Sihir

Tanya:

Saya ingin bertanya mengenai dunia supranatural menurut pandangan Islam:

  1. Bagaimana hukumnya percaya kepada dukun dengan meminta pertolongan kepadanya. Sebagai contoh untuk menemukan barang yang hilang disertai dengan syarat yang harus dilakukan?
  2. Apa yang harus dilakukan ketika seseorang diketahui terkena sihir? Apakah meminta tolong kepada dukun diperbolehkan?
  3. Bagaimana hukumnya berobat kepada kiai yang memiliki keahlian supranatural?

Dimas Ardiyanto – Yogyakarta

Jawab:

Pekerjaan mencoba mengetahui atau membuktikan sesuatu dengan jalan supranatural, seperti yang saudara contohkan, dalam istilah arab disebut "'Arrafah". Menurut Imam Nawawi ini termasuk sihir (Syarh Muslim Jilid 5; Hal 22). Mengetahui sesuatu yang hilang atau dicuri merupakan salah satu ilmu gaib. Ilmu gaib hanya diketahui oleh Allah dan diberikannya kepada orang-orang tertentu yang soleh. Seandainya ada orang soleh yang kebetulan diberi keampuhan oleh Allah untuk mengetahui sesuatu yang gaib, tentu orang tersebut tidak akan memamerkan kemampuanya kepada halayak. Kita tidak boleh mempercayainya, apalagi mempercayai bahwa dia mempunyai kemampuan mengatahui ilmu gaib, itu bisa menjerumuskan kepada kekafiran. Dalam sebuah hadis Rasulullah bersabda: "Barang siapa mendatangi tukang tebak atau dukun, lalu ia bertanya kepadanya tentang sesuatu dan membenarkannya, maka salatnya tidak diterima oleh Allah selama 40 hari" (H.R. Muslim). Dalam riwayat lain "maka ia telah mengkafiri apa yang diturunkan kepada Muhammad" (H.R. Ashabussunan).

Bila seseorang terkena sihir, sebaiknya tidak meminta tolong kepada dukun, karena si dukun pun tidak mustahil akan melakukan sihir yang juga dilarang agama. Apabila ada seorang kyai atau santri yang tahu bagaimana mengobati sihir dengan cara islami, akan lebih baik untuk meminta tolong kepada mereka.

Dalam agama Islam mengobati dengan cara supranatural adalah dengan do'a dan "ruqa". Ruqa adalah ucapan-ucapan yang kalau diucapkan bisa menolak bahaya, atau menyembuhkan penyakit. Tradisi ruqa dilakukan juga oleh orang Arab sebelum datangnya Islam, kemudian tradisi tersebut diluruskan dengan keyakinan bahwa ungkapan-ungkapan tersebut tidak akan bisa bermanfaat, kecuali atas kehendak Allah. Dalam sebuah hadis Rasulullah bersabda:
"Perlihatkan ruqa kalian, ruqa yang tidak mengandung sirik (menyekutukan Allah) tidaklah dilarang" (H.R. Muslim).

Ibnu Hajar dalam Fathul Bari menyatakan bahwa para ulama sepakat bahwa ruqa diperbolehkan dengan tiga syarat, yaitu:

  1. Apabila menggunakan firman-firman Allah, nama-nama Allah atau sifat-sifat Allah.
  2. Apabila menggunakan bahasa Arab, atau bahasa yang diketahui artinya dan tidak mengandung kata-kata sirik.
  3. Harus diyakini bahwa ruqa tersebut tidak bermanfaat kecuali atas kehendak Allah.

Semoga membantu.

(Dari fatwa Syaikh "Athiyah Shaqr, tahun 1997).

Muhammad Niam