Sholat Bisa Bikin Kaya?

Ada kesalah pahaman yang terjadi di antara orang-orang Islam sendiri ketika mennerjemahkan Islam. Islam, dalam hal ini salat, diartikan secara material-total. Risalah utama yang dibawa Nabi Muhammad saw adalah “pembebasan manusia dari dunia kegelapan”. Lantas, pembebasan ini tidak serta merta kita pahami secara material-rasional. Sebab, jika kita memahami secara material-rasional, maka hasilnya akan menjadi lain. DALAM al-Qur’an dan Hadits, disebutkan bahwasanya salat adalah satu-satunya ibadah yang tidak bisa ditinggalkan oleh seorang muslim dalam keadaan apapun dan di manapun. Sekalipun ia tak bisa melakukan apa-apa, salat itu tetap wajib, sampai kapan pun, bahkan hingga sampai seseorang hanya mampu melakukannya dengan isyarat-isyarat saja. Kalau seorang muslim sudah tak mampu untuk melakukan walaupun dengan isyarat, atau ia sama sekali sudah tak bergerak, dan tak bernafas, alias sudah meninggal dunia, orang-orang muslim yang ada di sekitarnya, atau di sekelilingnya, mendapatkan kewajiban dari Allah swt untuk men-salati orang yang sudah meninggal itu. Diceritakan dalam al-Qur’an, nanti di hari kiamat ada orang Islam yang dimasukkan di neraka Saqar. Ditanya sama kawan-kawannya yang masuk surga, “Mأ¢ salaka-kum fأ® Saqar”, “apa yang menyebabkan kamu masuk di neraka Saqar?”; “Qalu lam naku minal-mushallin“, “Mereka menjawab, kami tidak pernah melakukan salat” (Surat al-Mudatstsir, ayat 42-43). Tapi, ada beberapa intelektual muslim yang menganggap bahwanya salat itu hanya sebuah wasilah, metode dan semacamnya. Para intelektual itu mengatakan bahwa “jika dulu salat adalah tiang agama, maka kini kita telah memasuki era modern dimana rasio menghegemoni, diganti menjadi akal adalah tiang agama.” Mengenai fenomena ini, saya pernah ditanya seorang kawan, di Mesir, “Mengapa sih para intelektual kok bisa berpendapat seperti itu?” *** Ada kesalah pahaman yang terjadi di antara orang-orang Islam sendiri ketika mennerjemahkan Islam. Islam, dalam hal ini salat, diartikan secara material-total. Kita sepertinya tak akan pernah sepakat dengan hal ini. Sebab memang, sebagaimana kita bisa dapatkan dalam al-Qur’an, al-Qur’an bermaksud membebaskan orang-orang dari segalanya, namun yang paling utama dalam pembebasan yang dilakukan al-Qur”an adalah “Yukhriju-hum Minadz-dzulumأ¢t ilan-nأ»r“, yakni “mengantarkan dan membebaskan kalian (manusia) dari zaman yang penuh kegelapan ke zaman yang terang benderang” [Lihat, misalnya, surat al-Baqarah 257]. Jadi, risalah utama yang dibawa Nabi Muhammad saw adalah ini. Lantas, pembebasan ini tidak serta merta kita pahami secara material-rasional. Sebab, jika kita memahami secara material-rasional, maka hasilnya akan menjadi lain. Apa yang dimaksud dengan “kegelapan” pada ayat di atas, tentu bukan kegelapan dalam arti material; gelap tanpa lampu nan sunyi, remang-remang, tidak jelas mana pohon dan mana batu. Bukan itu. Demikian pula dengan makna “zaman yang penuh dengan cahaya”. Kalimat tersebut tidak bisa diartikan dengan kemajuan material yang gemerlap kelap-kelip gemerlapnya lampu-lampu di berbagai kota sekarang ini. Gemerlapnya kota Semarang, Solo, dan lain sebagainya, itu hanya gemerlap material. Kalau kegelapan dan kegemerlapan yang dimaksud oleh al-Quran, atau yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw hanya bermakna material, maka hal tersebut tidak ada bedanya dengan “tukang ojek” atau sopir taksi. Tukang ojek yang ada di Indonesia, sebagaimana kita ketahui, menghantarkan kita dari tempat yang gelap—bisa pojokan jalan, ujung gang, terminal, dan lain sebagainya—, menuju rumah kita yang terang dengan lampu-lampu modern. Lalu, bagaimana gelap dan terang yang dimaksud dalam al-Qur’an? *** Tugas yang ada, yang diemban Nabi Muhammad saw, jauh lebih besar dari itu semua. Zaman yang terang benderang secara material tentu tidak menjamin adanya ketenangan batin dan nurani manusia. Demikian pula halnya dengan kegelapan material juga tidak menjamin ketenangan batin dan nurani. Bahkan kebanyakan maksiat justru dilakukan di kegelapan dan keremangan. Gelap atau terang secara material, atau nilai materialisme itu sendiri, sangat tidak menjamin seseorang berlaku baik. Itu sama artinya jika kita menterjemahkan salat, dan Islam, secara material. *** Umat Islam, di kebanyakan negeri berkembang, rata-rata memiliki mental sebagai “orang yang baru saja merdeka”. Sehingga, sangat wajar jika umat Islam silau dengan kemewahan material yang ada di negeri maju. Akhirnya, harus kita akui bahwa diri kita memang sering terjebak oleh materialisme. Ketika kita menganggap bahwa kemerdekaan materialisme adalah segala-galanya, maka di situlah kita telah lupa diri bahwa ada “hal lain” yang tidak tersentuh dan tidak ada dalam dunia materialisme. “Hal lain” itu tidak lain kecuali Allah!!! Semua ini kalau kembali kepada Allah pasti selesai. Dan, untuk menuju ‘hal lain’ itu, hanya ditempuh melalui interaksi-interaksi spiritual yang tak terjangkau oleh akal. *** Sebenarnya, yang menjebak kita adalah sesuatu yang kasat mata. Kita terlalu cuek, sehingga apa yang tidak kasat mata dianggap liar. Padahal, sesuatu yang tidak kasat mata itu belum tentu tidak ada. Ketika Rabiah al-Adawiyah –tokoh sufi asal Basrah, kota di Irak— sedang stress berat, pembantu kerajaan berkata kepadanya, “Berzikirlah kepada Allah”. Sontak Rabiah bilang, “Allah? Mana Allah (tunjukkan kepadaku)?”. Pembantu itu tentu terdiam. Rabiah saat itu belum sadar kalau dirinya keliru, dengan mengharapkan kehadiran Allah swt hanya dengan bermodalkan panca indera. Sesuatu yang tidak kasat mata itu bisa diraih dengan mengoptimalkan kerjasama antara akal dengan indera yang lain. Angin, mimpi, adalah sesuatu yang tidak bisa dilihat. Atau setrum listrik. Atau, rasa cinta kita kepada seseorang yang terkadang membuat kita jadi seperti orang gila. Tidak tahu mana dan bagaimana cinta itu, tidak tahu pesona apa yang ada pada dirinya, yang jelas kita merindukan dirinya, dan selalu ingin bertemu. Ini baru berbicara soal angin, mimpi, cinta, dan kita belum kalau dalam konteks “hal lain” tadi. Kalau saja kita diberi kemampuan oleh Allah untuk melihat secara kasat mata bagaimana langit, bumi, gunung-gunung bertasbih kepada Allah swt. “Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun”. (QS 17:44). Apakah kita hendak mengatakan bahwa “tasbih”-nya langit, bumi dan gunung itu sebagai sesuatu yang “majazi” alias metaforis belaka? Kita, manusia, mengatakan demikian, tidak lain, karena kita –dengan akal kita—tidak mampu menggapai “hal lain” itu. Kita juga tidak mampu menggapai hal-hal yg Dia kehendaki, yang kadang-kadang berupa hidayah, petunjuk, dan lain sebagainya. Sehingga, hanya kata “majazi” atau metaforisme sajalah yang menutup indera nurani kita, setelah mata, telinga dan hidung kita tidak mampu untuk menggapainya. Mari kita perhatikan dengan ayat beriku ini: “Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal ia berjalan sebagaimana jalannya awan. (Begitulah) perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh tiap-tiap sesuatu; sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (QS. 27:88) *** Sangat berat memang untuk meyakini sesuatu dimana diri kita sendiri masih dalam keadaan ragu-ragu. Bahkan ketika keyakinan itu ada, kita senantiasa berharap agar dapat mengokohkan keyakinan itu dalam petunjuk Allah swt yang kasat mata. Bahkan hal ini pernah terpikirkan dalam benak Nabi Ibrahim as, yang akhirnya, walaupun beliau sendiri karena sudah sangat dekat dengan “hal lain” itu, beliau masih saja bertanya ; “Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata: “Ya Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang-orang mati.” “Allah berfirman: “Belum yakinkah kamu?” Ibrahim menjawab: “Aku telah meyakinkannya, akan tetapi agar hatiku tetap mantap (dengan imanku)”. Allah berfirman: (Kalau demikian) ambillah empat ekor burung, lalu cincanglah semuanya olehmu.” (Allah berfirman): “Lalu letakkan diatas tiap-tiap satu bukit satu bagian dari bagian-bagian itu, kemudian panggillah mereka, niscaya mereka datang kepadamu dengan segera.” Dan ketahuilah bahwa Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (QS 2:260) *** Mari kita renungkan, kalau manusia sekaliber Nabi Ibrahim as demikian, maka, tidak perlu heran jika kita melihat orang-orang Islam, khususnya para intelektualnya, dan juga orang-orang non-muslim, tetap sulit menerima ajaran agama Islam secara spiritual. Ini dikarenakan mereka mengharapkan material, suatu hal yang dalam ajaran Islam teramat sepele. Wallahu a”lam bis-showأ¢b.