Shalat Iedul Fitri di Lapangan

Assalamu’alaikum wr. wb. terima kasih atas jawabannya tentang qunut yang dapat membantu saya menambah pengetahuan, dan pada saat ini saya ingin bertanya keraguan yang ada pada diri saya:

1. saya waktu mendengarkan berita bahwa pada satu syawal / hari raya jatuh pada tanngal 5 desember. yang ingin saya tanyakan :

a. syarat – syarat mengadakan shalat hari raya idul fitri dan apakah hukum mengadakan perpisahan antara masjid ( mengadakan di tempat yang lain ) ?

b. kalau saya mengikuti dari majlis tarjih muhammadiyah dan saya sebagai orang muhammadiyah, apakah boleh saya berbuka pada tanggal 5 desember sedangkan shalat hari rayanya pada tanggal 6 desember, tolong berikan penjelasannya ?

Rakib Rahatullah

—– Jawab —–

1. Memang begitu lah sebaiknya. Bila seseorang berkeyakinan munculnya hilal, entah dengan ijtihad dia atau melihat hilal tapi sendirian sehingga tidak bisa dijadikan pedoman masyarakat, amka ia wajib membatalkan puasa sendiri dan besoknya baru ikut shalat Ied bersama pemerintah. Bahkan sekelompok masyarakat yang berkeyakinan telah muncul tanggal 1 syawal, namun pemerintah belum memutuskannya, maka mereka sebaiknya juga melaksanakan shalat ied bersama pemerintah, meskipun telah berbuka pada hari sebelumnya. Dalam hadist A’isyah bahwa Rasulullah bersabda "Hari raya Idul Fitri kalian adalah dimana mereka semua ber-Idul Fitri, hari Idul Adha kalian adalah dimana mereka semua ber-Idul Adha dan hari Arafat kalian adalah dimana mereka semua melaksanakan wukuf" (H.R. Tirmidzi). Para Fuqaha juga sepakat mengatakan bahwa apabila ada satu atau dua orang melihat hilal, sehingga belum kuat untuk dijadikan landasan bagi pemerintah untuk menentukan hari ied, ia wajib berbuka puasa sendiri dan mengikuti shalat Ied besoknya bersama masyarakat. Namun bila ada satu kelompok masyarakat yang telah melaksanakan shalt Ied dan ia pun sah melaksanakan shalt Ied bersama mereka karena ia telah meyakini jatuh hari Ied pada hari tersebut.

(2) Para Ulama berbeda pendapat mengenai masalah ini. Menurut mayoritas ulama mengatakan bahwa selain di Makkah lebih utama di lapangan kecuali karena uzur seperti hujan misalnya. Menjalankan shalat ied tanpa udzur di masjid hukumnya makruh. Pendapat berlandaskan dalil riwayat Abu Hurairah "Kami kedatangan hujan sewaktu hari raya, lalu Rasulullah memerintahkan agar shalat dilaksanakan di masjid" (H.R. Abu Dawud). Adapun di Makkah maka disunnahkan di Masjidil Haram karena masjid tersebut lebih utama dari tempat manapun dan melihat ka’bah merupakan ibadah. Syafi’i mengatakan, shalat ied di masjid lebih utama, karena masjid lebih bersih dan lebih mulia dari lapangan, kecuali bila masjid sempit sehingga tidak menampung semua jamaah. Syafi’i melihat bahwa Rasulullah melaksanakan shalat ied di lapangan karena pada saat itu masjid semakin tidak menampung jamaah akibat banyaknya umat Islam di Madina.

Wassalam

Muhammad Niam