanehan
tanpa di sertai ibadah, maka penyertaan ibadah tanpa disertai keanehan
kedudukannya akan lebih utama di sisi Tuhan.
Ada sebagian pendapat yang mengatakan bahwa salah satu ciri datangnya malam
Lailatul Qadar adalah melihat segala sesuatu yang ada di bumi ini tertunduk
dan sujud ke hadirat-Nya. Sebagian lain mengatakan pada malam itu dunia
terang benderang, dimana kita dapat melihat cahaya dimana-mana sampai ke
tempat-tempat yang biasanya gelap. Ada juga yang mengatakan orang yang
mendapatkan malam Lailatul Qadar dapat mendengar salam dan khutbahnya
malaikat, bahkan ada yang mengatakan bahwa salah satu ciri tersebut adalah
dikabulkannya do'a orang yang telah diberikannya taufik.
(Disunting dari al-Shiyâm fî 'l-Islam, karya Dr. Ahmad Umar Hasyim.
Penyunting dan alih bahasa: Yessi Afdiani NA.)
[]
Ikuti juga pengajian Ramadhan ini melalui email anda, tanpa harus membuka web site ini tiap hari. Caranya! Masukkan email anda di text-box, lalu klik tombol berikut.
Email anda: