Sengaja Meninggalkan Puasa Ramadhan

Assalamu’alaikum wr. wb.

Puasa kemarin saya tidak puasa 2 hari. Sebetulnya saya sudah mengganti puasa itu 2 hari. Tapi saya pernah dengar apabila batalnya disengaja, saya harus menggantinya dengan sedekah memberi makan kepada 60 orang perhari saya tidak puasa. Jadi ada 120 orang. Mohon penjelasannya.

Ikhsan
 

——-
Jawab
——-

Assalamu’alaikum wr. wb.

Abu Hurairah meriwayatkan: "Datang seorang lelaki menghadap kepada Baginda Nabi saw, kemudian ia mengatakan: celakalah saya wahai Rasulullah!! Berkata Nabi saw: Apakah gerangan yang menjadikan engkau celaka? Ia menjawab: Saya telah mengumpuli istriku pada (hari) Ramadhan. Bertanya Rasul saw: Apakah kamu mempunyai sesuatu (harta) untuk memerdekakan budak?. Ia menjawab: Tidak. Maka kemudian baginda Rasul bertanya lagi: Apakah kamu mampu melakukan puasa selama dua bulan berturut-turut? Ia menjawab lagi: Tidak. Bertanya Rasul untuk yang ketiga kalinya: Apakah kamu mempunyai sesuatu (harta) untuk memberi makan enam puluh orang miskin? Ia pun menjawab: Tidak. Berkata Abu Hurairah: kemudian Nabi duduk, dan tak lama kemudian dihaturkan kepada beliau sebuah bejana yang berisi kurma. Berkata Rasul saw (kepada lelaki tsb): Bersedekahlah dengan ini. Kemudian ia mengatakan: Apakah (saya bersedekah) kepada seseorang yang lebih fakir dari pada kami, karena sesungguhnya tidak ada di antara dua padang batu Madinah, satu keluarga pun yang lebih membutuhkannya dari pada kami. Maka kemudian Rasul saw tertawa, sehingga kelihatan gigi depannya, seraya beliau mengatakan: Pulanglah dan berikan makanan ini kepada keluargamu. Hadis inilah yang digunakan para ulama’ madzhab sebagai basis dalil diberlakukannya kewajiban membayar kaffarah: seorang membatalkan puasanya dengan cara mengumpuli (jima’) istrinya pada siang bulan Ramadhan. Maka ada satu kesepakatan diantara mereka, mengumpuli seorang wanita pada siang Ramadhan, selain membatalkan puasa, juga mewajibkan membayar kaffarah. Namun, kemudian para ulama’ tsb berbeda pendapat, apakah jima’ itu hanya sebagai contoh kasus ataukah sebagai tipe definitif. Kalau hanya sebagai contoh kasus, maka kasus-kasus lainnya yang dapat membatalkan puasa (seperti makan, minum dsb), dan dilakukan dengan tanpa udzur (seperti sakit, bepergian dsb), juga mempunyai konsekuensi sama: kewajiban membayar kaffarah. Sementara kalau ia (jima’) dipandang sebagai tipe definitif, maka ia adalah satu-satunya perbuatan yang berimplikasi pada kewajiban membayar kaffarah.
Pendapat pertama (contoh kasus) dibenarkan oleh madzhab Hanafiyah dan Malikiyah, sementara pendapat kedua (tipe definitif) dikuatkan oleh Madzhab Syafiiyah dan Hanbaliyah. Bapak dapat mempertimbangkan dua pendapat diatas, mana sekiranya yang sesuai dengan hati Bapak. Mungkin perlu disampaikan, bersedakah setelah melakukan perbuatan maksiat, dalam agama Islam dikategorikan sebagai amal baik. Kalau sekiranya masih kurang jelas, dapat dikonsultasikan kembali dengan kami, dan mohon kasus yang bapak alami lebih diperici lagi. Adapun mengenai kaffarah, ketentuannya adalah keharusan melaksanakan satu diantara tiga kewajiban berikut secara berurutan: memerdekakan budak, puasa dua bulan dengan tanpa terputus-putus (kecuali ada udzur) dan memberi makan enam puluh orang miskin. Maksud "berurutan" di sini adalah, bahwa kewajiban kedua tidak boleh dilaksanakan jika seseorang masih mampu melaksanakan yang pertama, begitu juga yang ketiga, ia tidak boleh dilaksanakan selama masih ada kemampuan melaksanakan yang kedua. Namun menurut Imam Malik, masing-masing dari ketiga ketentuan tsb . merupakan alternatif secara sama. Artinya, pembayar kaffarah diperbolehkan memilih salah satu diantara tiga kewajiban dengan tanpa melalui seleksi keberurutan. Dan mengenai kewajiban kaffarah, apakah ia bersifat mutakarrir (berulang-ulang) sesuai dengan jumlah pelanggaran yang dilakukan, ataukah cukup sekali saja? Mayoritas ulama berpendapat, ia bersifat mutakarrir. Artinya, setiap puasa yang ditinggalkan, dengan berbagai ketentuan sebagaimana di atas, mempunyai kemandiriannya (istiqlal) dalam kewajiban membayar kaffarah. Sementara menurut madzhab Hanafiyah, selama ia belum melaksanakan pembayaran kaffarah, maka satu kali saja telah mencukupi semuanya. Adapun jika telah membayar kaffarah kemudian ia mengulang kembali perbuatannya, maka ia berkewajiban membayarnya lagi. Ket.: Dalam memberikan makan kepada enam puluh orang miskin, setiap satu orang miskin mendapatkan setengah (½) shoo’ bahan makan pokok (beras untuk Indonesia) menurut mayoritas ulama’. ½ shoo’ = 2 mud. 1 mud = 675 gram atau 0.688 liter. Dan menurut Hanafiyah, pembayar kaffarah diperbolehkan mengganti bahan makan ini dengan nilai tukarnya. Sekian, wallaahua’lam. Abdul Ghofur Maimoen