Suka Sesama Jenis

Tanya:
Nama saya Deny, berdomisili di Jakarta. Saya seorang yang menyukai sesama jenis, saya tidak tahu mengapa saya begini. Saya pernah membaca di Hidayatullah bahwa keadaan ini terpengaruh oleh
lingkungan namun kondisi saya ini saya rasakan sejak kecil. Saya merasa jiwa/ruh saya terjebak dalam tubuh saya. Keadaan saya ini membuat saya tertekan sekali.

Bisakah saya menjadi seorang yang normal dan apa yang harus saya lakukan?

Sekian, dan terima kasih

Deny

Jawab:
Saudara Deny yang baik

Memang ada benarnya kondisi lingkungan mempengaruhi kejiwaan Anda selain itu pengalaman keluarga juga bisa mempengaruhi, itu semua termasuk pengaruh ekstern dalam psikis hingga masuk dalam alam bawah sadar Anda. Begitu juga kelainan itu disebabkan oleh unsur biologis yang dibawa semenjak masa pertumbuhan di mana dalam perkembangan Anda, hormon testoteron atau hormon kejantanan tidak berkembang sesuai jenis kelamin Anda. (Mungkin masalah ini Anda bisa konsultasikan pada psikiater atau klinik seksologi agar diagnosis penyebabnya bisa diketahui lebih detail.)

Dan secara manusiawi bahwa hal tersebut memang membuat kita merasa bersalah dan tertekan sebab sudah menjadi sunatullah bahwa makhluk hidup yang normal dilahirkan dengan identitas secara jelas dan berpasang-pasangan: ada laki-laki ada perempuan. Namun Anda tak perlu khawatir dengan masalah Anda, bukankah kita percaya bahwa Allah selalu memberi jalan keluar menuju jalan yang normal. Dan perasaan bersalah belum tentu berdosa.

Sebetulnya banyak terapi dari para ahli psikiatri namun di sini kita coba melewati terapi spiritual hingga Anda bisa lepas dari masalah tersebut dengan kehendak Allah:

Pertama: Anda mencoba memikirkan kembali ciptaan Allah yang berpasang-pasangan, demikian juga fungsinya seperti sepasang burung merpati (coba Anda renungi kehidupan sepasang makhluk tersebut). Sehingga kita tidak terjebak pada naluri rekreatif atau istilah agamanya naluri syahwati yang cenderung pada rasa kenikmatan fisis yang kemudian menempatkan posisi psikis Anda pada kecenderungan kejiwaan umum maupun hanya semacam romantisme namun malah melenceng dari kejiwaan yang normal. Akan tapi kita mencoba membina naluri prokreatif, yaitu naluri yang menekankan pada sebuah hasil. Hingga naluri rekreatif dan prokreatif bisa seimbang. (Dan iringi perenungan Anda dengan lafadz: "Subhanallah" yang memberikan "Maha suci Allah" yang telah menciptakan itu semua dengan valid dan seksama)

Kedua: Perjelas penampilan maskulin Anda, bahkan usahakan bahwa penampilan Anda seakan bisa merebut perhatian lawan jenis Anda. Namun tetap dalam batas kesopanan Anda sebagai laki-laki.

Ketiga: Bergaullah Anda dengan pergaulan yang normal, yaitu dengan berfikir positif terhadap sesama, baik berjenis kelamin berbeda. Tak usah terlalu melihat, memperhatikan gejala negatif terhadap wanita, dan hindari pada penilaian terhadap perilaku wanita yang tidak Anda sukai.

Keempat : Bila usia Anda sekiranya sudah mencukupi carilah pasangan wanita yang sekiranya bisa Anda ajak jalan seiring bersama, berdialog mengenai berbagai kehidupan, dengan cara kawin atau bertunangan. Toh, banyak cara menuju cinta, ada yang mencari sendiri, ada yang dijodohkan atau ada yang dicintai duluan. Dan Anda bisa berkonsultasi pada orang tua atau ustadz/kiai mengenai masalah perjodohan. (Untuk langkah terapi yang keempat inilah sebetulnya teori yang selalu ditonjolkan oleh semua agama baik Islam maupun kristen)

Begitulah jawaban saya, insya Allah bisa meringankan beban Anda.

Didik L. Hariri
Tutor Bidang Studi Psikologi
Dewan Asaatidz Pesantren Virtual