Rambut Menghalangi Dahi dan Imam Terkena Najis

Tanya:

Ustadz yang terhormat, saya langsung saja mau menanyakan hal-hal sbb:

  1. Orang yang waktu sujud dalam shalat tertutup rambut apakah sah salatnya, sebab saya pernah mendengar bahwa satu helai rambutpun yang menutupi dahi maka salatnya tidak sah mohon dijelaskan pendapat fuqoha' jika ada ikhtilaf?
  2. Apakah thuma'ninah (berdiam sesaat) termasuk rukun shalat?
  3. Bagaimana hukumnya, jika pakaian yang kita pakai salat terpercik air seni, sedangkan kita sebagai imam?

Eddy Suprapto

Jawab:

Begini, Mas Eddy,

  1. Memang ada perbedaan pendapat: apakah sujud–yang berarti harus menempelkan dahi–ke lantai itu berarti harus tanpa aling-aling sedikitpun walau itu sehelai rambut?
    Hanafiyah, Malikiyah, dan Hanbaliyah: Makruh hukumnya sujud di atas sesuatu (baik rambut, kain, dll) yang bergerak karena gerakan badan. Tidak sampai membatalkan salat. Landasannya adalah ungkapan Sahabat Anas ra.: "Kami pernah salat bareng Rasulullah saat panas sekali. Di mana di antara kami tak mampu menempelkan dahi ke bumi, lantas menggelar pakaian kami lalu sujud di atasnya."
    Syafi'iyah berpendapat: Dahi tak boleh sedikitpun tertutup sesuatu yang menempel badan, baik itu rambut, sorban, dll yang ikut bergerak karena gerakan badannya. Tapi boleh saja sujud di atas ujung pakaiannya yang sekiranya tak tergerak oleh gerakan badannya. Yang penting sesuatu yang tak bergerak karena gerakan badannya. Seseorang yang tahu dan dengan sengaja melakukan hal itu maka salatnya batal. Kalau karena lupa atau tidak tahu tak batal.

    Perbedaan pendapat ini terjadi karena Syafi'iyah mengembalikan pendapatnya pada hadis wajibnya dahi menempel ke tempat sujudan. "Saya diperintah bersujud atas 7 anggota badan: dahi, dua (telapak) tangan, dua lutut, dan dua (telapak) kaki," kata Rasul. Dan Syafi'iyah menganggap dhaif hadisnya Sahabat Anas di atas.

    Perlu diketahui, menempelkan hidung tidak wajib. Hanya disunatkan. Dan boleh hanya menempelkan hidung (tanpa dahi) jika memang ada udzur (karena sakit di dahi, misal).

  2. Betul, thuma'ninah (tenang sesaat) dalam setiap rukun salat termasuk rukun, dilakukan pada saat ruku, i'tidal, sujud dan duduk diantara dua sujud. "Bila engkau salat, bertakbirlah, kemudian bacalah ayat-ayat yang mudah dari al-Qur'an, kemudian ruku'lah sampai kamu tenang dalam ruku'mu, kemudian berdirilah sampai engkau bisa berdiri tegak, kemudian sujudlah sampai kamu tenang dalam sujudmu. Dan lakukan itu pada setiap salat." [HR. Bukhari Muslim]

    Thuma'ninah dianggap cukup, minimal sampai benar-benar berada dalam posisi sempurna setiap gerakan salat, sehingga tidak terkesan tergesa-gesa ketika berpindah pada gerakan lain.

  3. Dalam salat berjamaah, jika imam terkena najis (baik badan, pakaian, tempat) sejak sebelum salat, maka salatnya batal dan wajib mengulang kembali. Kewajiban ini bagi siapa saja yang tahu adanya najis, baik makmum atau imam, dalam keadaan ditengah salat.

    Namun, bagaimana jika tahunya ada najis baru seusai salat? Menurut Hanafiyah salat makmum batal sebagaimana imam, dan harus mengulang.
    Syafi'iyah dan Hanbaliyah berpendapat bahwa salatnya makmum tidak batal dan tidak wajib mengulang, karena sahnya salatnya makmum -menurut pendapat ini- tidak tergantung pada sahnya salatnya imam.

Wallahu a'lam

Mutamakkin Billa