Sebagian dari Zakat Fitrah untuk Pembangunan Masjid

Pertanyaan:
Assalamu`alaikum wr. wb.
Mohon bantuan penjelasannya :
Pada saat pelaksanaan zakat fitrah kemaren, ada suatu edaran dari suatu panitia penerimaan zakat fitrah (katakanlah panitia penerimaan di suatu masjid agung atau masjid jami’), dimana untuk zakat fitrah dapat disetorkan dalam bentuk uang.
Waktu itu sebesar Rp. 7.500,- atau setara dengan Rp. 3.000,- per kg beras. Pada kenyataannya ada muslim yang kesehariannya mengkonsumsi beras diatas harga diatas, Rp. 4.000,- per kg misalnya. Dan karena ingin menyesuaikan dengan kesehariannya, ada beberapa orang muslim yang membayarkan zakat fitrahnya sejumlah Rp. 10.000,-. Dari gambaran diatas jelas ada perbedaan Rp. 2.500,-. Sesuai dengan edaran, oleh panitia penerimaan di suatu musholla, hanya dibayarkan Rp. 7.500,- kepada panitia penerimaan di masjid agung/jami’, sedangkan selisihnya yang Rp. 2.500,- diserahkan ke panitia pembangunan musholla.

  1. Bagaimana hukum dari kejadian diatas, mohon dijelaskan lebih lanjut ?
  2. Bagaimana hukum zakat fitrah bila dibayarkan dengan uang, bukan makanan pokok seperti yang kita makan sehari-hari?

Terima kasih

Wassalamu’alaikum wr. wb.

Jawaban:

Assalamu`alaikum wr. wb.

1. Hukum kejadian di atas tidak apa-apa, karena tidak memotong nilai yang asli, Rp. 7.500. Jika pembayaran yang umum dilakukan masyarakat –di tempat anda– adalah Rp. 7.500, maka itu menjadi nilai atau standar umum. Tetapi, lebih baik agar yang membayar Rp. 10.000 –atau yang di atas 7.500– tidak dialokasikan ke panitia pembangunan mushola. Sebab, uang/setoran zakat FITRAH hanya untuk menangani orang-orang fakir miskin, dan tidak boleh dialokasikan untuk apapun, sekalipun untuk penitia pembangunan mushola. Jika orang fakir miskin sudah tidak ada di daerah anda, misalnya, maka uang / setoran hasil zakat FITRAH diserahkan ke fakir miskin di daerah lain, yang masih ada orang-orang fakir miskinnya. Demikian, kiranya menjadi perhatian.

2. Jika orang yang ingin membayar zakat fitrah tidak sempat membayarnya dengan beras, atau hal-hal yang menjadi makanan pokok di tempat itu, maka dia diijinkan untuk membayarnya menggunakan uang, dengan nilai yang sama dengan nilai beras yang diwajibkan.

Wallahu a`lam. Semoga membantu.

Wassalamu’alaikum wr. wb.

Luthfi Thomafi