|
Pesantren Virtual
|
|
AL-QUR’AN PELITA KEHIDUPAN
Hidup manusia bagaikan lalu lintas, semua ingin selamat dan cepat sampai
tujuan. Karena kepentingan mereka berlainan, maka arah yang mereka tempuh
pun berlainan pula. Supaya tidak
terjadi tabrakan dan kecelakaan maka diperlukanlah adanya peraturan rambu-rambu lalu lintas
yang dapat mengatur lancarnya jalur lalu lintas
tersebut.
Demikian pula halnya dengan kehidupan manusia, semua ingin sejahtera dan
selamat dunia dan akhirat, namun karena kepentingan dan intrest mereka
berbeda-beda maka tampaklah dalam
masyarakat tersebut propesi yang berbeda-beda pula. Supaya tidak terjadi
penganiayaan seseorang atas orang lain maka diperlukanlah adanya undang-undang
yang dapat mengatur lancarnya jalur kehidupan tersebut. Peraturan tersebut
selanjutnya di kenal dengan sebutan agama. Yang lebih spesifiknya lagi agama
yang hanya diterima di sisi Allah yang bersumberkan dari Al- Quran dan
Sunnah.
Selanjutnya rambu-rambu lalu lintas tadi perlu dipahami dan ditaati.
Kapan harus berhenti (lampu merah), berhati-hati( lampu kuning), boleh jalan
(lampu hijau) dan lain sebagainya. Demikian pula dengan Al-qur’an dan hadist, ia
harus dipahami, dipelajari dan diamalkan
ajaran-ajarannya.
Umpama lampu merah yang berarti berhenti, semestinya tidak diartikan
sebagai hambatan lancarnya perjalanan tapi justru harus di pahami bahwa hal
tersebut adalah demi keselamatan dirinya sendiri. Demikian pula halnya dengan
larangan yang ada dalam agama islam yang dalam ilmu fiqh di kenal dengan istilah
haram, tidak diartikan sebagai pengekang kebebasan, namun harus disadari bahwa
di balik hal tersebut ada
terdapat hikmah-hikmah yang
terkadang manusia sendiri tidak dapat mengungkapnya secara
keseluruhan.
Contoh larangan Al-quran firman Allah SWT: “ Hai orang-orang yang
beriman, bahwa sesungguhnya meminum khamar, berjudi, berkorban untuk berhala,
mengundi nasib dengan anak panah adalah perbuatan keji dari perbuatan syaitan
maka hindarilah hal-hal tersebut supaya kalian beruntung”.(Al-Maidah
90)
Dalam ayat selanjutnya Allah SWT menerangkan sebagian hikmah dari
pelarangan tersebut, firmannya: “Sesungguhnya syaitan itu menginginkan
permusuhan dan kebencian diantara kalian di dalam meminum khamar dan berjudi dan
melalaikan kalian dari mengingat Allah dan sholat, maka hindarilah perbuatan
tersebut.(Al-Maidah91).
Lampu kuning yang berarti hati-hati, di dalam Al-quran manusia juga sering diingatkan agar
tidak terbuai dengan kenikmatan dunia, dari harta, wanita dan anak. Allah SWT
berfirman: Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya sebahagian dari istri
dan anak-anakmu itu ada yang menjadi musuh bagimu maka waspadalah kalian
terhadap mereka...(At-Thagabun14). Sesengguhnya harta dan anak adalah
cobaan bagimu.(At-Thagabun15 ). Hai orang-orang yang beriman, janganlah
kalian sampai dilalaikan oleh harta dan anak-anak kalian, barang siapa yang
melakukan hal tersebut maka mereka
itulah orang-orang yang
merugi.(Al-Munafiqun9).
Lampu hijau yang berarti silahkan
jalan dikenal dengan istilah mubah. Allah berfirman dalam surat Al-Jumah
ayat 10: “maka apabila telah di tunaikan sholat, bolehlah kalian bertebaran
di muka bumi ini dan carilah dari karunia Allah…”.
Dst.
Sering timbul pertanyaan, “mengapa Islam yang dikatakan sebagai agama paling baik ternyata selalu saja
menjadi lambang segala kejelekan, terkebelakang, bodoh, korup, dsb. Jawaban
pertanyaan-pertanyaan di atas adalah karena pemeluk agama itu sendiri yang tidak
berpegang teguh pada ajarannya.
Misalnya Islam mengajarkan supaya memanfaatkan waktu. Firman Alllah dalam
surat Al-Ashr: “Demi masa...” dalam surat: As-Syarh ayat 7:“Maka
apabila kamu telah menyelesaikan suatu pekerjaan, berpindahlah kepada pekerjaan
yang lain”. Namun ternyata masih banyak dari mereka yang hobbynya
berleha-leha.
Firman Allah: “janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang
lain dengan batil”.tapi justru di negara-negara muslim lah yang menempati
tingkat tertinggi korupsinya.
Bodoh, padahal Islam sangat menganjurkan pemeluknya untuk menuntut ilmu.
Firman Allah SWT dalam ayat yang pertama sekali diturunkan:
“Iqra!”(bacalah), tapi masih banyak dari umat Islam itu sendiri yang
belum mengenyam dunia
pendidikan.
Dari bukti-bukti di atas jelas bahwa ajaran islam itu sangat indah. Adapun kemunduran umat Islam tidak lain kecuali dikarenakan pemeluknya itu sendiri yang tidak atau belum berpegang teguh pada ajarannya dan Al-Quran hanya akan memberikan pelitanya apabila ia dipelajari, dibaca, ditadabburi dan diamalkan ajarannya.
Wallahu a’lam.
Muhammad
Yusuf
Mahasiswa
S2, Tafsir Hadist
International Islamic University Islamabad
| Halaman Yang Berhubungan | |